Tautan-tautan Akses

PBB: Meningkatnya Bencana Alam Telan Korban Jiwa, Bebani Ekonomi


Pemadam kebakaran berupaya memadamkan titik api dalam kebakaran yang dinamakan "Lake Fire" di pegunungan Hutan Nasional Angeles, kawasan utara Los Angeles, California, AS, 13 Agustus 2020.
Pemadam kebakaran berupaya memadamkan titik api dalam kebakaran yang dinamakan "Lake Fire" di pegunungan Hutan Nasional Angeles, kawasan utara Los Angeles, California, AS, 13 Agustus 2020.

Kondisi cuaca ekstrem telah meningkat secara drastis dalam 20 tahun belakangan, menelan banyak korban jiwa dan merugikan ekonomi, dan kemungkinan akan terus memperburuk situasi, kata PBB pada Senin (12/10).

Gelombang panas dan kekeringan akan menjadi ancaman terbesar dalam satu dekade mendatang, sementara suhu terus bertambah akibat gas-gas yang memerangkap panas, kata para pakar.

China (577) dan AS (467) mencatat bencana alam terbanyak dari 2000 hingga 2019, disusul India (321), Filipina (304) dan Indonesia (278), kata PBB dalam sebuah laporan yang dirilis sehari sebelum Hari Internasional bagi Pengurangan Risiko Bencana. Delapan dari 10 negara tertinggi ada di Asia.

Sekitar 7.348 bencana alam besar terjadi di seluruh dunia, menewaskan 1.23 juta, berdampak pada 4.2 milyar orang dan menyebabkan kerugian ekonomi 2.97 triliun dolar dalam periode dua dekade.

Kekeringan, banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan dan suhu ekstrem menyebabkan kerusakan besar.

"Kabar baiknya adalah lebih banyak nyawa telah diselamatkan, tapi kabar buruknya adalah lebih banyak orang terdampak oleh keadaan darurat iklim yang meluas," kata Mami Mizutori, Utusan Khusus Sekjen PBB urusan Pengurangan Risiko Bencana, dalam konferensi pers.

Dia menyerukan agar pemerintah-pemerintah berinvestasi pada sistem peringatan dini dan menerapkan strategi pengurangan risiko bencana. [vm/lt]

XS
SM
MD
LG