Tautan-tautan Akses

Pandangan Baru dalam Teori Evolusi


Foto ilmuwan Inggris Charles Robert Darwin, Bapak teori Evolusi yang hidup antara 1809-1882 (foto: dok).

Teori evolusi Charles Darwin mengatakan bahwa manusia berevolusi sebagai spesies yang terpisah. Tapi ilmu pengetahuan moderen menunjukkan bahwa kita, bersama dengan semua makhluk lainnya, selalu hidup bersimbiosis dengan sejumlah besar mikroba, yang ada di dalam dan di luar tubuh kita, yang disebut holobiont.

Teori hologenome adalah cara baru untuk melihat evolusi setelah Darwin. Teori tersebut muncul pada awal abad ke-21 ketika para peneliti membuktikan bahwa tubuh manusia yang sehat memiliki triliunan bakteri, yang secara kolektif disebut mikrobiota manusia. Mikroba muncul di bumi jauh lebih dulu dari manusia dan teori baru menyimpulkan bahwa kita semua berevolusi dalam hubungan simbiosis satu sama lain.

"Itu berarti bukan persaingan yang ketat dan seleksi alam yang membuat kita seperti sekarang ini tapi sebenarnya kolaborasi antara mikroba dan diri kita sendiri. Semua terkait sel. Sel yang memiliki tujuan dan bersama-sama mereka merekayasa organisme jenis apa diri kita," kata William Miller.

William Miller, dokter yang sudah berpraktik selama 30 tahun dan penulis sebuah buku baru, "The Microcosm Within," mengatakan para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa sel dan mikroba kita sebenarnya sangat cerdas.

Kata Miller kepada VOA, "Mikroba dan sel kita adalah agen pemecah masalah dan itu membuat perbedaan besar. Jadi, maksud saya, kita memiliki makhluk hidup asing di dalam diri kita, yang secara intim terkait dengan kita, membuat kita seperti apa adanya, yang sama sekali berbeda dengan kita, sehingga kita tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengannya."

Miller mengatakan kita di ambang awal untuk memahami bagaimana mikrobiota manusia mempengaruhi metabolisme, sistem kekebalan tubuh, bahkan suasana hati kita.

"Ketika kita menjajaki ini, ketika kita bisa memahaminya, banyak penyakit kronis manusia bisa disembuhkan atau dihindari, hidup kita mungkin akan diperpanjang, tapi tentunya kualitas hidup kita akan membaik saat kita belajar berkomunikasi dengan lebih baik," ujar Miller.

Mikroba berkomunikasi melalui pertukaran molekul yang kompleks tetapi juga dengan cahaya, suara, bahkan mungkin melalui fenomena fisik yang disebut ‘quantum entanglement’ atau keterikatan kuantum di mana keadaan partikel tidak dapat digambarkan tanpa keadaan pasangannya bahkan ketika keduanya sangat jauh satu sama lain.

"Eksperimen menunjukkan bahwa ada kemungkinan besar bahwa mikroba belajar bagaimana cara memanfaatkan ini dalam komunikasi mereka sendiri dan kita tidak tahu bagaimana caranya," tambahnya.

Menurut Miller, belajar berkomunikasi dengan mikroba juga membantu kita mencari kehidupan di luar bumi karena sangat mungkin kehidupan itu dalam tingkat mikroba. [as]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG