Tautan-tautan Akses

Pendeta Perancis yang Lecehkan Pramuka Dihukum 5 Tahun Penjara


Pastur Perancis, Bernard Preynat yang dituduh melakukan pelecehan terhadap belasan anak-anak (Courtesy: Facebook).

Seorang pendeta Perancis yang mengaku melakukan pelecehan seksual terhadap sedikitnya 75 pramuka selama beberapa dasawarsa ini, hari Senin dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Ini adalah kasus terburuk pelecehan oleh seorang rohaniwan Perancis yang diajukan ke muka hukum.

Pengadilan di Lyon menjatuhkan vonis terhadap Bernard Preynat yang berusia 74 tahun itu dalam siding tertutup, karena merebaknya virus corona yang menghentikan sebagian besar aktivitas di Perancis.

Kasus Preynart memaksa untuk pertama kalinya pelecehan seksual di kalangan Gereja Katolik di Perancis dianggap serius. Preynat memberi kesaksian bahwa banyak cardinal dan pejabat-pejabat senior gereja lainnya mengetahui perilaku menyimpangnya sejak tahun 1960-an, tetapi status kependetaannya tidak dicabut hingga tahun lalu.

Para korban Preynat, kebanyakan pramuka, menyambut baik vonis terhadapnya karena melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak lelaki di bawah umur. Preynet sendiri adalah seorang pemimpin pramuka.

“Ini benar-benar melegakan,” kata Pierre Emmanuel Germain-Thill, yang bersaksi bahwa pelecehan Preynat telah menghancurkan hidupnya. “Karena ia seusia itu, bagi saya ini adalah vonis yang tepat untuknya. Para korban ingin memulai lembaran baru ,” lanjutnya.

Preynat diancam dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara, dan jaksa penuntut menginginkan hukuman sedikitnya delapan tahun. Belum jelas benar apakah kedua pihak akan mengajukan banding.

Preynat hadir untuk mendengar vonis itu, tetapi ia tidak berbicara dengan salah seorang korbannya.

“Ia bereaksi seperti orang yang telah mengakui kesalahannya,” kata pengacaranya Frederic Doyer, kepada wartawan di luar gedung pengadilan.

Selama persidangan, Preynat menyatakan ia mulai tertarik pada anak-anak lelaki muda sewaktu ia berusia 14 atau 15 tahun, dan ia membahas hal itu dengan uskupnya ketika itu. Tetapi ia kemudian tetap ditahbiskan sebagai pendeta. Ia bersaksi bahwa sewaktu bekerja sebagai imam di pramuka, ia melecehkan hingga dua anak lelaki “hampir setiap pekan” mulai dari tahun 1970 hingga 1990 dan sebanyak empat sampai lima anak per minggu sewaktu ia memimpin perkemahan satu minggu. Ia mengatakan bahwa para kardinal Lyon penggantinya memintanya untuk menghentikan hal tersebut, tetapi tidak melaporkannya kepada polisi. [uh/ab]

Lihat komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG