Tautan-tautan Akses

Organisasi MPAC Jembatani Komunitas Muslim dengan Industri Hiburan AS


Presiden MPAC Salam Al-Marayati diwawancarai reporter VOA Vina Mubtadi di Los Angeles. (Foto: VOA/Yogi Leksono)

Organisasi Muslim Public Affairs Council atau MPAC di AS memberi “nilai rapor 6” kepada industri perfilman Hollywood atas gambaran karakter Muslim di film-film dan acara TV yang kurang akurat. Meski masih jauh dari ideal, tapi MPAC juga mengapresiasi sejumlah upaya yang dilakukan sebagian pelaku industri yang berani melakukan perubahan.

Dalam banyak film Hollywood, Muslim sering digambarkan negatif dan terkait kekerasan. Ini stereotipe yang harus diubah, kata Salam Al-Marayati, Presiden Muslim Public Affairs Council atau MPAC - organisasi kebijakan publik di Amerika.

“Setiap kali mereka mendengar Muslim, apa yang mereka pikirkan? Arab, Timur Tengah, Kekerasan Palestina Israel, 11 September, itu saja!,” katanya kepada VOA Indonesia.

Menyadari pentingnya meluruskan narasi ini, organisasi yang berdiri sejak 1988 di Washington DC ini membuka Biro Hollywood sekitar 10 tahun lalu.

Biro ini berperan sebagai jembatan antara komunitas Muslim dan industri hiburan. Dan salah satu kegiatannya adalah merangkul para pelaku film, produser dan aktor supaya menggambarkan Muslim dalam film atau acara TV secara lebih akurat dan otentik.

Selain itu mereka juga mengupayakan agar industri Hollywood lebih inklusif dan melibatkan lebih banyak Muslim dalam proyek mereka.

“Para eksekutif di Hollywood sangat tertutup. Rasisme masih terjadi di Hollywood. Dan itu biasanya datang dari mereka yang duduk di jabatan tinggi. Ketika mereka tidak membuka kesempatan bagi Muslim atau minoritas lain untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan di Hollywood,” kata Al-Marayati.

Namun tak hanya mengkritisi, MPAC Hollywood juga mengapresiasi. Setiap tahun mereka menganugerahkan Media Awards kepada orang-orang berpengaruh atau proyek-proyek yang mendobrak stereotipe.

Penghargaan Tahunan ‘Muslim Oscars’

Musisi dan aktivis anti kemiskinan asal Irlandia Bob Geldof mendapat penghargaan dari Muslim Public Affairs Council atau MPAC di Los Angeles bulan April atas aksinya mengembalikan sebuah penghargaan yang juga diterima pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi.

Beb Geldof, saat penerima penghargaan Media Awards tahun ini. (Foto courtesy: MPAC)
Beb Geldof, saat penerima penghargaan Media Awards tahun ini. (Foto courtesy: MPAC)

Akhir tahun lalu, Geldof mengembalikan penghargaan "Freedom of the City of Dublin". Ia mengembalikannya karena tidak mau dikaitkan dengan Suu Kyi, yang dianggap membiarkan pembantaian Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Karena aksinya itu, dan juga karena upayanya memerangi kemiskinan di Ethiopia selama puluhan tahun, dia diberikan penghargaan Lifetime Achievement Award dalam Media Awards 2018 bulan April.

“Saya protes bukan karena orang-orang Rohingya itu adalah Muslim. Juga bukan karena mereka Muslim atau Rohingya. Saya tidak peduli keyakinan mereka atau bagaimana mereka mengidentifikasi diri mereka. Saya peduli karena mereka manusia yang dibunuh, diperkosa dan disiksa hanya karena berbeda,” ujar Geldof dalam pidato penerimaan penghargaan di depan ratusan orang.

Presiden MPAC Salam Al-Marayati mengatakan penghargaan diberikan kepada individu dan proyek yang inklusif, menampilkan keragaman dan memajukan keadilan sosial.

“Ini semacam ‘Muslim Oscars’ di Hollywood. Kami mengadakan gala, berkumpul, ratusan orang hadir. Kami mengucapkan terima kasih kepada tokoh-tokoh yang melakukan perubahan di Hollywood. Kami menyebutnya Suara Keberanian dan Hati Nurani. Karena itu perjuangan kami sebenarnya. Menciptakan suara hati nurani untuk mengatakan ‘saya bisa saja menunjuk kambing hitam, membuat stereotipe, atau meraup banyak uang. Tapi itu tidak kreatif. Yang kreatif adalah berani menghadapi kompleksitas tapi tetap sukses,” imbuh Al-Marayati.

Geldof terkenal karena menyelenggarakan konser "Live Aid" tahun 1985 - yang dianggap konser terbesar di dunia, dan menggalang dana lebih dari 104 juta dolar untuk memerangi kelaparan di Ethiopia.

Joshua Seftel, pembuat film "The Secret Life of Muslims", serial video online yang memperlihatkan sejumlah tokoh Muslim dari berbagai profesi. (Foto courtesy: MPAC)
Joshua Seftel, pembuat film "The Secret Life of Muslims", serial video online yang memperlihatkan sejumlah tokoh Muslim dari berbagai profesi. (Foto courtesy: MPAC)

Penerima MPAC Media Awards 2018 lainnya adalah Joshua Seftel, yang membuat The Secret Life of Muslims, serial video online yang memperlihatkan sejumlah tokoh Muslim dari berbagai profesi, serta Lena Khan, sutradara film komedi "The Tiger Hunter", mengenai seorang laki-laki Muslim dari India yang berimigrasi ke AS.

Khan adalah perempuan Muslim pertama di Amerika yang menyutradai film panjang. Ajang penghargaan ini sudah memasuki tahun ke-27.

Sebelumnya, sutradara Spike Lee pernah menerima penghargaan ini karena membuat film mengenai aktivis Muslim Amerika Malcolm X.

Tahun 2014, penghargaan diberikan kepada para kreator Ms Marvel, komik superhero Muslim terbitan Marvel.

Ms Marvel digambarkan sebagai remaja Amerika keturunan Pakistan bernama Kamala Khan dari Jersey City. Seorang penggemar komik bernama Holly Smith menyambut baik kehadiran superhero remaja yang menambah keragaman ini.

“Bagi banyak orang, karakter ini adalah satu-satunya jendela pengetahuan mereka tentang Jersey City, Islam, dan gambaran Muslim yang lain dari representasi Hollywood yang Islamofobik. Jadi menarik untuk memperhatikan, terutama dalam iklim politik sekarang ini, bagaimana karakter ini menjadi suatu simbol,” kata Smith yang juga berprofesi sebagai guru ini.

Lena Khan, sutradara Muslim yang menjadi penerima penghargaan Media Awards tahun ini. (Foto courtesy: MPAC)
Lena Khan, sutradara Muslim yang menjadi penerima penghargaan Media Awards tahun ini. (Foto courtesy: MPAC)

Munculnya karakter-karakter semacam ini memang merupakan kemajuan, tapi pekerjaan MPAC dan komunitas Muslim di Hollywood masih jauh dari selesai.

“Ini perjalanan yang sulit, tapi harus ditempuh,” pungkas Al-Marayati. [vm/ds]

XS
SM
MD
LG