Tautan-tautan Akses

Berselisih soal Anggaran, Panglima Angkatan Bersenjata Perancis Mundur

  • Henry Ridgwell

Presiden Perancis Emmanuel Macron (kiri) dan Jenderal Pierre de Villiers pada parade peringatan Hari Bastille di Paris, 14 Juli lalu.

Panglima angkatan bersenjata Perancis mengundurkan diri setelah berselisih dengan Presiden Emmanuel Macron tentang pemangkasan anggaran.

Pemerintahan baru Macron – yang sedang berupaya menyeimbangkan neraca anggaran – menghadapi tekanan akibat tingginya biaya operasi militer Perancis baik di Perancis maupun di negara-negara lain.

Menyusul pengunduran dirinya hari Rabu (19/7), Jenderal Pierre de Villiers dalam pernyataan tertulis menyatakan rancangan pemangkasan anggaran tahun ini berarti ia tidak bisa “menjamin” perlindungan bagi Perancis.

Analis Sophia Besch di Center for European Forum mengatakan ini merupakan uji pertama yang penting bagi Presiden Macron.

“Tetapi hal ini juga menunjukkan – dan saya yakin ini memang maksud Macron – bahwa ia serius untuk memangkas anggaran, mendorong ekonomi Perancis agar sesuai dengan target Eropa.”

Macron ingin memangkas anggaran pertahanan tahun 2017 sebesar satu miliar dolar untuk menutup defisit anggaran.

Namun, juru bicara pemerintah Christophe Castaner hari Rabu mengatakan anggaran belanja militer mulai tahun 2018 dan seterusnya akan meningkat.

Castaner mengatakan presiden memastikan kembali komitmennya untuk melakukan peningkatan anggaran militer secara progresif, menjadi 2% dari PDB selambat-lambatnya pada tahun 2025.

Amerika menekan sekutu-sekutunya di NATO untuk memenuhi target 2% itu sesegera mungkin, tetapi militer Perancis sudah memberi komitmennya pada beberapa front.

Sekitar 7.500 personil pasukan telah dikerahkan di jalan kota-kota Perancis menyusul beberapa serangan teror baru-baru ini.

Pasukan Perancis terlibat dalam serangan militer terhadap jihadis ISIS di Suriah dan Irak. Mereka juga memimpin operasi kontra-teror di Afrika Utara. Sekitar 4.000 personil militer Perancis ditempatkan di sepanjang kawasan Sahel.

Sophia Besch menambahkan, “Giatnya militer Perancis dalam tahun-tahun belakangan ini, dekade-dekade terakhir ini, telah menyebabkan kekuatan militer sangat tersebar, dan kapabilitas mereka kurang mendapat pendanaan.”

Pilihan Macron sebagai panglima militer yang baru, Jenderal Francois Lecointre, telah memimpin misi Uni Eropa di Mali, negara yang pertama dikunjungi Macron setelah menjabat.

“Kami belum bisa mengatakan apakah pemangkasan ini ditujukan untuk misi-misi militer tertentu. Tetapi kita tahu bahwa Perancis di bawah kepemimpinan Macron akan tetap berkomitmen kepada Afrika,” ujar Besch.

Macron telah menyerukan sekutu-sekutu Eropa untuk ikut menanggung beban operasi kontra-terorisme di Afrika. [em/jm]

XS
SM
MD
LG