Tautan-tautan Akses

Negara-Negara G-20 Hadapi Ketimpangan Vaksin


Seorang anak meringis saat menerima vaksin COVID-19 di Diepsloot Township dekat Johannesburg, 21 Oktober 2021.(Foto: AP)

Sementara pandemi virus corona terus membuat dunia terbagi menjadi kelompok mereka yang divaksinasi dan tidak divaksinasi, para pemimpin 20 negara terkaya dunia dijadwalkan bertemu akhir pekan ini untuk membahas cara mengatasi kesenjangan mendalam ini.

Keprihatinan mengenai pandemi kemungkinan besar akan membayangi pertemuan langsung pertama para pemimpin G-20 sejak 2019, dan kesetaraan akses ke vaksin merupakan isu utama. KTT ini dijadwalkan dimulai pada Sabtu di Roma.

Presiden AS Joe Biden mengklaim bahwa AS, negara terkaya di dunia, juga merupakan “arsenal vaksin dunia.” Jumlah donasi dosis vaksin yang dijanjikan AS, 1,1 miliar, mengerdilkan donasi negara-negara lainnya.

Pengiriman kedua vaksin Johnson & Johnson COVID-19 yang tiba di Bandara Internasional OR Tambo di Johannesburg, Afrika Selatan, 27 Februari 2021. (Foto: Kim Ludbrook via Reuters)
Pengiriman kedua vaksin Johnson & Johnson COVID-19 yang tiba di Bandara Internasional OR Tambo di Johannesburg, Afrika Selatan, 27 Februari 2021. (Foto: Kim Ludbrook via Reuters)

Namun ini belum mencukupi, kata para aktivis kesehatan. Sebagian kecil vaksin yang dijanjikan itu sebenarnya telah dikirimkan, dan suatu penelitian baru oleh perusahaan analisis sains Airfinity mendapati bahwa negara-negara G-20 menerima 15 kali dosis vaksin COVID-19 per kapita lebih banyak daripada negara-negara di kawasan sub-Sahara Afrika.

Para pemimpin dunia telah mengindikasikan mereka bersedia berbuat lebih banyak secara bersama-sama. Pada September lalu, para menteri G-20 dengan suara bulat menandatangani Pakta Roma, yang mengukuhkan target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memvaksinasi 40 persen populasi global pada tahun 2021.

Para kritikus dengan cepat menunjukkan bahwa dokumen itu tidak menyebutkan komitmen spesifik. Para aktivis dan organisasi bantuan mendesak negara-negara G-20 untuk membuat janji yang nyata, untuk mempercepat jadwal pengiriman vaksin dan bersikap lebih murah hati – bukan hanya dengan mengirimkan vaksin tetapi juga teknologi pembuatannya, serta alat yang diperlukan untuk menyuntikkannya.

Para aktivis berpendapat ini bukan hanya masalah bagi mereka yang tidak mampu, tetapi ini masalah yang merugikan semua orang.

“Ketimpangan vaksin bukan hanya menghambat negara-negara termiskin, ini juga menghambat dunia,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore. “Sementara para pemimpin bertemu untuk menetapkan prioritas bagi tahap selanjutnya dari respons COVID-19, penting sekali bagi mereka untuk ingat bahwa, dalam perlombaan mendapatkan vaksin COVID, kita menang bersama, atau kita kalah bersama,” lanjutnya.

Arsenal Vaksin

Gedung Putih menyatakan telah menyumbangkan lebih banyak vaksin daripada negara lainnya, dan para pejabat AS menangkis kritik mengenai keputusan pihak berwenang untuk memberi izin suntikan penguat (booster) untuk warga Amerika ketika begitu banyak orang di seluruh dunia belum mendapatkan suntikan pertama.

Nathalie Ernoult, kepala advokasi untuk kampanye Access organisasi Dokter Tanpa Tapal Batas, mengatakan, AS dapat berbuat jauh lebih banyak daripada sekadar menjanjikan donasi.

Suatu laporan baru oleh organisasi antikemiskinan ONE Campaign menghitung bahwa, dari 6,5 miliar lebih dosis vaksin yang dijanjikan negara-negara G-20, sekitar 44 persennya telah dikirim. Tom Hart, penjabat CEO organisasi itu menyatakan langkah itu belum cukup cepat. Pada laju pengiriman sekarang ini, ujarnya, akan perlu waktu lebih dari satu dekade bagi negara-negara berpendapatan rendah untuk mencapai target memvaksinasi 70 persen populasi mereka. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG