Tautan-tautan Akses

PBB: Ketidakamanan di Haiti Capai “Tingkat yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya”


Sejumlah warga yang terpaksa mengungsi dari rumahnya akibat perang antar kelompok bersenjata di Cite Soleil tampak beristirahat di area jalanan Delmas di Port-au-Prince, Haiti, pada 19 November 2022. (Foto: Reuters/Ralph Tedy)
Sejumlah warga yang terpaksa mengungsi dari rumahnya akibat perang antar kelompok bersenjata di Cite Soleil tampak beristirahat di area jalanan Delmas di Port-au-Prince, Haiti, pada 19 November 2022. (Foto: Reuters/Ralph Tedy)

Pejabat-pejabat senior PBB telah menyerukan masyarakat internasional untuk berkontribusi pada angkatan bersenjata khusus bagi Haiti untuk membantu memulihkan ketertiban umum di negara Karibia itu, di mana menurut mereka tingkat ketidakamanan di wilayah tersebut telah mencapai pada “tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Dalam presentasi di Dewan Keamanan PBB pada Rabu (21/12), Wakil Sekjen PBB Amina J. Mohammed mengatakan meskipun setahun lalu sempat ada harapan besar akan terjadinya reformasi politik, stabilitas dan pembangunan, hingga akhir 2022 ini “Haiti berada dalam krisis yang semakin dalam dan kerumitan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menimbulkan ancaman serius.”

Ia menambahkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata telah memperluas kegiatan kriminal mereka dengan menggunakan pembunuhan dan perkosaan massal untuk meneror dan menaklukkan masyarakat.

Kepala Kantor Terintegrasi PBB di Haiti, Helen La Lime, dalam laporannya kepada Dewan Keamanan PBB lewat video telekonferensi, menyajikan angka statistik yang suram. Pada bulan November saja tercatat ada 280 pembunuhan. Angka tersebut membuat jumlah insiden pembunuhan yang terjadi sepanjang tahun 2022 menjadi lebih dari 1.200 kasus – atau berarti dua kali lipat dari yang tercatat pada tahun 2021.

La Lime mengatakan Kepolisian Nasional Haiti “terus kekurangan sumber daya dan tidak cukup siap untuk mengatasi besarnya tugas yang akan datang.”

Mohammed menambahkan, kekerasan geng telah melumpuhkan negara itu; serta menghalangi kebebasan pergerakan orang, barang dan bantuan kemanusiaan.

“Hal ini memicu bangkitnya kembali penyakit kolera, meningkatkan kerawanan pangan ke tingkat yang tak terbayangkan, menelantarkan 155.000 orang dan mengganggu pendidikan ribuan anak,” ujarnya.

Wakil Sekjen PBB Amina J. Mohammed mengatakan sudah waktunya bagi masyarakat internasional untuk melangkah dan membantu Haiti, “mengubah krisis saat ini menjadi kesempatan bagi Haiti untuk bangkit kembali lebih kuat.”

“Saya mendesak setiap negara yang memiliki kapasitas untuk melakukan hal ini, untuk memberi pertimbangan serius pada permintaan pemerintah Haiti soal pembentukan angkatan bersenjata khusus internasional guna membantu memulihkan keamanan dan meringankan krisis kemanusiaan.”

Seruan serupa dikeluarkan Perdana Menteri Haiti Ariel Henry dan Dewan Menteri Haiti pada Oktober lalu, di mana kedua pihak menyerukan “pengerahan segera angkatan bersenjata khusus dalam jumlah yang khusus,” untuk menghentikan krisis yang sebagian disebabkan oleh “tindakan kriminal gerombolan bersenjata.” [em/rs]

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG