Tautan-tautan Akses

Hasil Studi: Pelacak Kebugaran Kurang Handal dalam Mengukur Jumlah Kalori yang Dibakar


Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan pelacak kebugaran kurang handal dalam menghitung jumlah kalori yang telah anda bakar (Stanford)

Data yang diperagakan oleh alat pelacak kebugaran untuk masyarakat umum terkait kalori yang telah kita bakar tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan tingkat asupan kalori yang kita butuhkan sebagai penggantinya.

Mungkin bukan ide yang baik untuk memutuskan apa yang akan kita makan berdasarkan data jumlah kalori yang telah kita bakar sebagaimana ditampilkan oleh pelacak kebugaran, menurut sebuah studi baru.

Para peneliti di Stanford University di California, yang menguji beberapa pelacak kebugaran yang populer pada 60 relawan, mengatakan pelacak kebugaran cocok untuk mengukur detak jantung dan menghitung langkah kaki, namun kurang handal dalam mengukur energi yang telah kita gunakan.

Para relawan, yang terdiri dari 29 pria dan 31 wanita, berpartisipasi dalam beragam aktivitas fisik, termasuk berjalan kaki atau berlari dengan mengunakan treadmill atau sepeda senam. Detak jantung mereka dihitung dengan menggunakan elektrokardiograf yang biasa digunakan di bidang kedokteran. Jumlah energi yang kita gunakan ditentukan dengan mengukur level oksigen dan karbon dioksida pada nafas dari relawan-relawan tersebut.

Enam dari tujuh alat yang diuji, termasuk Apple Watch, Basis Peak, Fitbit Surge, Microsoft Band, Mio Alpha 2, PulseOn dan Samsung Gear S2 memberikan hasil yang akurat dalam mengukur detak jantung, dengan deviasi dalam batas 5 persen akurasi elektrokardiograf.

Namun, ketika digunakan untuk mengukur kalori yang terbakar, mereka tidak memberikan hasil yang akurat, dimana hasil terbaik dari pelacak kebugaran tersebut meleset sebesar 27 persen. Satu di antaranya malah meleset sejauh 93 persen.

“Orang membuat keputusan dalam hidup mereka berdasarkan data yang diberikan oleh semua alat-alat ini,” ujar Euan Ashley, seorang profesor dibidang kedokteran jantung, genetika, dan ilmu data biomedis di Stanford, yang menambahkan bahwa standar alat yang diproduksi untuk masyarakat umum tidak sama dengan peralatan yang digunakan di bidang kedokteran.

Ashley terkejut dengan hasilnya.

“Hasil pengukuran detak jantung jauh lebih baik dari yang kami harapkan,” ujarnya. “Namun pengukuran energi yang digunakan jauh meleset. Besarnya tingkat deviasi hasil pengukuran mengejutkan saya.”

Temuan tersebt dipublikasikan pada tanggal 24 Mei di the Journal of Personalized Medicine. [ww]

XS
SM
MD
LG