Tautan-tautan Akses

Oposisi Hong Kong Menentang Pemaksaan Patriotisme oleh Beijing


Para aktivis pro-kemerdekaan melakukan unjuk rasa pada tahun baru di Hong Kong, 1 Januari 2019. (foto: ilustrasi)

Legislatif Hong Kong diperkirakan akan segera memperdebatkan RUU yang menyerukan hukuman keras bagi siapa saja yang tidak berdiri atau "menunjukkan perilaku yang tidak hormat" terhadap lagu kebangsaan China. Tetapi undang-undang itu tidak menumbuhkan sikap patriot pada semua orang.

Setelah protes pro-demokrasi besar-besaran tahun 2014 memicu gerakan kecil tetapi tegas menuntut kemerdekaan, China telah berusaha membalik tren pemuda yang selama bertahun-tahun diidentifikasi sebagai orang Hong Kong, bukan warga China.

Presiden Xi Jinping dan beberapa pejabat tinggi meluncurkan berbagai langkah yang tampaknya dibuat untuk mengingatkan bahwa Hong Kong adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari China. Xi berulang kali menyatakan, advokasi kemerdekaan - di Tibet, Hong Kong atau Taiwan – adalah subversif dan tidak akan diizinkan.

Kepala eksekutif Hong Kong Carrie Lam selalu menepis keprihatinan akan permintaan untuk setia, terutama di kota itu, yang sarat penduduk dari seluruh dunia.

Pejabat pendidikan kota tersebut terus membuat kebijakan guna mendorong mahasiswa mencintai negara itu. Upaya beberapa tahun lalu, usul kurikulum sekolah untuk menumbuhkan perasaan positif tentang bangsa itu, memicu kemarahan lebih dari 100 ribu demonstran yang turun ke jalan-jalan pada tahun 2012, mengutuk isinya sebagai cuci otak.

Pemerintah kota kemudian membatalkan pelajaran itu, tetapi warga mengatakan kurikulum itu diam-diam diajarkan di sekolah-sekolah yang pro-Beijing. (ka)

Recommended

XS
SM
MD
LG