Tautan-tautan Akses

AS

Pastikan Seragam Tak Dibuat dengan Tenaga Kerja Paksa, Anggota Kongres AS Minta Bukti dari IOC


Para warga yang menggunakan masker tampak melihat maskot dari Olimpiade dan Paralimpiade Musim Dingin 2022 yang ditampilkan di dekat arena olahraga di Beijing, pada 12 Januari 2022. (Foto: AP/Mark Schiefelbein)

Para anggota Kongres Amerika Serikat (AS) dari kedua partai telah menulis surat kepada Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach untuk menanyakan tentang hubungan organisasi itu dengan dua perusahaan asal China yang menggunakan bahan kapas dari provinsi Xinjiang untuk pembuatan seragam organisasi tersebut.

China dituduh melakukan genosida dan menggunakan tenaga kerja paksa di provinsi yang berpenduduk Muslim-Uighur. Negara itu telah menampik tuduhan tersbeut.

Surat itu mengatakan, penggunaan kapas dari Xinjiang “sama dengan tenaga kerja paksa dan pemberangusan sistematik yang terjadi disana.”

“Ada kemungkinan yang merisaukan bahwa personil IOC dan lainnya yang menghadiri pertandingan Olimpiade Musim Dingin 2022 akan mengenakan pakaian yang sudah tercemar oleh tenaga kerja paksa,” demikian bunyi surat dari Komisi Eksekutif Kongres untuk Urusan China.

Surat itu, yang ditandatangani oleh ketua komisi Senator Jeff Merkley, dan ketua lainnya dan juga anggota DPR James P. McGovern, serta juga anggota DPR Christopher Smith, secara spesifik menyebut dua perusahaan, Anta Sports dan perusahaan tekstil Hengyuanxiang Group, yang menggunakan kapas dari Xinjiang.

Dalam suratnya, para anggota kongres meminta IOC memperlihatkan sertifikat asal muasal barang yang diberikan oleh HYX Group. Mereka juga minta IOC untuk “menjelaskan jaminan” yang mereka terima dari Anta Sports tentang produk kapas mereka.

“Sebagai titik awal untuk memenuhi komitmennya dalam menegakkan dan menghormati HAM, dan sesuai dengan penghormatan terhadap harga diri manusia sebagaimana tercantum di dalam Piagam Olimpiade, IOC harus menegakkan dan menghargai hak asasi dari mereka yang menyiapkan seragam itu,” demikian kesimpulan dalam surat itu.

Desember lalu, Presiden Joe Biden telah menandatangani Undang-undang Pencegahan Tenaga Kerja Paksa Uighur yang melarang impor semua barang-barang dari Xinjiang ke Amerika kecuali jika perusahaan bisa memperlihatkan kepada pemerintah Amerika “bukti yang jelas dan meyakinkan” bahwa rantai pasokan mereka tidak menggunakan tenaga kerja etnis Muslim yang dipekerjakan sebagai budak di kamp-kamp China. [jm/em]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG