Tautan-tautan Akses

Mudik Lebaran, Ancaman Baru Penyebaran Virus Corona


Gunungkidul, DI Yogyakarta. (Foto: Humas Pemda GK)

Bedoyo adalah nama sebuah desa di Gunungkidul yang sebelum ini sangat jarang disebut orang. Desa ini ada di perbatasan Gunungkidul, Yogyakarta dan Wonogiri, Jawa Tengah. Bedoyo hanya berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat kota Yogya,namun untuk mencapai desa itu dari Yogya dengan kendaraan diperlukan waktu sedikitnya 1,5 jam karena jalan-jalannya yang berliku.

Sejak Kamis, 26 Maret 2020, nama Bedoyo tiba-tiba menasional. Penyebabnya apalagi kalau bukan wabah virus corona yang terus menyebar di Indonesia.

Kasus ini bermula ketika salah satu warga Bedoyo berusia 55 tahun pulang dari Jakarta pada 3 Maret 2020. Setelah beberapa hari di rumah, warga ini sempat membantu tetangganya hajatan pada 14-15 Maret. Sehari setelah itu dia sakit, dirawat di rumah sakit dan menjalani pemeriksaan swab karena ada tanda-tanda infeksi virus corona. Sayangnya, pihak rumah sakit justru memintanya pulang dengan alasan kondisi sudah cukup baik. Pada 25 Maret, hasil uji lab keluar dan menyatakan warga tersebut positif terinfeksi virus corona.

Masyarakat Desa Bedoyo, gotong royong melakukan penyemprotan desinfektan begitu ada warga positif terinfeksi virus corona. (Foto: via Suminto)
Masyarakat Desa Bedoyo, gotong royong melakukan penyemprotan desinfektan begitu ada warga positif terinfeksi virus corona. (Foto: via Suminto)

Lurah Desa Bedoyo, Suminto kepada VOA bercerita, warga desa sepi di perbukitan tandus Gunungkidul itupun resah, karena takut tertular. Baru pada 26 Maret, warga yang positif itu dijemput untuk menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit rujukan.

“Kemarin sudah kita himbau lewat corong, kepada masyarakat untuk tenang. Semoga enggak berkembang lagi, menakutkan sekali ini, masyarakat kami juga sangat-sangat takut. Mohon doanya saja semoga perantau tahun ini tidak mudik, tidak pulang, sampai batas waktu yang diperkirakan virus ini hilang,” kata Suminto.

Seperti juga desa-desa lain di Gunungkidul, warga Bedoyo pada usia produktif mayoritas merantau ke luar daerah. Didorong terbatasnya potensi setempat, perantau Gunungkidul terkenal ulet dan mandiri. Pulang kampung adalah tradisi tahunan yang pasti dilakukan menjelang Lebaran. Menurut Suminto, baru pada tahun inilah, pemerintah Desa Bedoyo mengeluarkan imbauan, agar warganya yang merantau tidak pulang kampung. Keputusan yang diakui Suminto sangat berat, karena akan berdampak besar pada ekonomi setempat, yang biasanya terpacu di bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Makin Pelik Jelang Lebaran

Kasus Bedoyo adalah potret kecil yang mewakili masalah besar dan pelik, yang akan dihadapi Indonesia hari ini hingga beberapa pekan ke depan. Tradisi pulang kampung yang biasanya dilakukan mendekati Idul Fitri, kali ini lebih cepat dilakukan. Jakarta dan sekitarnya, yang menjadi tumpuan ekonomi para perantau, sedang dihajar wabah Virus Corona. Mereka akhirnya pulang kampung lebih cepat.

Dalam keterangan kepada media di Yogyakarta, Kamis 26 Maret 2020, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengaku sudah membaca kecenderungan ini.

“Akhir-akhir ini, berbondong-bondong pendatang masuk ke Yogya, karena ada wilayah-wilayah lain yang ditutup sehingga bagi warga masyarakat Yogya, mungkin di tempat tersebut tidak bisa berjualan, atau tidak masuk kantor, atau mungkin kena PHK atau lain-lain, lebih baik pulang. Sehingga belum waktunya Lebaran, tapi masyarakat Yogya sudah pada pulang, akibat virus ini,” ujar Sri Sultan.

Sultan menegaskan, apa yang terjadi pekan ini hanya awal dari gelombang yang lebih besar ke depan. Karena itulah, dia telah memerintahkan seluruh aparat daerah melakukan pemantauan. Seluruh perantau, terutama yang datang dari daerah dengan wabah corona yang tinggi, diminta melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Setiap perantau juga akan diperiksa kesehatannya di rumah masing-masing dan didata.

Gubernur sekaligus Raja Yogyakarta itu meminta peran aktif seluruh warganya. Pemerintah daerah juga akan memberikan bantuan untuk mempermudah proses pemeriksaan kesehatan ini. Intinya, kebijakan ini diterapkan untuk mencegah penularan virus corona. Sultan mencatat, seluruh kasus di Yogyakarta hingga 26 Maret 2020, adalah warga yang baru saja bepergian dari luar daerah, terutama Jakarta dan sekitarnya.

“Kami akan membantu warga pendatang, untuk memeriksakan, pada rumah sakit yang ada di daerah, baik kepunyaan pemerintah maupun swasta, di mana ada daftar rumah sakit-rumah sakit itu punya kemampuan untuk melakukan pemeriksaan. Dengan harapan, punya kesediaan juga untuk isolasi 14 hari,” lanjut Sultan.

Sultan juga akan mengambil kebijakan bidang ekonomi untuk membantu kelompok masyarakat rentan. Skema bantuan akan disesuaikan dengan aturan dan keputusan pemerintah pusat, tetapi intinya ini adalah upaya untuk menekan dampak wabah Virus Corona pada masyarakat miskin. Sultan meminta kerja sama seluruh pihak untuk menyelesaikan tantangan bersama ini.

Gunungkidul Terapkan Protokol Mudik

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi memaparkan, seperti juga Sultan, pemerintah daerah setempat telah memberikan imbauan agar perantau tidak mudik tahun ini.

“Semakin banyak kita mengimbau agar tidak pulang, mudah-mudahan berpengaruh, barang 50 persen atau berapa persen, itu lebih berarti daripada tidak dihimbau sama sekali. Ini bersifat mengurangi, bukan menghilangkan. Mengurangi dampak dari orang-orang yang datang,” kata Immawan yang juga Ketua Gugus Tugas Covid 19 Gunungkidul.

PMI Gunungkidul juga membantu masyarakat Bedoyo melakukan pembersihan. (Foto: via Suminto)
PMI Gunungkidul juga membantu masyarakat Bedoyo melakukan pembersihan. (Foto: via Suminto)

Tetapi di sisi lain, Immawan memahami bagaimana sulitnya menjalankan imbauan itu, karena pulang kampung adalah tradisi tahunan para perantau. Karena itulah, untuk meminimalkan resiko penyebaran Virus Corona di daerah itu, Pemda membangun 11 pos skrining. Pos ini berada di pusat-pusat kedatangan para perantau dari seluruh wilayah.

Di pos ini, setiap pemudik akan disemprot dengan cairan desinfektan begitu datang. Pemeriksaan suhu tubuh juga dilakukan, termasuk wajib menyerahkan data dan nomor kontak untuk memudahkan pemantauan setelah itu. Pemda akan bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG), organisasi perantau di Jabodetabek. IKG diharapkan dapat melakukan koordinasi kepulangan pemudik, dan memudahkan pemantauan di daerah.

Immawan sendiri sudah melakukan pemantauan langsung proses ini. Di satu titik kedatangan saja, dalam semalam ada setidaknya 320 perantau yang pulang kampung. Melihat angkanya, Immawan menegaskan tugas Pemda untuk menekan potensi penyebaran Virus Corona saat ini sangat berat. Karena itulah, dia meminta dukungan seluruh pihak untuk menekan laju penularan.

“Ini bukan soal orang asli atau tidak asli, orang datang dan pergi, bukan itu. Tetapi situasi darurat itulah yang harus dipahami bersama, untuk keselamatan bersama. Jangan berpikir di luar yang itu. Ini kondisi bersama kita hadapi, dengan cara-cara yang kita buat bersama, untuk tujuan bersama,” tambah Immawan.

Pemudik dan Ancaman Baru Penyebaran Virus Corona
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:30 0:00

Pemda Gunungkidul saat ini sedang melakukan pemetaan sistem kerja yang lebih maksimal dalam memantau gelombang kedatangan para pemudik. Tentu akan lebih mudah melakukan pemantauan jika pemudik datang menggunakan angkutan umum seperti bus. Namun, tentu saja protokol ketat juga akan diberlakukan kepada mereka yang datang menggunakan kendaraan pribadi. Hingga saat ini, petugas akan disiagakan selama 24 jam, dan akan disesuaikan melihat kecenderungan kedatangan para pemudik.

Gunungkidul memiliki jumlah penduduk sekitar 750 ribu orang. Dari jumlah itu, menurut data Ikatan Keluarga Gunungkidul, ada sekitar 300 ribu perantau di kawasan Jabodetabek. Data itu disampaikan dalam pertemuan Syawalan pada Idul Fitri 2019 lalu. [ns/ab]

XS
SM
MD
LG