Dua orang travel blogger asal Selandia Baru yang menghilang di Iran selama hampir empat bulan berada dalam kondisi “aman dan baik-baik saja.” Keduanya telah meninggalkan Iran setelah perundingan rahasia antara kedua negara, kata pihak Wellington pada Rabu (26/10).
Pengantin baru Bridget Thackwray dan Topher Richwhite menyeberang dari Turki ke Iran pada awal Juli lalu, ketika laman media sosial mereka, yang biasanya dipenuhi foto-foto mereka yang glamor di lokasi-lokasi eksotik dan dikurasi dengan teliti, berhenti diperbarui.
Selama berbulan-bulan, beberapa dari 300.000 penggemar pasangan itu mengunggah pesan-pesan bernada khawatir akan keselamatan mereka, tanpa menerima balasan apa pun. Pada saat yang sama, pemerintah Selandia Baru menolak permohonan tanggapan dari media massa mengenai keberadaan pasangan blogger itu.
Pada Rabu (26/10), Perdana Menteri Jacinda Adern akhirnya memberikan pernyataan dan mengungkap bahwa pejabat-pejabatnya telah “bekerja keras” selama beberapa bulan untuk “memastikan jalan keluar yang aman” bagi pasangan yang telah menjalani “keadaan yang sulit.”
Rincian pasti apa yang dilalui kedua blogger itu di Iran masih belum jelas.
Pejabat Iran mengatakan kepada AFP bahwa pasangan tersebut tidak ditahan maupun ditangkap dan pemerintah Selandia Baru pun berhati-hati untuk tidak menyiratkan adanya penahanan resmi.
‘Ada yang Salah’
Sejumlah warga asing seringkali ditahan oleh pemerintah garis keras Iran, yang telah berselisih dengan Amerika serikat dan sekutunya sejak Revolusi Islam pada tahun 1979.
Para tahanan mendekam di penjara atau dibebaskan setelah negosiasi intensif berlangsung di belakang layar.
Banyak pembebasan yang dilakukan melalui perturakaran tahanan membuat Iran dituduh melakukan “diplomasi sandera.”
Kebanyakan negara menyarankan agar tidak melakukan perjalanan ke Iran.
“Topher,” kependekan dari Christopher, yang berusia akhir tiga puluhan dan merupakan putra dari bankir terkaya Selandia Baru, memulai petualangan bersama kelompoknya sebelum akhirnya ia dan pasangannya memulai perjalanan keliling dunia sendiri.
Istrinya, Bridget, yang berusia akhir dua puluhan, mendirikan situs web Fashbae tahun 2017, setahun sebelum mereka memulai perjalanan.
Mereka berjalan-jalan dengan mengendarai Jeep 4x4 buatan Amerika Serikat yang dijuluki “Gunther,” diambil dari nama pengembara Jerman Gunther Holtorf, yang berhasil mengunjungi 215 negara dalam 26 tahun sebelum kematiannya pada 2021.
Dalam video yang diunggah pada Juli lalu, namun kemudian dihapus dari situs media sosialnya, Topher mengatakan ia dan istrinya diberhentikan di perbatasan Iran, di mana kendaraannya kemudian diperiksa. Selama 45 menit yang menegangkan, mereka diberi instruksi cara berpakaian dan berperilaku oleh petugas perbatasan.
Salah seorang penggemar mereka yang berbasis di Kanada, Chris Los, menyadari pelacak GPS pasangan itu terhenti di tempat yang sama selama beberapa hari.
“Mereka tidak pernah berhenti di tempat yang sama di tengah antah berantah selama ini,” kata Los kepada AFP. “Karena mereka sering sekali membagikan foto dan video secara terbuka, sangat jelas bagi saya bahwa ada yang salah.”
Pekan ini, Kylie Moore-Gilbert, orang Australia yang menghabiskan lebih dari 800 hari di penjara Iran sebelum akhirnya dibebaskan, melaporkan bahwa pasangan itu menghilang.
‘Sungguh Lega!’
Moore-Gilbert menyebut konfirmasi bahwa pasangan itu telah meninggalkan Iran sebagai “berita fantastis.”
Hilangnya pasangan tersebut kembali mengingatkan publik akan nasib travel blogger Australia keturunan Inggris yang ditahan di Iran tahun 2019, karena dicurigai menjadi mata-mata dan menghindari sanksi, meski kemudian dibebaskan.
Pada saat yang sama, Australia menghentikan ekstradisi Reza Dehbashi ke AS.
Dehbashi, yang merupakan mahasiswa PhD di University of Queensland, ditahan atas tuduhan “mencoba membeli dan mentransfer peralatan radar militer AS canggih melalui Dubai ke Iran.”
Ardern tidak memberikan rincian mengenai negosiasi yang dilakukan, namun bersikeras bahwa dirinya tetap mengecam tindakan berdarah yang dilakukan pemerintah Iran baru-baru ini terhadap para pengunjuk rasa – banyak di antaranya perempuan – yang menentang hukum Islam yang ketat dan pemerintahan otoriter.
“Kami memanggil duta besar Iran untuk membagikan pandangan kami secara langsung,” tambahnya.
Pemerintahan Ardern memiliki hubungan diplomatik dengan Iran dan telah memiliki kedutaan besar di Teheran sejak 1975, membuatnya menjadi pos terdepan Selandia Baru yang terlama di Timur Tengah.
Iran telah berulang kali menuduh pasukan asing memicu protes berlangsung akhir-akhir ini, dan pada akhir September lalu mengumumkan bahwa sembilan warga negara asing – termasuk dari Prancis, Jerman, Italia, Polandia dan Belanda – telah ditangkap. [rd/rs]
Forum