Tautan-tautan Akses

Pejabat: Pemimpin Milisi yang Dikenai Sanksi AS Tewas di Libya Timur 


Seorang anggota pasukan keamanan Libya menunjukkan lokasi makam masal di Kota Tarhouna, Libya, 11 Juni 2020. Mohamed al-Kani, pemimpin milisi yang dituduh bertanggung jawab atas pembunuhan massal, tewas dalam baku tembak, Selasa, 27 Juli 2021.

Para pejabat mengatakan seorang pemimpin milisi Libya yang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat (AS) karena diduga membunuh warga sipil, Selasa (27/7), tewas dalam baku tembak dengan pasukan yang berusaha menangkapnya.

Para pejabat Libya mengatakan pasukan keamanan menggerebek rumah Mohamed al-Kani di Benghazi untuk melaksanakan surat perintah penangkapan atas tuduhan membunuh warga sipil. Pejabat Libya dan AS menuduh al-Kani bertanggung jawab atas kematian orang-orang yang ditemukan di kuburan massal tahun lalu di kota barat Tarhuna.

Tarhuna, sebuah kota strategis sekitar 65 kilometer di sebelah tenggara Ibu Kota Libya, Tripoli, berada di bawah kendali milisi al-Kaniyat, yang terkenal karena taktik brutalnya. Dipimpin oleh al-Kani, milisi itu awalnya bersumpah setia kepada bekas pemerintah di Tripoli. Namun, mereka beralih pihak dalam perang saudara itu dan bersekutu dengan pasukan komandan militer Khalifa Hifter yang berbasis di Libya timur pada 2019.

Para pejabat mengatakan al-Kani tewas dalam baku tembak itu bersama salah satu rekannya. Pejabat yang tidak mau disebut namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media mengatakan orang ketiga juga ditangkap.

Mohamed al-Tarhuni, juru bicara milisi itu, membenarkan kematian al-Kani.

Kuburan massal di Tarhuna ditemukan tahun lalu setelah penarikan mundur milisi itu menyusul ambruknya serangan Hifter selama 14 bulan untuk merebut kendali Tripoli dari sejumlah milisi yang bersekutu dengan bekas pemerintah yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada al-Kani dan milisinya pada November setelah mendapati mereka bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil. Departemen Keuangan juga menuduh milisi telah melakukan tindakan penyiksaan, penghilangan paksa dan pengungsian warga sipil.

Fatou Bensouda, mantan kepala jaksa Pengadilan Kejahatan Internasional, kepada Dewan Keamanan PBB pada November mengatakan kantornya bekerja sama dengan pemerintah Tripoli "terkait kuburan massal ini," di mana banyak mayat ditemukan dengan mata tertutup dan tangan terikat.

Libya telah berada dalam kekacauan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menggulingkan diktator lama Moammar Gadhafi, yang kemudian terbunuh. Sejak itu Libya terpecah antara pemerintah yang bersaing di timur dan barat, masing-masing didukung oleh kelompok-kelompok bersenjata dan pemerintah asing.

Serangan Hifter 2019, didukung oleh Mesir, Uni Emirat Arab dan Rusia, gagal pada Juni 2020 ketika milisi yang mendukung pemerintah Tripoli, dengan dukungan dari Turki dan Qatar, menang. Gencatan senjata yang ditengahi PBB yang dicapai pada bulan Oktober telah menghentikan permusuhan.

Libya yang kaya minyak sekarang diperintah oleh pemerintahan transisi yang bertugas mempersiapkan negara itu untuk pemilihan umum pada bulan Desember. [my/ft]

XS
SM
MD
LG