Tautan-tautan Akses

PBB Imbau 1 Miliar Dolar untuk Bantu Negara-Negara Termiskin Atasi Wabah Corona


Pembagian bantuan kemanusiaan saat pandemi Covid-19, di kamp Kakuma, Kenya, April 2020. (Photo: SamuelOtieno/Twitter@UNOCHA)

PBB meningkatkan permohonan bantuan untuk wabah virus corona hingga miliaran dolar, dengan menyatakan dana tersebut diperlukan untuk “melindungi jutaan jiwa” dan membantu menghentikan penyebaran wabah itu di “negara-negara yang rentan.”

Kantor Kemanusiaan PBB (UNOCHA), Kamis (7/5) menyatakan negara-negara termiskin di dunia diperkirakan tidak akan mengalami puncak COVID-19 hingga tiga sampai enam bulan lagi, tetapi daerah-daerah itu telah mengalami hilangnya lapangan kerja dan penghasilan, serta ketatnya pasokan makanan dan anak-anak tidak mendapat vaksinasi.

Imbauan sebelumnya meminta dana 2 miliar dolar, dan badan tersebut hari Kamis menyatakan memerlukan dana 6,7 miliar dolar.

"Jika kita tidak mendukung orang-orang termiskin, khususnya perempuan dewasa dan anak-anak serta kelompok-kelompok rentan lainnya, sewaktu mereka berjuang menghadapi pandemi dan dampak resesi global, kita semua akan menghadapi dampak limpahannya selama bertahun-tahun mendatang. Ini akan terbukti lebih menyakitkan, jauh lebih mahal, bagi semua orang,” kata Kepala Kantor Kemanusiaan PBB, Mark Lowcock.

Meningkatnya permintaan itu karena mencakup penambahan sembilan negara dalam daftar negara paling rentan: Benin, Djibouti, Liberia, Mozambik, Pakistan, Filipina, Sierra Leone, Togo dan Zimbabwe.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, Kamis (7/5) mengukuhkan kasus di benua itu telah melampaui 50 ribu, dengan kasus terbanyak di Afrika Selatan dan Mesir.

Sementara itu sejumlah negara mulai mencabut pembatasan lockdown yang ketat, yang diberlakukan untuk menghentikan penyebaran virus corona, sementara para pejabat menyatakan optimism bahwa situasi terburuk telah berlalu di negara mereka.

Para pakar kesehatan memperingatkan mengenai potensi kemunculan kembali wabah jika pembatasan-pembatasan itu dicabut terlalu cepat.

“Kita berisiko menghadapi kemunduran yang tidak akan bisa diterima,” kata Dr. Ian Lipkin dari Columbia University in New York.

Pemerintah negara-negara di Eropa dan negara-negara bagian di AS termasuk di antara yang sekarang ini mulai mengizinkan bisnis dibuka kembali, dan orang-orang mulai ke restoran dan toko-toko selama mereka mengikuti pedoman social distancing. Para pejabat kesehatan menyatakan khawatir masyarakat akan menganggap langkah tersebut sebagai pertanda ancaman virus telah berlalu.

"Jika kita melonggarkan langkah-langkah ini tanpa memberlakukan pengaman kesehatan masyarakat yang tepat, kita dapat perkirakan akan banyak lagi kasus, dan sayangnya, kematian,” kata Josh Michaud dari Kaiser Family Foundation di Washington.

Korea Selatan mengambil langkah-langkah baru ketika jumlah pasien baru COVID-19 masih tetap mendekati nol. Maskapai penerbangan negara itu Kamis menyatakan akan memulai kembali penerbangan ke Amerika Serikat, Eropa dan beberapa bagian lain Asia bulan depan.

Pemerintah Korea Selatan juga memperluas pengiriman masker ke negara-negara lain, dengan fokus pada mereka yang sangat memerlukannya di tengah-tengah wabah COVID-19 yang lebih besar lagi.

Di Brazil, kementerian kesehatan melaporkan rekor penambahan kasus baru yang terkonfirmasi yang mencapai 10.500, membuat jumlah kasus di negara itu melebihi 126 ribu.

Spanyol, yang bulan lalu melaporkan 900 kematian per hari sewaktu menghadapi salah satu wabah terburuk di dunia, Kamis (7/5) menyatakan jumlah kematian hariannya turun menjadi 213.

Ada sekitar 3,8 juta kasus virus corona terkonfirmasi di seluruh dunia, dengan 264 ribu kematian.

Kepala kantor Organisasi Kesehatan Dunia wilayah Eropa, Kamis (7/5) menyatakan keprihatinan tentang meningkatnya kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga semasa pandemi, seraya menyebut perkembangan itu sangat merisaukan. Dr. Hans Kluge mencatat berbagai laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di Belgia, Inggris, Prancis, Rusia dan Spanyol. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG