Tautan-tautan Akses

AS

Menlu AS Serukan Kewaspadaan Terhadap Gejala Nasionalisme


U.S. Secretary of State John Kerry (L) and former secretaries of State Hillary Clinton, Colin Powell and Madeleine Albright (R) attend a reception celebrating the completion of the U.S. Diplomacy Center Pavilion in Washington, Jan. 10, 2017.

Menlu AS, John Kerry dan tiga pendahulunya, Selasa (10/1) memuji sejarah diplomasi Amerika dalam acara untuk menandai selesainya pembangunan Pusat Diplomasi Amerika di Departemen Luar Negeri di Washington, D.C.

Menteri Luar Negeri John Kerry yang akan segera mengakhiri masa jabatannya menyerukan kewaspadaan terhadap gejala nasionalisme yang menimbulkan ancaman perpecahan di dunia.

Kerry dan tiga pendahulunya, Selasa (10/1) memuji sejarah diplomasi Amerika dalam acara untuk menandai selesainya pembangunan Pusat Diplomasi Amerika di Departemen Luar Negeri di Washington, D.C.

John Kerry, dan mantan Menteri Luar Negeri Madeleine Albright, Hillary Clinton dan Colin Powell memuji peran diplomasi Amerika Serikat dalam menjaga perdamaian dunia, menyelesaikan konflik dan mendorong pembangunan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Kerry menyerukan kewaspadaan terhadap gejala nasionalisme dan berbagai kecenderungan lain yang menimbulkan ancaman perpecahan di dunia.

Dalam pidato sambutannya, Kerry mengatakan, “Ada banyak suara di dunia yang pada dasarnya kehilangan harapan pada diplomasi. Mereka melihat, dan sebagian secara terang-terangan mendorong keretakan kerjasama, mendorong pembangunan dinding ekonomi dan politik, dan tumbuhnya kecurigaan dan perpecahan sesuai perbedaan garis ras, etnis, negara dan agama.”

Kerry mengatakan sejarah diplomasi Amerika mencerminkan visi yang jauh berbeda dan memberikan semangat.

“Kita tidak ditentukan oleh etnisitas. Kita tidak ditentukan oleh garis keturunan. Kita tidak ditentukan oleh nama. Kita tidak ditentukan oleh dari mana kita berasal. Kita dibentuk oleh sebuah ide. Tidak seperti kebanyakan negara lain di dunia, ide itu adalah bahwa semua orang diciptakan sama,” imbuhnya.

Sebagai tanggapan terselubung terhadap kritik yang diarahkan kepadanya selama masa kampanye presiden tahun lalu, Hillary Clinton mengatakan paviliun yang diberi nama Hillary Clinton itu merupakan bagian paling transparan dari keseluruhan proyek. Ia mengatakan bahwa kini pelajaran diplomasi lebih penting dan mendesak daripada sebelumnya.

“Demokrasi, kebebasan dan supremasi hukum kini terancam di seluruh dunia. Pasang naik otoritarianisme dan liberalisme mengancam fondasi era global pasca-Perang Dunia II yang telah dibangun dan dibela oleh para diplomat Amerika sejak era George Marshall dan Dean Acheson,” kata Hillary Clinton.

Di tengah-tengah ketegangan saat ini dengan Rusia, mantan Menteri Luar Negeri Colin Powell mengenang masa ketika hubungan antar kedua negara lebih bersahabat dan ia menerima sebotol vodka sebagai hadiah dari Menteri Luar Negeri Rusia, Igor Ivanov.

“Botol vodka itu berbentuk sebuah senapan serbu AK-47, dan dengan semua kemegahannya botol itu sekarang ada di sini, di Departemen Luar Negeri,” kata mantan Menteri Luar Negeri Colin Powell.

Pusat Diplomasi AS adalah sebuah museum dan pusat pendidikan yang khusus didedikasikan bagi sejarah diplomasi Amerika dan pekerjaan penting dan sering berbahaya yang dilakukan oleh para diplomat Amerika. Museum ini akan dibuka untuk publik tahun depan. [lt/uh]

XS
SM
MD
LG