Tautan-tautan Akses

Mengayuh Sepeda, Mendulang Cokelat di Pantai Gading


Dana Mroueh, pemilik pabrik rumahan cokelat organik "Mon Choco", sedang menggiling biji-biji cokelat dengan bantuan sepeda di Abidjan, Pantai Gading, 10 Januari 2019.

Pabrik cokelat milik Dana Mroueh termasuk langka di Pantai Gading. Tapi bukan saja karena negara penghasil kakao terbesar di dunia itu tak banyak memproduksi cokelat yang sudah siap konsumsi.

Di tengah ruangan pabriknya, Mon Choco, ada sebuah sepeda penggilingan yang dikelilingi biji-biji kakao yang sudah disortir. Biji-biji itu kemudian dimasukkan ke dalam corong dan diproses menjadi bentuk pasta dengan penggilingan yang dijalankan dengan mengayuh sepeda.

Cokelat organik yang dibuat dari biji kakao yang digiling dengan bantuan sepeda di sebuah pabrik di Abidjan, Pantai Gading, 10 Januari 2019.
Cokelat organik yang dibuat dari biji kakao yang digiling dengan bantuan sepeda di sebuah pabrik di Abidjan, Pantai Gading, 10 Januari 2019.

Mroueh, seorang keturunan warga Pantai Gading keturunan Perancis-Lebanon, mengawasi seluruh proses mulai dari pemilihan biji hingga diolah menjadi permen cokelat. Cokelat batangan yang dihasilkan Mon Choco adalah produk organik dan ramah lingkungan.

“Kami ingin meminimalkan dampak terhadap lingkungan dengan menggunakan sedikit mungkin listrik,” kata Mroueh sambil mengawasi beberapa karyawannya yang mengenakan jas putih sedang menyortir biji kakao.

“Cokelat saya terbuat dari 70 persen kakao dan 30 persen gula merah. Kami tidak menambahkan lemak kakao atau minyak tanaman. Hanya kakao mentah dan gula,” kata Mroueh.

Seorang karyawan menunjukkan sekeping cokelat "Mon Choco" cokelat organik yang dibuat manual dengan mengunakan gilingan kakao bertenaga sepeda di Abidjan, Pantai Gading, 10 Januari 2019.
Seorang karyawan menunjukkan sekeping cokelat "Mon Choco" cokelat organik yang dibuat manual dengan mengunakan gilingan kakao bertenaga sepeda di Abidjan, Pantai Gading, 10 Januari 2019.

Tapi cokelat organik sulit ditemukan di Pantai Gading karena mayoritas petani menggunakan bahan kimia dan insektisida.

Akibatnya, memproduksi cokelat organik sangat mahal dan hanya bisa dijual untuk pasar Eropa. Cokelat batangan Mon Choco dijual seharga sekitar 1.500 franc atau setara Rp 37.000. Bagi konsumen local Pantai Gading, harga cokelat Mon Choco tak jangkau.

Mon Choco dan inisiatif lainnya lainnya mulai berkembang di Pantai Gading. Tapi hanya punya ceruk pasar yang sangat terbatas sekitar 5.000 ton biji kakao setahun, di negara yang setiap tahun memproduksi lebih dari 2 juta ton kakao dalam setahun. [ft]

XS
SM
MD
LG