Tautan-tautan Akses

Pakai Teknologi China, Anggota NATO Bisa Kehilangan Intelijen AS


Seorang perempuan berdiri di depan stan Huawei yang memamerkan teknologi 5G di PT Expo, di Beijing, China, 28 September 2018.

Beberapa negara Eropa bisa menghadapi risiki terputus dari intelijen AS dan informasi penting lainnya jika mereka meneruskan hubungan dengan perusahaan teknologi China.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengeluarkan peringatan itu, Kamis (4/4), menyusul pertemuan para menteri luar negeri NATO di Washington.

"Kita sudah melakukan analisa risiko," kata Pompeo. "Kita sekarang menyampaikan kepada mitra NATO dan negara-negara di seluruh dunia. Kita sudah menjelaskan risikonya jika melampaui batas bagi Amerika, kita tidak akan bisa lagi berbagi informasi tersebut."

Pejabat pertahanan dan intelijen AS dalam beberapa tahun terakhir telah berulang kali memperingatkan meningkatnya ancaman, bahwa informasi yang dibagikan melalui jaringan buatan China atau perangkat buatan China bisa dicuri atau disalin dan dibagikan dengan pemerintah China.

Baru-baru ini, kekhawatiran difokuskan pada tawaran perusahaan Huawei dan ZTE China untuk membangun jaringan canggih 5G yang berkecepatan tinggi untuk perangkat seluler di seluruh Eropa.

Sebuah laporan yang dikeluarkan awal pekan ini oleh Dewan Inovasi Pertahanan AS, yang memberi saran kepada Pentagon, mengemukakan kemungkinan Huawei sudah membangun apa yang disebut "pintu belakang", atau kerawanan keamanan dalam perangkat lunak dan produknya.

"Banyak dari hal ini tampaknya terkait dengan persyaratan dari komunitas intelijen China yang menekan perusahaan untuk memeras informasi mengenai pengguna domestik," kata laporan itu, mengutip contoh Xiongmai, pembuat kamera keamanan China yang menggunakan kode Huawei untuk memungkinkan akses tidak sah pada jutaan kamera.

Meskipun beberapa negara Eropa mengakui kekhawatiran AS, Uni Eropa menolak seruan larangan menyeluruh khususnya terhadap Huawei.[my]

XS
SM
MD
LG