Tautan-tautan Akses

Misi Pencari Fakta PBB: Masih Ada Risiko Genosida di Myanmar 


Anak-anak pengungsi Rohingya menyaksikan para pejabat Myanmar dan China tiba di kamp Nayapara di Cox's Bazar, Bangladesh, 22 Agustus 2019.
Anak-anak pengungsi Rohingya menyaksikan para pejabat Myanmar dan China tiba di kamp Nayapara di Cox's Bazar, Bangladesh, 22 Agustus 2019.

Kepala Misi Pencari Fakta PBB di Myanmar Marzuki Darusman, Selasa (22/10), mengingatkan bahwa ‘’ada risiko serius berulangnya genosida’’ terhadap sekitar 600 ribu anggota kelompok minoritas Muslim-Rohingya yang masih tinggal di negara itu.

Marzuki Darusman mengatakan kepada Komite HAM di Majelis Umum PBB bahwa ‘’situasi kelompok Muslim-Rohingya di negara bagian Rakhine telah memburuk.’’ Dia merujuk pada masih terus terjadinya tindakan diskriminasi, segregasi, pembatasan gerak, rasa tidak aman, kurangnya akses pada tanah, lapangan pekerjaan, pendidikan dan layanan kesehatan.

Pemerintah Myanmar menolak mengakui kelompok Muslim-Rohingya sebagai warga negara, atau sebagai salah satu kelompok etnis di negara itu, dan menjadikan kelompok ini berstatus tanpa kewarganegaraan.

Militer Myanmar memulai kampanye kontra-pemberontakan terhadap Muslim-Rohingya pada Agustus 2017 sebagai tanggapan terhadap serangan kelompok pemberontak. Lebih dari 700 ribu warga Muslim-Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari apa yang disebut sebagai kampanye genosida, termasuk perkosaan massal, pembunuhan dan pembakaran rumah-rumah mereka.

Misi Independen Pencari Fakta Myanmar yang diketuai Marzuki Darusman, mengatakan dalam laporan finalnya bulan lalu bahwa Myanmar seharusnya dimintai pertanggungjawaban di forum-forum hukum internasional atas dugaan genosida terhadap kelompok Muslim-Rohingya. [em/ft]

XS
SM
MD
LG