Tautan-tautan Akses

Militer Israel Katakan Pasukannya Lakukan Operasi Darat di Jalur Gaza


Tank Israel menuju perbatasan Jalur Gaza di Israel selatan pada Kamis, 12 Oktober 2023. (Foto: AP)
Tank Israel menuju perbatasan Jalur Gaza di Israel selatan pada Kamis, 12 Oktober 2023. (Foto: AP)

Militer Israel pada Kamis (26/10) mengatakan pihaknya melancarkan operasi darat di Jalur Gaza, di mana selama hampir tiga pekan pasukan Israel telah melancarkan serangan udara yang menargetkan militan Hamas.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan tank-tank dan pasukan infanterinya “menghantam banyak sel teroris, infrastruktur dan pos-pos peluncuran rudal antitank” sebelum kembali ke wilayah Israel.

IDF mengatakan operasi itu dilakukan untuk mempersiapkan “tahap-tahap pertempuran berikutnya.”

Para pejabat Israel telah berjanji untuk memastikan Hamas tidak dapat lagi melancarkan serangan yang mengancam Israel setelah serangan 7 Oktober oleh kelompok militan itu yang menewaskan sekitar 1.400 orang.

Militer Israel telah memanggil 300 ribu tentara cadangan dan menempatkan pasukan di dekat perbatasan Gaza menjelang serangan darat yang diperkirakan akan dilakukannya.

Tangkapan layar dari rekaman yang dirilis oleh tentara Israel pada 26 Oktober 2023, menunjukkan serangan di Gaza utara dengan tank dan infanteri.
Tangkapan layar dari rekaman yang dirilis oleh tentara Israel pada 26 Oktober 2023, menunjukkan serangan di Gaza utara dengan tank dan infanteri.

PM Israel Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan di televisi hari Rabu mengatakan Israel “sedang mempersiapkan invasi darat. Saya tidak akan merinci kapan, bagaimana atau berapa banyak.”

Israel telah memperingatkan orang-orang yang tinggal di bagian utara Jalur Gaza agar pindah ke bagian selatan, dalam langkah yang kata militer dimaksudkan untuk meminimalkan bahaya pada warga sipil.

Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina Lynn Hastings mengemukakan dalam sebuah pernyataan hari Kamis bahwa peringatan awal Israel tidak ada artinya bagi orang-orang yang tidak dapat pindah atau tidak punya tempat tujuan pergi.

“Ketika jalur evakuasi dibom, ketika orang-orang di utara juga di selatan terperangkap dalam permusuhan, ketika bahan-bahan pokok untuk bertahan hidup kurang, dan ketika tidak ada jaminan untuk kembali, orang-orang hanya punya pilihan-pilihan yang mustahil,” kata Hasting dalam sebuah pernyataan. “Tak ada tempat yang aman di Gaza.”

Presiden AS Joe Biden menyuarakan dukungan hari Rabu atas apa yang kini tampak seperti jauh dari tujuan, harapan AS yang telah lama ditunggu-tunggu mengenai pembentukan negara-negara Israel dan Palestina yang terpisah dan otonomi.

Biden mengatakan pada konferensi pers Gedung Putih bahwa “aspirasi rakyat Palestina tidak dapat diabaikan. Rakyat Israel dan Palestina sama-sama berhak untuk hidup berdampingan dengan aman, bermartabat dan damai.”

Pemimpin AS itu mengatakan ia khawatir oleh “para pemukim ekstremis” yang menyerang warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel. Ia menyebutnya sebagai “menyiram api dengan bensin,” dan mengatakan para pemukim “menyerang warga Palestina di tempat-tempat yang mereka berhak tinggali.”

Biden juga menyatakan prihatin atas keselamatan lebih dari 200 sandera, sebagian dari mereka diduga warga Amerika, yang ditangkap Hamas dalam serangan 7 Oktober.

“Jelas mereka dalam bahaya,” kata Biden. “Jika kita dapat mengeluarkan mereka, kita harus melakukannya.”

Hamas telah membebaskan empat sandera dalam beberapa hari ini, seorang perempuan Amerika dan putranya dan dua perempuan lansia Israel. Tetapi Departemen Luar Negeri AS memperingatkan dalam sebuah pernyataan mengenai sulitnya pembebasan lebih banyak lagi.

“Anda dapat bayangkan betapa rumitnya ini,” kata pernyataan itu. “Kami berhadapan dengan Israel, Mesir, dan Hamas, dan kami tidak berbicara langsung dengan Hamas. Mesir dapat mengirim pesan untuk Hamas, Qatar dapat mengirim pesan untuk Hamas. Tetapi dapat Anda bayangkan betapa sulit setiap hal kecil ini. Setiap bagiannya rumit.”

“Ini seperti membuka puzzle di mana kita dapat membuka satu lapisan yang dapat membuka satu potongan kecilnya,” kata Departemen Luar Negeri AS. “Dan kemudian hambatan lainnya muncul, dan kita harus memahaminya bersama dengan semua pihak tentang bagaimana membuka bagian itu.”

Kementerian Kesehatan yang dikendalikan Hamas pada Rabu mengatakan jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai sedikitnya 6.546, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.

Namun, Biden mengatakan ia “tidak mempercayai jumlah korban tewas dari Hamas.”

“Saya tidak tahu apakah Palestina mengatakan yang sesungguhnya mengenai jumlah orang yang tewas,” kata Biden. “Saya yakin orang-orang tak bersalah terbunuh, dan itulah harga dari melancarkan perang.” [uh/ab]

Forum

XS
SM
MD
LG