Tautan-tautan Akses

Pejabat FAA Bela Proses Sertifikasi 'Kelaikan Terbang' Pesawat  


Daniel Elwell, pelaksana tugas ketua Otoritas Penerbangan Sipil Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA), memberikan kesaksian mengenai status pesawat Boeing model 737 MAX di hadapan Komite Perhubungan DPR di Capitol Hill, Washington, 15 Mei 2019.

Pelaksana tugas ketua Otoritas Penerbangan Sipil Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) membela proses sertifikasi keselamatan pesawat terbang oleh lembaga yang dipimpinnya setelah terjadi dua kecelakaan maut dengan pesawat Boeing 737 Max.

Daniel Elwell menyebut sistem tersebut sudah bagus. Dalam sistem tersebut, para karyawan pabrik pesawat yang sudah mendapat persetujuan dari FAA, memeriksa kelaikan pesawat-pesawat yang mereka buat.

Tetapi anggota Demokrat di Komite Transportasi DPR yang skeptis mempertanyakan kredibilitas badan federal itu.

Mereka memberitahu Elwell bahwa kedekatan antara Boeing dan FAA bisa merupakan salah satu sebab FAA lambat dalam memerintahkan larangan terbang bagi pesawat Boeing itu.

“Persepsi publik adalah bahwa Anda bersekongkol dengan pihak yang seharusnya Anda awasi,” demikian kata wakil dari Nevada, Dina Titus. Sementara Ketua komite Peter De Fazio ingin tahu bagaimana sampai ada satu titik kegagalan dalam sebuah pesawat modern?

Pesawat Boeing 737 Max milik Lion Air jatuh di Laut Jawa pada Oktober tahun lau dan sebuah pesawat 737 lainnya jatuh di Ethiopia pada Maret. Jumlah total korban tewas dalam kedua kecelakaan itu adalah 346 jiwa.

Kedua pesawat dilengkapi sistem yang dirancang untuk mendorong hidung pesawat ke bawah guna mencegah mid-air stall, yaitu kondisi di mana sayap pesawat tak mampu bertahan mengangkat tubuh pesawat.

Kesalahan pembacaan sensor menyebabkan pesawat terdorong ke bawah sementara pilot berusaha memulihkan kendali

Para pilot tidak tahu bahwa pesawat dilengkapi sebuah sistem anti-stall dan panduan mereka tidak memuat informasi itu.

Elwell membela sistem sertifikasi FAA atas pesawat Boeing itu. Tetapi dia mengakui, sistemnya seharusnya dijelaskan secara lebih baik dalam panduan operasi dan terbang.

Dia juga menyalahkan Boeing karena tidak memberitahu perusahaan penerbangan dan FAA bahwa lampu yang seharusnya memperingatkan adanya kesalahan sensor itu tidak bekerja. Tetapi Elwell mengatakan, kesalahan pilot kemungkinan juga berperan dalam kecelakaan Boeing 737 Max 8 di Indonesia dan Ethiopia itu.

Kedua pesawat nahas tersebut dilengkapi dengan sistem yang dirancang untuk mendorong hidung pesawat ke bawah guna mencegah pesawat mengalami "stall" di udara. Pembacaan sensor yang salah, terus mendorong pesawat menukik sementara pilot berusaha memulihkan kendali. Namun, para pilot tidak mengetahui bahwa pesawat Boeing 737 Max 8 dilengkapi dengan sistem "anti-stall" dan buku manual-nya tidak memuat informasi yang jelas.

Departemen Kehakiman telah mulai sebuah penyelidikan tindak pidana terhadap Boeing, dan Kongres sedang mengkaji hubungan antara Boeing dan regulator federal.

Boeing merencanakan untuk mengajukan perubahan pada perangkat lunak 737 Max itu kepada FAA, yang akan menelitinya, melakukan penerbangan uji sebelum mengizinkan pesawat-pesawat 737 Max itu terbang lagi. Kemudian Boeing akan melatih kembali para pilot sebelum perusahaan penerbangan bisa mengoperasikan kembali pesawat-pesawat tersebut. [jm]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG