Tautan-tautan Akses

Muktamar IMSA: Wakil Dubes RI di AS Puji Peran Muslim Indonesia


Suasana pembukaan Muktamar ke-20 IMSA di Chicago, Illinois, Kamis, 25 Desember 2019. (Foto: VOA/ Karlina)

Mengangkat tema hijrah, warga Muslim Indonesia dari Amerika dan Kanada berkumpul di Chicago, 24-28 Desember, untuk pertemuan tahunan yang disebut Muktamar. Wakil Duta Besar Indonesia untuk Amerika memuji peran Muslim Indonesia dalam turut membentuk wajah Amerika.

Wakil Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Iwan Freddy Hari Susanto memuji peran Muslim Indonesia dalam membentuk wajah Amerika.

Ketika membuka resmi Muktamar ke-20 IMSA di Chicago, Illinois, hari Kamis (25/12), Iwan mengatakan muktamar tahunan IMSA menjadi forum penting untuk membahas berbagai isu strategis bersama yang dapat memberi manfaat, sumbangsih, maupun kontribusi positif dan konkrit, bukan hanya bagi komunitas maupun diaspora Muslim Indonesia, namun juga publik Amerika secara keseluruhan.

Kepada VOA, Iwan mengatakan, selama ini kita mencatat bahwa komunitas Muslim Indonesia di Amerika terbukti telah berperan besar bagi kemajuan dan pembangunan dalam berbagai bidang. Muktamar juga, kata Iwan, berperan penting dalam membantu memperkuat hubungan dan kerja sama bilateral Indonesia dan Amerika, khususnya people to people contacts and links.

Wakil Duta Besar Indonesia untuk Amerika Iwan Freddy Hari Susanto membuka resmi Muktamar ke-20 IMSA di Chicago, Illinois, Kamis, 25 Desember 2019. (Foto: VOA/Karlina))
Wakil Duta Besar Indonesia untuk Amerika Iwan Freddy Hari Susanto membuka resmi Muktamar ke-20 IMSA di Chicago, Illinois, Kamis, 25 Desember 2019. (Foto: VOA/Karlina))

“Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika Serikat yang selama ini menunjukkan wajah Islam yang teduh, moderat, toleran, dan maju, menjadikan mereka sebagai duta Indonesia yang positif, produktif dan inspiratif. Mereka sangat layak menjadi role model bagi komunitas lainnya di Amerika Serikat,” jelas Wakil Dubes Iwan.

Bekerja sama dengan Malaysia Islamic Study Group (MISG) atau Kelompok Kajian Islam Malaysia, Muktamar menghadirkan pembicara dari Indonesia, Amerika dan Malaysia. Pembicara utama dari Indonesia, Adi Hidayat, batal hadir, namun itu tidak mengurangi antusiasme peserta untuk datang. Presiden IMSA Syafrin Setiawan Murdaz mengatakan lebih dari 1.200 peserta hadir, dengan 50 persen adalah pemuda dan anak-anak.

Muktamar akan berlangsung hingga 28 Desember, diisi berbagai pembahasan yang dikaitkan tema tahun ini, "Hijrah: Transforming Oneself in Challenging Times".

Presiden IMSA 2019, Syafrin Setiawan Murdas. (Foto: VOA/Karlina)
Presiden IMSA 2019, Syafrin Setiawan Murdas. (Foto: VOA/Karlina)

Selain sesi-sesi umum, ada sesi khusus bagi perempuan, (disebut Yaumun Nisa) dan sesi-sesi untuk peserta dalam kelompok usia, mulai dari anak-anak, youth, dan pemuda (yang disebut Yaumus Shabab).

Dalam salah satu sesi utama, Dr. Saiful Bahri, da’i dan dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta, membahas hijrah secara fisik Muslim Indonesia ke Amerika. “Niatkan untuk agama,” ujarnya.

Namun, seorang peserta dari Minnesota terus terang mengatakan, ia hijrah karena kesempatan yang lebih baik. “Datang ke US, niatnya itu bukan untuk akhirat tetapi dunia,” jelasnya.

Menanggapi itu, Saiful mengajak agar melakukannya demi mendapatkan rida Allah. “Kita ini, hidup kita, ingin, dalam tanda kutip, memuaskan Allah, membuat Allah rida dan kita rida,” imbuhnya.

Dalam sesi lain, membahas "Hijab, Hijrah dan Identitas", pembicara Rita Pritarini mengatakan hijrah dipahami sebagai perubahan diri, berpindah dari sebelumnya, menjadi lebih baik dan lebih baik. Memulainya, menurut Rita, kembali ke perintah Allah untuk masuk Islam secara keseluruhan. Bagi perempuan, antara lain, dengan berhijab.

“Kemudian berdoa kepada Allah mudah-mudahan kita dikuatkan, di-istiqomah-kan, agar kita benar-benar bisa berhijrah di dalam kehidupan kita yang hanya sementara ini,” kata Rita Pritarini.

Pada hari ketiga akan dibahas masalah gangguan kejiwaan. Amir muktamar Aria Novianto mengatakan bukan tidak mungkin, dalam berhijrah, orang akan mengalami gangguan kejiwaan. Banyak orang masih menganggap tabu isu ini. Padahal, menurut Aria, sama halnya gangguan fisik, gangguan mental pun harus dianggap serius dan perlu diobati. [ka/ab]

XS
SM
MD
LG