Tautan-tautan Akses

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dilarang mendarat di Negeri Belanda hari Sabtu (11/3), sementara tentangan meningkat terhadap kampanye Turki di seluruh Uni Eropa.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras larangan tersebut, dengan menyebut mitranya dalam NATO itu “sisa Nazi” persamaan yang kedua kali disebutnya antara satu negara Eropa dan Nazi pekan ini.

“Itu tentu saja ucapan yang gila,” kata Perdana Menteri Belanda Mark Rutte kepada para wartawan hari Sabtu. “Saya memahami mereka marah, tetapi ucapan tersebut sangat keterlaluan.”

Banyak negara Uni Eropa menentang kunjungan para menteri Turki untuk berkampanye menjelang referendum mengubah UUD Turki. Ankara ingin menggalang dukungan dari jutaan warga Turki yang tinggal di Eropa agar memberi kekuasaan yang lebih besar kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan memungkinkannya dapat terus berkuasa sampai tahun 2029.

Ketegangan telah terus meningkat selama beberapa hari, sementara pihak berwenang di Austria dan Jerman menghambat kehadiran para menteri Turki dalam kampanye menggalang para pendukung di Eropa.

Menlu Turki Cavusoglu mengundang para pendukung ke pekarangan konsulat di Hamburg hari Selasa, setelah ia dilarang menggunakan gedung lain di kota Jerman itu.

Berlin menyebut ucapan Erdogan sebelumnya yang menyamakan tindakan Jerman itu dengan tindakan Nazi “tidak dapat dibenarkan.”

Pemimpin ektrem kanan Belanda Geert Wilders ikut serta dalam perdebatan tersebut pekan ini, sebelum rencana kampanye di Den Haag. “Kita disini di Negeri Belanda, bukan di Turki, dan seorang menteri Turki tidak boleh melobi orang di sini untuk mendukung Erdogan, seorang diktator,” kata Wilders. [gp]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG