Tautan-tautan Akses

Pandangan Dunia Arab terhadap Trump


Presiden Palestina Mahmoud Abbas dengan tegas menolak rencana perdamaian usulan Trump dalam pidato di Ramallah, Tepi Barat, Selasa (28/1).

Kedekatan politik antara para pemimpin negara Arab dan Timur Tengah dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta keinginan mereka untuk menyertakan Israel dalam barisan keamanan yang solid melawan Iran telah menciptakan jurang yang semakin lebar terkait upaya untuk mengakhiri konflik Israel dan Palestina di tengah pengumuman rencana kesepakatan damai Timur Tengah yang disusun Amerika.

Menteri luar negeri Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain mulai mendarat di Kairo, Mesir, pada hari ini untuk menghadiri pertemuan mendesak Liga Arab yang akan digelar Sabtu (1/2) esok, di mana mereka akan mendorong otorita Palestina pimpinan Presiden Mahmoud Abbas untuk menjalin komunikasi dengan Presiden Trump dan pemerintah Israel.

Di satu sisi, rencananya, Abbas akan meminta negara-negara Arab bersatu menentang inisiatif Amerika terkait rencana kesepakatan damai yang disusun Trump. Sikapnya didukung oleh sejumlah kritikus yang mengatakan bahwa kontrol militer Israel yang berkelanjutan serta pendudukan permanen oleh warga sipil akan mengakibatkan terbentuknya negara kuasi yang tidak layak, yang memisahkan tanah Palestina.

Di sisi lain, Arab Saudi justru memimpin blok tersebut untuk mendorong Palestina agar terlibat dengan inisiatif Amerika.

Dalam keterangan pers yang dipublikasikan media pemerintahan, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan bahwa “Pihak kerajaan menghargai upaya pemerintahan Presiden Trump untuk menciptakan rencana perdamaian yang komprehensif antara Palestina dan Israel.”

Arab Saudi di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammad bin Salman sudah kehabisan tenaga untuk membiayai perlawanan Palestina terhadap pendudukan di sana dan mencoba mencari terobosan yang pasti dengan usulan agar wilayah Israel dapat dikurangi hingga luasan yang mereka miliki pascapendirian negara tersebut tahun 1948.

Dalam keterangan resminya, Kerajaan Arab Saudi mengatakan bahwa “Ketidaksepakatan dengan rencana tersebut seharusnya diselesaikan melalui negosiasi di bawah bantuan Amerika Serikat, agar proses perdamaian bisa dilanjutkan sehingga tercapai kesepakatan yang dapat memenuhi hak-hak sah warga Palestina.”

Pihak Saudi memandang Trump sebagai sosok yang menepati janji dan menyimpulkan Palestina harus terlibat dalam rencana kesepakatan damai yang disusun Trump jika mereka ingin mempertahankan klaim terhadap sisa lahan yang mereka miliki.

Kesamaan posisi Amerika, Saudi dan Uni Emirat Arab tentang perlunya memeriksa kekuatan Iran di wilayah tersebut telah membuat negara-negara Arab mendorong Palestina untuk terlibat dengan rencana Trump.

Direktur Jenderal Pusat Riset Arab di Doha, Qatar, sekaligus cendikiawan terkemuka Palestina, Azmi Bishara, mengatakan “Beberapa rezim menangani masalah Palestina sebagai pintu untuk memberikan layanan kepada Amerika sebagai imbalan atas kepuasannya.”

Sementara itu, konsekuensi rencana Trump langsung terasa di Amman, di mana insentif ekonomi dari kesepakatan itu tidak lebih besar daripada biaya politik pencaplokan Israel atas Lembah Yordania.

Warga Yordania khawatir bahwa berkurangnya jejak teritorial Palestina menjadi lonceng kematian bagi status kenegaraan di Tepi Barat dan Jalur Gaza, yang berarti mereka harus kembali menerima arus pengungsi. [rd/ka]

Lihat komentar (2)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG