Tautan-tautan Akses

AS

Penasihat Keamanan Nasional AS Kecam Kurangnya Intervensi dalam Kematian George Floyd


Penasihat Keamanan Nasional AS, Robert O'Brien

Penasihat Keamanan Nasional Amerika menyebutnya ‘kebiadaban mutlak’ bahwa tiga orang polisi menonton seorang polisi lainnya menindih leher seorang tersangka dengan lututnya ke jalan sementara tersangka itu mengatakan dia tidak bisa bernapas.

Penasihat Keamanan Nasional Amerika Robert O'Brien mengatakan hari Minggu (31/5) bahwa kejadian itu merupakan”kebiadaban mutlak” bahwa tiga anggota polisi di Minneapolis, Minnesota, menyaksikan tanpa campur tangan pekan lalu ketika seorang polisi lainnya dengan lututnya menindih seorang pria kulit hitam di lehernya ketika ia dalam posisi tengkurap, sementara orang itu merintih bahwa dia tidak bisa bernapas.

George Floyd, seorang laki-laki kulit hitam Amerika berusia 46 tahun yang diborgol dan ditengkurapkan di jalan setelah dia dicurigai menggunakan uang kertas palsu $20, tewas dalam insiden itu Senin (25/5) lalu. Derek Chauvin, polisi kulit putih yang menindih lehernya dengan lutut selama beberapa menit, didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga pada hari Jumat (29/5).

Video insiden itu disiarkan secara luas melalui media sosial dan berbagai jaringan siaran berita, sehingga memicu protes lima hari di puluhan kota di Amerika. Demonstrasi sering meletus dalam kekacauan, dan pengunjuk rasa membakar mobil polisi dan gedung-gedung pemerintah dan bentrok dengan pihak berwenang dalam kerusuhan. Para penjarah telah mengobrak-abrik toko-toko dan menjarah barang-barang konsumen yang mahal.

Pasukan garda nasional dikerahkan pasca kerusuhan dan penjarahan di Minneapolis, Minnesota (30/5).
Pasukan garda nasional dikerahkan pasca kerusuhan dan penjarahan di Minneapolis, Minnesota (30/5).

Chauvin dan tiga koleganya yang ketika itu berada lokasi kejadian semuanya dipecat dari dinas kepolisian kota Minneapolis. Tiga polisi yang menyaksikan insiden itu sedang diperiksa, tetapi belum diketahui adanya tuntutan yang dikenakan terhadap mereka.

“Apa yang mereka pikirkan?” O'Brien bertanya dalam acara jaringan televisi ABC News “This Week.” O'Brien mengatakan dia tidak berprasangka terhadap tiga mantan polisi itu, tetapi mengatakan, “Saya tidak bisa membayangkan jika mereka sampai tidak dikenai tuntutan.” O'Brien mengatakan pemerintah Amerika berduka atas kematian Floyd dan berdoa untuk keluarga Floyd.

“Itu seharusnya tidak pernah terjadi di Amerika,” katanya.

Dalam sebuah wawancara di CNN, O'Brien mempertanyakan mengapa Chauvin, yang disebutnya sebagai “polisi kotor,” masih berada di dinas kepolisian Minneapolis pada saat terjadi insiden Floyd setelah beberapa pengaduan diajukan terhadapnya dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami cinta penegakan hukum” di Amerika, kata O'Brien. Dia menolak anggapan bahwa ada “rasisme sistemik” dalam angkatan kepolisian Amerika, sementara mengakui bahwa “ada sebagian polisi jahat yang perlu dipecat. Ada beberapa apel buruk yang menyebabkan nama buruk penegak hukum. Saya kira mereka itu minoritas.”

Sejumlah pihak berwenang Amerika menyalahkan provokator sayap kiri dan kanan atas kekerasan di kota-kota dari pantai Barat hingga pantai Timur Amerika, sebagai yang terburuk di Amerika sejak protes yang berlangsung lama terhadap keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam pada 1960-an.

O'Brien menyebutkan empat negara – China, Rusia, Zimbabwe, dan Iran – yang telah melemparkan sebutan yang tidak baik terhadap Amerika karena kematian Floyd itu dan demonstrasi-demonstarsi yang diwarnai kekerasan yang terjadi kemudian – semuanya terjadi di tengah-tengah pandemi virus corona dan gejolak ekonomi yang diakibatkannya.

Lebih dari 40 juta pekerja, atau sekitar seperempat angkatan kerja Amerika mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Tetapi O'Brien mengatakan Amerika, di mana protes damai tetap menjadi fondasi dari prinsip-prinsip demokrasi, tidak seperti negara-negara otoriter di mana polisi sering menangkap bahkan demonstran anti pemerintah tanpa kekerasan.

“Itulah yang membuat Amerika berbeda dari negara-negara lain,” tambahnya.

Sementara itu, dalam pidatonya, Gubernur Minnesota, Tim Walz, mengakui adanya “kesedihan dan rasa sakit berpuluh tahun” yang dirasakan oleh komunitas kulit hitam, tetapi dia menyerukan agar penjarahan dan kekerasan dihentikan.

“Kita tidak boleh membiarkannya karena hal itu membuat kita tidak dapat berfungsi sebagai masyarakat, dan saya menolak untuk melupakan perhatian kita pada noda yang perlu kita hilangkan, yakni apa yang terjadi dengan rasisme yang melembaga secara fundamental yang memungkinkan seorang laki-laki ditekan lehernya ke jalan sampai meninggal pada siang bolong," ujarnya.

Presiden Amerika Donald Trump telah meminta agar penyelidikan atas kematian Floyd dipercepat.

“Kami mendukung pengunjuk rasa damai dan mendukung hak-hak pengunjuk rasa damai. Kami tidak bisa membiarkan situasi seperti di Minneapolis memburuk menjadi kekacauan dan anarki tanpa hukum,” tandas Trump. [lt/ii]

Lihat komentar (2)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG