Tautan-tautan Akses

Meski Ditekan, Remaja AS Bertekad Lanjutkan Advokasi Untuk Etnis Uighur


Seorang lelaki etnis Uighur mengenakan topeng saat protes terhadap China di Istanbul, Turki, 14 Desember 2019. (Foto: Reuters)

Seorang remaja Amerika, yang videonya di aplikasi media sosial TikTok baru-baru ini menimbulkan kontroversi, menyatakan ia akan melanjutkan aktivitasnya untuk membangkitkan kesadaran mengenai penderitaan Muslim Uighur di China.

Dalam rekaman di video yang diunggah di aplikasi media sosial TikTok Sabtu 23 November, seorang remaja putri bernama Feroza Azis mengemukakan keinginannya untuk memberikan tutorial untuk melentikkan bulu mata. Namun ini bukan lah tutorial makeup belaka, melainkan berisikan kecamannya atas kebijakan pemerintah China terhadap warga muslim Uighur di negara itu.

“Letakkan pelentik bulu matamu, gunakan ponsel yang kamu gunakan sekarang ini untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di China sekarang. Bagaimana mereka menggunakan kamp-kamp konsentrasi terhadap warga muslim yang tak bersalah, dan menceraiberaikan mereka dari keluarga mereka, menculik mereka, membunuh mereka, memerkosa mereka, memaksa mereka makan babi, minum minumah keras, memaksa mereka berganti agama lain," tutur Feroza Azis.

Jika tidak, tentu saja mereka akan dibunuh. Orang-orang yang masuk ke kamp konsentrasi itu tidak akan kembali hidup-hidup. Ini holokos lainnya, namun tidak ada yang membicarakannya," lanjutnya.

Rekaman berdurasi sekitar 40 detik itu adalah yang pertama dari tiga video berisikan kecaman Feroza Aziz. Remaja berusia 17 tahun dari New Jersey itu mengatakan akunnya di jejaring sosial dari China itu kemudian dibekukan setelah ia mengunggah video-video tersebut.

Dalam perbincangannya dengan VOA ia mengatakan video pertamanya menyampaikan bagaimana warga Uighur dibuang ke kamp-kamp konsentrasi. Dalam semalam setelah mengunggahnya, ia melihat videonya telah menjadi viral dan ditonton lebih dari satu juta kali. Ia kemudian memutuskan untuk memposting dua video lainnya mengenai situasi serupa.

Menurut perkiraan pemerintah AS, sekarang ini, sekitar 13 juta warga minoritas muslim Uighur dan keturunan Turki lainnya tinggal di kawasan Xinjiang di bagian Barat laut China.

Protes muslim Indonesia terhadap kekerasan pada Uighur. (Foto: AP)
Protes muslim Indonesia terhadap kekerasan pada Uighur. (Foto: AP)

Pemerintah China menghadapi kritik yang kian besar dari masyarakat internasional mengenai penahanan warga Uighur dan muslim lainnya di kamp-kamp semacam itu.

Pemerintah AS dan berbagai organisasi HAM memperkirakan 10 persen populasi Uighur kini berada dalam tahanan. Beijing membela keberadaan kamp-kamp itu yang disebutnya sebagai “pusat pelatihan keterampilan.”

Namun hanya dua hari setelah ia mengunggahnya, Aziz mendapati bahwa akun TikToknya dibekukan.

"Saya bangun Senin pagi dan melihat akun saya dibekukan. Saya pikir ini sangat mencurigakan dan aneh, karena satu app milik Tiongkok membekukan akun saya setelah saya membicarakan tentang situasi Uighur," kata Aziz, yang orang tuanya berasal dari Afghanistan.

Akan tetapi setelah pemberitaan mengenai pembekuan akun itu meluas, beberapa hari kemudian TikTok meminta maaf kepada Aziz karena menghapus videonya. Aplikasi tersebut menyatakan hal itu terjadi karena “kekeliruan moderasi oleh manusia” atau human moderation error.

Eric Han, yang memimpin tim moderasi konten TikTok di AS, meminta maaf atas kekeliruan di pihaknya. TikTok mengaku menghapusnya secara tidak sengaja selama 50 menit. Dalam pernyataannya yang dimuat di blog TikTok, Han mengemukakan, berdasarkan pedoman situs itu, konten video Aziz tidak termasuk yang dilarang dan video yang viral tersebut telah diunggah kembali oleh TikTok.

Meskipun telah diaktifkan lagi, akun Aziz juga sempat diblokir karena diduga melanggar kebijakan mengenai pembuatan materi yang terkait terorisme. Han mengemukakan video Aziz sebelumnya menampilkan foto Osama bin Laden, suatu pelanggaran kebijakan TikTok tentang pembuatan gambar yang terkait dengan tokoh-tokoh teroris.

Menurut Azis, permintaan maaf TikTok itu tidak disampaikan secara tulus. “Mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu keliru dan mereka berusaha menutup-nutupinya,” lanjutnya.

Sebetulnya, apa alasan Aziz membuat video yang disamarkan seperti tutorial make up itu? Menurutnya, orang-orang sebayanya tampaknya tak ada yang benar-benar peduli pada keadaan dunia sekarang ini. Mereka lebih peduli pada masalah fashion, atau make up atau film-film terbaru yang keluar.

"Sebagai seorang Amerika keturunan Afghanistan, rasanya menyakitkan melihat keluarga di Afghanistan menderita karena pemerintah dan Taliban. Kita lihat Tiongkok melakukan hal yang sama terhadap rakyat mereka dan warga Uighur juga mengalami ini," kata Azis dalam wawancaranya dengan BBC.

"Dan sebagai Muslim, saya selalu menghadapi penindasan dan rasisme. Tetapi melihat kelompok etnis itu mengalami hal yang jauh lebih berat daripada yang saya bayangkan, saya pikir saya perlu menyebarluaskan kesadaran mengenai hal ini. Orang perlu membicarakan hal ini, karena semua orang hanya membungkam. Media berita bungkam. Jadi saya pikir saya harus berbicara ini sebagai seorang muslim dan seorang Afghanistan," paparnya.

Aziz menambahkan ia akan terus menggunakan TikTok dan platform media sosial lainnya “untuk menyebarkan berita dan meningkatkan kesadaran mengenai situasi Uighur.”

Ia mengaku tidak takut berbicara meskipun akun media sosialnya sempat dibekukan. Ia mengajak semua orang untuk berani menyuarakan isu-isu yang memang perlu diangkat, karena ia saja yang berusia 17 tahun berani mengemukakannya.

Hi guys, kamu ingin bagian ke-dua video tentang cara melentikkan bulu mata, kan. Ini dia. Ngomong-ngomong, saya lihat TikTok tidak menghapus video-video saya. Tetapi banyak di antara kalian yang bertanya apa yang bisa dilakukan. Misalnya, saya kan belum cukup umur, saya 10 atau 16 tahun. Apa yang bisa dilakukan dalam hal ini," kata Azis.

"Pertama-tama, itu bukan pola pikir yang tepat untuk kita miliki. Menyebarluaskan kesadaran itu luar biasa, menakjubkan lho. Kita bisa membuat PBB turun tangan dan membantu Sudan karena kita menyebarluaskan kesadaran tentang ini. Jadi kita juga bisa melakukan hal yang sama mengenai China," tegasnya. [uh/ab]

Lihat komentar (2)

XS
SM
MD
LG