Tautan-tautan Akses

Menlu AS Kunjungi Qatar, Bahas Upaya Redakan Krisis Teluk


Menlu AS Rex Tillerson bersama Menlu Qatardi Doha, 22 Oktober 2017.

Menlu AS Rex Tillerson mengungkapkan keprihatinannya atas ketegangan berkepanjangan antara Qatar dan negara-negara tetangganya. Diplomat tertinggi AS itu berada di Doha untuk membahas usaha gabungan kontra-terorisme. Ia tiba Minggu malam di Qatar setelah singgah di Arab Saudi, di mana ia mendesak negara kerajaan itu untuk menjalin kerjasama dengan negara tetangganya, Irak, setelah mengalami ketegangan selama puluhan tahun.

Pada konperensi pers di Doha, Tillerson mendesak Qatar dan negara-negara tetangganya di Teluk untuk menyelesaikan perselisihan mereka. Ia mengatakan, AS siap membantu memfasilitasi usaha diplomatik tersebut, namun tidak akan memaksakan solusi.

"Pertikaian di Teluk telah berlangsung hampir lima bulan, dan Amerika Serikat masih mengkhawatirkannya. Keprihatinan kami saat ini bahkan sebanding dengan sewaktu krisis itu pecah. Pertikaian itu menimbulkan dampak negatif terhadap ekonomi dan militer semua pihak yang terlibat. Amerika Serikat ikut merasakan akibatnya,” kata Tillerson.

Qatar dituduh negara-negara Teluk dan Mesir menampung militan-militan yang didukung Iran, sebuah tuduhan yang dibantah Doha dan Teheran. Iran mendukung milisi-milisi yang memerangi ISIS di Irak dan Suriah, namun juga mendanai kelompok teroris Hamas dan membantu para pemberontak bersenjata di Yaman.

Irak dan Arab Saudi, Minggu, meresmikan sebuah badan kerjasama untuk mengoordinasikan aktivitas-aktivitas kontra-terorisme. Tillerson menghadiri acara itu di Riyadh.

"Pastinya, kelompok-kelompok milisi Iran itu kini berada di Irak, dan karena perang melawan ISIS hampir berakhir, para milisi itu harus pulang ke negara mereka. Setiap pejuang asing yang berada di Irak harus pulang, dan biarkan rakyat Irak menguasai kembali kawasan-kawasan yang sempat diambil alih oleh ISIS namun kini berhasil dibebaskan. Biarkan rakyat Irak membangun kembali kehidupan mereka dengan bantuan tetangga-tetangga mereka,” lanjutnya.

Kerjasama itu dijalin setelah puluhan tahun ketegangan antara Irak dan Arab Saudi. Kerjasama itu mencakup kerjasama ekonomi untuk membangun kembali Irak. Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan, kedua negara berusaha membangun kembali fondasi yang telah ambruk selama pertikaian terjadi.

"Kecenderungan alami kedua negara dan rakyatnya adalah, mereka erat terhadap satu sama lain sebagaimana itu terjadi berabad-abad sebelumnya,” kata Al-Jubeir.

Perdana Menteri Irak Haider-al Abadi menggaungkan sentimen itu. Irak sedang berusaha merebut kembali banyak wilayah yang diambil alih ISIS tiga tahun lalu. Namun, Kurdi, yang penting dalam perjuangan ini, menyatakan kemerdekaan dari Baghdad bulan lalu, sehingga memicu ketegangan baru di bagian utara Irak. AS mengatakan, keterlibatan Iran di Irak, Suriah, Yaman dan konflik-konflik regional lain mengganggu kestabilan wilayah tesebut. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG