Tautan-tautan Akses

Pemerintah Lebanon Langsungkan Pertemuan Darurat Pasca Demo Besar-besaran


Polisi anti huru hara mendorong kembali demonstran anti-pemerintah dari alun-alun, di pusat kota Beirut, Lebanon, Jumat pagi, 12 Juni 2020. (AP Foto/Hussein Malla)

Perdana menteri Lebanon, Jumat (12/6), melangsungkan pertemuan darurat kabinet beberapa jam setelah para demonstran menutup banyak jalan di berbagai penjuru negara itu dengan ban-ban mobil yang dibakar. Para demonstran menggelar protes menentang anjloknya nilai mata uang negara itu.

Bentrokan dengan pasukan keamanan terjadi di beberapa lokasi, Kamis malam (11/6) , sewaktu orang-orang secara spontan turun ke jalan-jalan, setelah nilai mata uang Lebanon, pound, merosot ke rekor terendah.

Pada hari Kamis, satu dolar diperdagangkan pada harga lebih dari 6.000 pound. Padahal, di pasar gelap, dalam beberapa hari terakhir, satu dolar bernilai sekitar 4.000 pound. Situasi ini sangat memprihatinkan mengingat hampir selama 30 tahun nilai tukar pound jauh lebih baik, yakni 1.500 pound per satu dolar.

Di tengah kota Beirut, polisi dan tentara berusaha mengendalikan demonstran yang marah dengan gas air mata, setelah sejumlah pemrotes melempari mereka dengan batu. Sejumlah demonstran terlihat membakar sebuah bank swasta sementara sejumlah lainnya merusak pintu-pintu kaca bank-bank lainnya dengan batu.

Pengunjuk rasa anti-pemerintah meneriakkan slogan-slogan saat memblokir jalan raya dan membakar ban di pusat kota Beirut, Lebanon, 11 Juni 2020.
Pengunjuk rasa anti-pemerintah meneriakkan slogan-slogan saat memblokir jalan raya dan membakar ban di pusat kota Beirut, Lebanon, 11 Juni 2020.


Pasukan keamanan berhasil kembali membuka jalan-jalan pada Jumat pagi (12/6), seiring meredanya aksi-aksi protes. Perdana Menteri Hassan Diab membatalkan kegiatan-kegiatannya yang dijadwalkan pada hari Jumat dan mengadakan pertemuan kabinet darurat untuk membahas krisis tersebut.

Riad Salameh, gubernur Bank Sentral Lebanon, yang dituding Diab keliru menangani situasi, turut serta dalam pertemuan tersebut.

Berlangsungnya kembali demonstrasi besar-besaran di tengah-tengah munculnya seruan agar Diab mengundurkan diri merupakan pukulan besar bagi perdana menteri yang baru menjabat Desember lalu setelah pendahulunya, Saad Hariri, mundur tahun lalu menyusul protes-protes berskala nasional. Pemerintah Diab yang didukung kelompok Hezbollah dan sekutu-sekutunya telah diperlemah oleh krisis tersebut. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG