Tautan-tautan Akses

NASA Luncurkan Satelit Cuaca Canggih untuk Bagian Barat AS


Roket Atlas V milik United Launch Alliance pada foto tidak bertanggal yang dibagikan oleh NASA, menunggu peluncuran pada tanggal 1 Maret 2018, dipindahkan ke Komplek Peluncuran Antariksa No. 41 di Stasiun Angkatan Udara Tanjung Canaveral (foto: Ben Smegelsky/NASA via AP)
Roket Atlas V milik United Launch Alliance pada foto tidak bertanggal yang dibagikan oleh NASA, menunggu peluncuran pada tanggal 1 Maret 2018, dipindahkan ke Komplek Peluncuran Antariksa No. 41 di Stasiun Angkatan Udara Tanjung Canaveral (foto: Ben Smegelsky/NASA via AP)

NASA meluncurkan satelit paling canggih di dunia hari Kamis, kali ini untuk menjaga bagian barat AS.

Satelit GOES-S meluncur menuju orbit dengan menumpang roket Atlas V, menembus udara siang dengan berkabut. Lusinan meteorologis berkumpul guna peluncuran itu, termasuk awak TV dari Weather Channel dan Weather Nation.

GOES-S adalah satelit kedua dalam sebuah upaya bernilai $11 milyar yang telah merevolusi prakiraan cuaca dengan pemrosesan citra yang amat cepat, tajam dari angin topan, kebakaran hutan, banjir, banjir lumpur dan bencana alam lainnya.

Wahana angkasa yang pertama yaitu GOES-16 telah memantau kawasan Atlantik dan Pantai Timur sepanjang tahun lalu untuk the National Oceanic and Atmospheric Administration. Layanan kelas satu yang sama sekarang akan tersedia untuk kawasan Pasifik.

Selain Pantai Barat, Alaska, dan Hawaii, GOES-S juga akan mengamati Meksiko dan Amerika Tengah. Satelit ini namanya akan berubah menjadi GOES-17 begitu wahana ini mencapai orbit setinggi 22.000 mil yang dituju di atas khatulistiwa dalam beberapa minggu ke depan, dan diperkirakan akan mulai operasional menjelang akhir tahun.

“Kami tidak dapat menunggu!” cuit the National Weather Service di Anchorage persis sebelum roket tersebut meluncur dari Stasiun Angkatan Udara di Tanjung Kanaveral.

Jim Yoe dari bagian layanan cuaca untuk NASA TV mengatakan ia “benar-benar merasa senang” dapat menyaksikan peluncuran ini secara langsung.

“Saya lebih bahagia lagi terkait pekerjaan yang akan datang untuk saya dan para kolega saya, memanfaatkan semua data ini untuk bekerja dengan memberikan prakiraan cuaca yang lebih baik dan mengeluarkan peringatan kepada publik Amerika,” ujar Yoe, seorang pejabat pada the Joint Center for Satellite Data Assimilation.

'Mata tajam di angkasa’

Dengan kehadiran dua satelit ini, peliputan definisi tinggi NOAA akan terentang dari Samudra Atlantik dekat Afrika Barat, sumber utama terbentuknya angin topan, hingga ke seluruh Amerika dan Samudra Pasifik hingga ke Selandia Baru.

Ini adalah pelacak cuaca ketiga yang diluncurkan NASA dalam kurun waktu setahun lebih sedikit: “tiga mata tajam di angkasa,” sebagaimana dikatakan oleh direktur satelit NOAA, Stephen Volz. GOES-16 yang diluncurkan akhir tahun 2016 dan sebuah satelit lingkungan diluncurkan roket menuju orbit kutub dari California bulan November lalu.

Satelit generasi berikut yang disebut Geostationary Operational Environmental Satellites atau GOES, adalah “sebuah lompatan kuantum ke atas” dibandingkan pengamat cuaca milik badan federal sebelumnya, ujar Volz. Ini adalah peluncuran GOES yang ke-18 sejak 1975; satu hancur dalam ledakan saat peluncuran dan seluruh satelit kecuali tiga yang sudah berada di angkasa sudah habis masa pakainya. Roket milik United Launch Alliances, sebuah perusahaan patungan antara Lockheed Martin dan Boeing, mengangkut semua satelit GOES tersebut.

Bahkan seteleh satelit itu diperiksa di orbit, GOES-16 memberikan data yang tidak ternilai pada anggota pemadam kebakaran yang berusaha untuk memadamkan api di Texas, Oklahoma, dan tempat lainnya akhir bulan Maret dan tim penyelemat di kawasan Houston di kawasan yang terendam banjir setelah dilanda Hurricane Harvey bulan Agustus lalu, menurut para pejabat. GOES-16 juga mengamati jejak Topan Irma yang tidak pasti dan Topan Maria yang kekuatannya dengan cepat meningkat pada bulan September.

Melebihi ekspektasi

GOES-16 “ternyata lebih baik dari apa yang kami harapkan,” ujar direktur National Weather Service, Louis Uccellini, saat peluncuran wahana angkasa hari Kamis. Secara resmi, satelit tersebut belum bertugas, “dan kami hanya bersiaga di sana mengamati citra yang dihasilkan.”

Saat Topan Harvey mendekati pantai Texas, satelit memperlihatkan awan yang terbenam di mata topan dan mata topan melebar dari kategori 2 ke 4, ujar Ucellini. Citra-citra tersebut membantu menentukan kapan saat yang aman bagi tim penyelamat untuk keluar dan menyelamatkan warga yang terdampar, imbuhnya.

Satelit tersebut juga memperingatkan otoritas di Texas dan Oklahoma terkait timbulnya kembali kobaran api sebelum 911 menerima laporan, ujar Uccellini. Ia mengatakan satelit tersebut juga melacak arah api seperti belum terjadi sebelumnya, mendorong para penyelamat pertama untuk kemudian menyampaikan pada NOAA: “Anda telah menyelamatkan banyak nyawa.”

Dua satelit lagi direncanakan untuk satelit yang rencananya terdiri dari 4: yaitu GOES-T tahun 2020 dan GOES-U di tahun 2024. Biaya senilai $10,8 milyar termasuk biaya pengembangan, peluncuran, dan operasi dari seluruh empat satelit disamping sistem pengendali yang ada di darat hingga tahun 2036. [ww]

XS
SM
MD
LG