Tautan-tautan Akses

PBB: Dugaan Pelanggaran Rusia di Ukraina Dapat Dikategorikan sebagai Kejahatan Perang


Jaksa Penuntut dari Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) Karim Khan (kedua dari kanan) didampingi Jaksa Agung Ukraina Venediktova ketika meninjau kuburan massal di kota Bucha, Ukraina (foto: ilustrasi).
Jaksa Penuntut dari Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) Karim Khan (kedua dari kanan) didampingi Jaksa Agung Ukraina Venediktova ketika meninjau kuburan massal di kota Bucha, Ukraina (foto: ilustrasi).

Tim Pemantau PBB di Ukraina mengatakan banyak pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional yang diduga dilakukan oleh pasukan Rusia, dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

Tim Pemantau PBB di Ukraina telah mendokumentasikan ratusan pelanggaran sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari lalu. Namun, Kepala Misi Pemantau HAM PBB di Ukraina Matilda Bogner mengatakan bukti-bukti yang dikumpulkan itu sejauh ini baru menyentuh sedikit sekali bukti yang tampak untuk menunjukkan sejauh mana kekejaman yang dilakukan pada waktu itu.

Laporan terbaru menyebutkan lebih dari 7.000 warga sipil telah menjadi korban, termasuk sekitar 3.390 orang yang tewas. Bogner mengatakan jumlah sesungguhnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Ia menambahkan setiap kematian bukan hanya statistik. Setiap kematian adalah orang yang hidupnya telah hancur, yang impiannya untuk memiliki masa depan telah lenyap.

Rusia membantah menarget warga sipil.

Korban-korban perang dimasukkan ke dalam kuburan massal di pinggiran Mariupol, Ukraina (foto: dok).
Korban-korban perang dimasukkan ke dalam kuburan massal di pinggiran Mariupol, Ukraina (foto: dok).

Bogner dan mitra-mitranya pekan lalu telah mengunjungi 14 kota di Kyiv dan Chernihiv yang hingga akhir Maret lalu diduduki pasukan Rusia. Ia mengatakan orang-orang yang mereka temui memberitahu mereka tentang kerabat dan teman-teman yang ditembak dan dibunuh oleh tentara Rusia ketika berupaya melarikan diri. Di satu desa, Bogner bertemu dengan seorang laki-laki berusia 70 tahun yang telah bersembunyi selama 24 hari di ruang bawah tanah sebuah sekolah setempat.

“Dengan berlinang air mata laki-laki itu mengatakan kepada kami bahwa ia telah berbagi ruangan seluas 76 meter per segi itu dengan 138 orang. Yang paling muda baru berusia sekitar dua bulan. Ruangan itu sangat penuh sesak sehingga ia harus tidur sambil berdiri dan mengikat dirinya di tangga kayu agar tidak jatuh,” ungkapnya.

Lebih jauh Bogner mengatakan tim pemantau PBB itu juga melihat sekolah, rumah sakit dan bangunan tempat tinggal yang hancur di banyak daerah yang dikunjungi.

Di seluruh Ukraina, setidaknya 50 rumah ibadah Kristen, Yahudi dan Muslim telah rusak.

Bogner juga mengatakan tim-nya menerima informasi yang kredibel tentang pembunuhan di luar proses hukum, penyiksaan dan tuduhan pemerkosaan – termasuk pemerkosaan berkelompok – dan tindakan penghilangan paksa.

“Kami mendokumentasikan sejumlah kasus di mana angkatan bersenjata Rusia menahan warga sipil – kebanyakan remaja putra – dan memindahkan mereka ke Belarus, dan kemudian ke Rusia, di mana mereka ditahan di pusat-pusat penahanan pra-ajudikasi atau pra-sidang pengadilan. Secara keseluruhan, sejak 24 Februari lalu, kami telah mendokumentasikan 204 kasus penghilangan paksa... sebagian besar dilakukan oleh angkatan bersenjata Rusia dan kelompok bersenjata yang berafiliasi.”

Bogner mengatakan timnya telah menerima laporan tentang tawanan perang yang menjadi sasaran penyiksaan, perlakuan buruk dan penahanan tanpa komunikasi – baik yang dilakukan oleh angkatan bersenjata Ukraina maupun Rusia. Ia mencatat hal ini melanggar aturan dasar hukum humaniter internasional dan harus dihentikan.

Bogner menegaskan misi pemantauan yang dipimpinnya akan merilis laporan temuan pada bulan Juni nanti. Sementara dugaan pelanggaran yang dilakukan pasukan Rusia dan Ukraina akan didokumentasikan, meskipun skala pelanggaran oleh Rusia secara signifikan lebih tinggi. [em/lt]

XS
SM
MD
LG