Tautan-tautan Akses

Negara-negara Arab Ingatkan Israel Menjelang Pencaplokan Tepi Barat


Seorang penggembala Palestina menggiring ternaknya di samping Permukiman Yahudi Tomer di Tepi Barat, di Lembah Jordan, 30 Juni 2020.

Negara-negara Arab memperingatkan Israel bahwa rencana mencaplok Tepi Barat akan memicu kekerasan dan ketidakstabilan wilayah.

Aneksasi unilateral bisa terjadi sedini 1 Juli, tetapi negara-negara Eropa, PBB, Liga Arab dan anggota-anggota senior Partai Demokrat AS memperingatkan, langkah itu akan merusak peluang perdamaian antara Palestina dan Israel.

Yordania adalah satu dari hanya dua negara Arab, yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Bersama Mesir, Yordania mendukung solusi dua negara untuk mengatasi krisis Israel-Palestina.

Kerajaan itu telah menegaskan bahwa Israel berisiko mendapat respon keras bila mencaplok, walaupun hanya terbatas, wilayah Tepi Barat. Yordania mengancam membatalkan atau menurunkan perjanjian damai dengan Israel pada 1994, jika aneksasi terjadi.

Raja Yordania Abdullah II telah menyampaikan keprihatinannya akan kemungkinan konsekuensi itu kepada pimpinan Eropa dan Amerika. Yordania adalah sekutu penting Amerika di wilayah Timur Tengah.

Kepada VOA, analis Yordania, Osama Al Sharif mengatakan, rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu "sangat memecah belah," tidak hanya di kalangan masyarakat Israel dan komunitas keamanan, tetapi juga di dalam pemerintahan Amerika dan di tempat lain.

"Ini menjijikkan. Orang bertanya-tanya mengapa Netanyahu akan mengambil langkah kontroversial seperti itu? Bukankah Israel sekarang ini menguasai daerah pendudukan di Tepi Barat, bahkan Lembah Yordania, kawasan perbatasan, mengendalikan apa pun yang masuk dan keluar dari Wilayah Pendudukan dan negara itu tetap diterima sebagai negara yang tidak bersalah oleh Eropa dan seluruh dunia," kata Osama Al Sharif.

"Mengapa Israel mengambil risiko kemungkinan dikenakan sanksi, terutama oleh Eropa, karena melanggar Perjanjian Jenewa dan resolusi internasional?," tambahnya.

Al Sharif memperingatkan, bahkan aneksasi awal secara terbatas terhadap satu atau dua permukiman Yahudi di Tepi Barat akan membahayakan hubungan yang menghangat antara Israel dan negara-negara kaya minyak di Kawasan Teluk, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

“Sikap negara-negara Teluk: Normalisasi berlangsung secara progresif di balik pintu tetapi kini terjadi kemacetan, jalan buntu. Mereka tidak bisa memaafkan pencaplokan dan melanjutkan normalisasi dengan Israel," ujarnya.

Namuni, analis Timur Tengah Theodore Karasik pada Gulf State Analytics mengatakan kepada VOA, meskipun Uni Emirat Arab dan Arab Saudi mengecam rencana aneksasi Israel secara terbuka, negara-negara Teluk itu kemungkinan besar ingin mempertahankan hubungan dengan Israel.

“Iran adalah salah satu motivator utama kebijakan itu. Dasar pemikirannya adalah Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Israel akan lebih tangguh kalau bersama-sama melawan Iran. Ancaman jangka panjang rudal balistik dan rudal jelajah, ditambah program nuklir Iran, membuat mereka cemas," ujarnya.

Negara-negara itu sama-sama prihatin akan peningkatan kegiatan militer Iran di wilayah tersebut.[ka/lt]

Lihat komentar (5)

XS
SM
MD
LG