Tautan-tautan Akses

AS

Menhan AS Jim Mattis Melawat ke Jepang dan Korea Selatan


Menteri Pertahanan AS Jim Mattis melakukan lawatan ke Jepang dan Korea Selatan.

Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis melawat ke Jepang dan Korea Selatan, Rabu (1/2), dalam kunjungan luar negeri pertamanya sejak ia menjabat.

Departemen Pertahanan AS, Pentagon mengatakan, perjalanan Menteri Pertahanan Amerika, Jim Mattis ke Jepang dan Korea Selatan merupakan kesempatan untuk mendengarkan keprihatinan dua sekutu militer terdekat Amerika itu.

Seorang pejabat pertahanan mengatakan, Mattis diduga akan bertemu dengan penjabat presiden Korea Selatan, Perdana Menteri Jepang dan menteri pertahanan kedua negara.

Pengamat mengatakan, lawatan itu bertujuan meyakinkan sekutu-sekutunya beberapa bulan sebelum pemerintah menjelaskan strateginya di Pasifik.

Pernyataan Presiden Donald Trump selama kampanye mendesak negara-negara, termasuk Jepang dan Korea, untuk "membayar" keamanan yang disediakan AS, dan bahkan dalam satu wawancara mengatakan bahwa Jepang harus membuat senjata nuklirnya sendiri untuk mencegah ancaman nuklir Korea Utara.

Bonnie Glaser dari Pusat Studi Strategis dan Internasional mengatakan, "Saya ragu bahwa Menteri Pertahanan Mattis akan mendorong salah satu dari negara-negara tersebut untuk mengembangkan senjata nuklir. Kita ingin mengemukakan bahwa keamanan mereka sangat terpadu dengan keamanan AS dan bahwa kewajiban masing-masing akan dipenuhi."

Kunjungan ke wilayah Asia Timur ini dilakukan setelah komentar Gedung Putih yang mengisyaratkan keterlibatan lebih dalam di Laut China Selatan, selagi China terus membangun pulau-pulau buatan dan berselisih dengan negara-negara tetangganya memperebutkan beberapa kepulauan seperti Spratly.

Juru bicara pers Gedung Putih, Sean Spicer mengatakan, "Jika pulau-pulau tersebut memang terletak di perairan internasional dan bukan bagian dari China, maka ya, kita pasti akan mempertahankan wilayah internasional itu agar tidak dicaplok oleh satu negara."

Seperti apa pertahanan itu belum ditentukan, namun para ahli seperti Bonnie Glaser menyerukan kehati-hatian.

"Jika kita terburu-buru mengambil sikap tegas dan tidak bisa mempertahankannya, itu dapat membuat kredibilitas Amerika dipertanyakan pada masa depan," kata Glaser.

Angkatan Laut AS sering melakukan operasi kebebasan pelayaran di perairan internasional, tetapi AS tidak mau campur tangan dalam persengketaan mengenai wilayah daratan. [ps/ds]

XS
SM
MD
LG