Tautan-tautan Akses

Meskipun Berisiko Kanker, Menyirih Tetap Populer di Myanmar


Sebagian besar penduduk Myanmar masih mengunyah daun sirih, kebiasaan yang berisiko tetapi populer di banyak negara Asia. (Foto: dok).

Dalam memperingati Hari Kanker Sedunia, 4 Februari, pihak berwenang kesehatan memperingatkan bahaya mengunyah sirih atau menyirih, kebiasaan yang berisiko tetapi populer di banyak negara Asia. Salah satu negara itu adalah Myanmar, di mana lebih dari separuh laki-laki di sana menyirih.

Di Myanmar, kita mudah mendapati kios-kios di tepi jalan menjual sirih. Tanda-tanda menyirih adalah kebiasaan di sana mencakup noda merah pada gigi serta pada jalanan dan trotoar.

Alasan menyirih bisa kita ketahui dari dua penduduk Rangoon, yang mengungkapkan, "Setelah menyirih, mulut saya terasa lebih enak dan pikiran terasa rileks," kata Ko Zaw Naing.

"Mulut saya bau. Saya ingin mulut saya berbau lebih baik," kata Wai Htet Aung.

Meskipun Berisiko Kanker, Menyirih Tetap Populer di Myanmar
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:54 0:00

Angka-angka dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) menunjukkan, hampir 25 persen perempuan dan lebih dari 60 persen laki-laki di Myanmar menyirih.

Aung Thura, usia 30 tahun, telah menyirih selama delapan tahun. "Sirih membuat saya terjaga dan tidak merasa bosan ketika sedang bekerja," jelasnya.

Noda merah pada gigi, merupakan ciri khas orang yang memiliki kebiasaan menyirih. (Foto: dok).
Noda merah pada gigi, merupakan ciri khas orang yang memiliki kebiasaan menyirih. (Foto: dok).

Menyirih adalah mengunyah buah pinang yang dibungkus daun sirih bersama sedikit kapur. Di Myanmar, campuran itu biasanya ditambah tembakau. Penasehat kesehatan mengatakan nikotin dalam tembakau dan arekolin dalam pinang adalah kombinasi yang buruk.

Dr. Than Sein adalah ketua Yayasan Kesehatan Rakyat. Yayasan itu mengampanyekan kesehatan di Myanmar dan mencoba mendidik masyarakat tentang risiko itu.

"Keduanya adalah bahan kimia yang menimbulkan kecanduan, jadi dengan mencampurnya, orang semakin suka mengunyahnya," kata Dr. Than Sein.

Kampanye yayasan itu termasuk iklan di televisi dengan menampilkan penyirih yang sakit parah.

"Menyirih, penyebab utama kanker mulut, kanker laring atau pangkal tenggorokan, kanker paru dan juga kanker perut," jelas Dr. Than Sein.

Penjual daun sirih di pasar kamp pengungsi Rohingya di Kutupalong, 31 Maret 2019. (Foto: dok).
Penjual daun sirih di pasar kamp pengungsi Rohingya di Kutupalong, 31 Maret 2019. (Foto: dok).

Menurut WHO, orang yang rutin menyirih dengan campuran tembakau untuk jangka waktu lama, kemungkinannya terkena kanker mulut lebih dari tujuh kali dibandingkan orang yang tidak menyirih. Tetapi beberapa orang menepis risiko itu.

"Saya tidak khawatir. Tidak ada yang terjadi seperti itu," kata Wai Htet Aung.

"Menyirih tidak bisa menyebabkan kanker mulut. Kanker mulut terjadi jika kita tidur malam dengan sirih tetap dalam mulut," jelas Aung Thura.

Tetapi Dr. Than Sein mengatakan risiko jelas ada bagi semua penyirih, terutama bagi mereka yang melakukannya lebih dari 10 tahun.

Sering terjadi, mereka baru mengetahui bahwa mereka mengidap kanker ketika sudah terlambat untuk disembuhkan.

"Kanker timbul perlahan dan orang-orang tidak menyadarinya dan begitu mengetahuinya, mereka hampir mati," kata Dr. Than Sein.

Tetapi di Myanmar, semua tanda menunjukkan bahwa menyirih tetap menjadi kebiasaan yang paling populer. [ka/ii]

Recommended

XS
SM
MD
LG