Tautan-tautan Akses

AS

Orangtua, Pelajar Khawatir Penembakan Massal Jadi Hal Normal di AS


Warga mengadakan doa bersama untuk korban penembakan massal di Thousand Oaks, California, 8 November 2018.

Ada dua penembakan massal di AS dalam beberapa minggu. Di sebuah sinagoge di Kota Pittsburgh dan di sebuah bar di permukiman dekat Los Angeles. Bagi satu generasi baru pelajar yang besar di AS, mempersiapkan mental untuk menghadapi penembakan massal adalah suatu kenyataan yang tak dapat dihindari

Penyalaan lilin untuk mengenang para korban telah menjadi pemandangan biasa di AS. Penembakan di Thousand Oaks, California merupakan mimpi buruk yang terulang kembali bagi Caila Sanford, yang selamat dalam penembakan massal di Las Vegas, Nevada, pada 2017.

"Sudah setahun saya melewatinya. Ini benar-benar situasi yang sulit bagi saya. Saya bisa membayangkan apa yang akan dilalui orang-orang ini," kata Caila Sanford, yang berusia 22 tahun

Caila Sanford, penyintas penembakan massal di sebuah konser di Las Vegas pada 2017. Dia tak menyangka akan terjadi lagi penembakan massal dekat dengan rumahnya di California.Caila sekarang takut pergi ke tempat-tempat yang banyak orang. (E. Lee/VOA)
Caila Sanford, penyintas penembakan massal di sebuah konser di Las Vegas pada 2017. Dia tak menyangka akan terjadi lagi penembakan massal dekat dengan rumahnya di California.Caila sekarang takut pergi ke tempat-tempat yang banyak orang. (E. Lee/VOA)

Saat dalam perjalanan untuk menyumbang darah, dia tidak pernah menduga sebuah penembakan massal lagi terjadi di tempat yang sering didatanginya.

"Masih sulit dipercaya tapi terasa lebih normal," kata Caila menambahkan.

Caila mengatakan peristiwa itu terus menghantuinya.

"Saya berpikir dua kali setiap kali mau pergi kemana-mana. Tidak hanya kemari, tapi juga ke supermarket atau ke mal," ujar Caila.

Karangan bunga yang diletakkan para pelayat dekat lokasi penembakan massal di Thousand Oaks, California yang terjadi pada Rabu pekan lalu, Thousand Oaks (9/11).
Karangan bunga yang diletakkan para pelayat dekat lokasi penembakan massal di Thousand Oaks, California yang terjadi pada Rabu pekan lalu, Thousand Oaks (9/11).

Dari sebuah penembakan di sebuah bar di California, sebuah sinagoge Yahudi di Pennsylvania, sampai sebuah sekolah di Texas, semua penembakan massal ini terjadi dalam setahun.

"Hidup dalam ketakutan terus-menerus adalah terorisme. Saya rasa insiden seperti ini harus disebut demikian. Kita hidup dalam rasa takut di negara sendiri, dalam perbatasan sendiri, di antara kita sendiri," kata Grace Fisher, seorang ibu beranak tiga

Grace Fisher mendatangi tempat kejadian penembakan di dekat Los Angeles itu untuk menuntut pengetatan kontrol senjata api. Fisher mengatakan dia mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya.

"Sebagian orang mengatakan, 'Oh, ada penembakkan massal lagi.' Ini memuakkan. Saya muak setiap kali insiden itu terjadi karena saya hanya bisa duduk, dan bersimpati, dan saya menempatkan diri sebagai anak-anak itu, orang tua itu,” kata Grace.

“Dan, saya katakan, bagaimana mungkin mereka mengucapkan selamat tinggal, atau selamat malam kepada anak mereka dan ketika bangun keesokan paginya mendapati bahwa anak-anaknya mungkin tidak akan pernah pulang. Ini tidak dapat diterima dan semua anak itu dibunuh di sekolah mereka sendiri," kata Grace menegaskan.

Grace Fisher, seorang ibu, khawatir dengan keselamatan ketiga anaknya. Dia berkata ada hal yang harus diubah dalam aturan penggunaan senjata. Fisher tinggal di kawasan dekat Thousand Oaks, lokasi penembakan massal terbaru di AS. (E. Lee/VOA)
Grace Fisher, seorang ibu, khawatir dengan keselamatan ketiga anaknya. Dia berkata ada hal yang harus diubah dalam aturan penggunaan senjata. Fisher tinggal di kawasan dekat Thousand Oaks, lokasi penembakan massal terbaru di AS. (E. Lee/VOA)

Grace Fisher mendatangi tempat kejadian penembakan di dekat Los Angeles itu untuk menuntut pengetatan kontrol senjata api. Fisher mengatakan dia mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya.

"Sebagian orang mengatakan, 'Oh, ada penembakkan massal lagi.' Ini memuakkan. Saya muak setiap kali insiden itu terjadi karena saya hanya bisa duduk, dan bersimpati, dan saya menempatkan diri sebagai anak-anak itu, orangtua itu,” kata Grace.

“Dan, saya katakan, bagaimana mungkin mereka mengucapkan selamat tinggal, atau selamat malam kepada anak mereka dan ketika bangun keesokan paginya mendapati bahwa anak-anaknya mungkin tidak akan pernah pulang. Ini tidak dapat diterima dan semua anak itu dibunuh di sekolah mereka sendiri," kata Grace menegaskan.

Caila Sanford mengatakan pembahasan mengenai penembakan massal kini menjadi tak terhindarkan.

"Orangtua dan guru kini harus mengadakan pembicaraan dengan anak-anak di sekolah, dan apa yang akan Anda lakukan apabila ini terjadi? Apa rencana Anda? Kemana akan berlindung? Padahal mereka seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu," papar Caila.

Sementara warga AS merespon penembakan massal lewat aktivisme atau kewaspadaan, mereka mulai beradaptasi dengan realita baru ini dan banyak diantaranya akan mengajarkan anak mereka untuk melakukan hal yang sama. [vm]

XS
SM
MD
LG