Tautan-tautan Akses

Mantan Presiden Rusia: Kami Harus Pakai Senjata Nuklir Jika Serangan Ukraina Sukses


Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia dan Ketua Partai Rusia Bersatu Dmitry Medvedev, kiri, mengunjungi tempat latihan militer Totsky di wilayah Orenburg, Rusia, 14 Juli 2023. (Foto: via AP)
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia dan Ketua Partai Rusia Bersatu Dmitry Medvedev, kiri, mengunjungi tempat latihan militer Totsky di wilayah Orenburg, Rusia, 14 Juli 2023. (Foto: via AP)

Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, Minggu (30/7), mengatakan Moskow akan terpaksa menggunakan senjata nuklir jika serangan balasan yang sedang dilakukan Kyiv berhasil.

Medvedev, yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin, mengatakan dalam pesan di akun media sosial resminya bahwa Rusia akan terpaksa kembali pada doktrin nuklirnya dalam skenario tersebut.

"Bayangkan jika serangan balasan, yang didukung oleh NATO, berhasil dan mereka merampas sebagian dari tanah kami, maka kami akan terpaksa menggunakan senjata nuklir sesuai dengan aturan presiden Rusia.

"Tidak akan ada pilihan lain. Jadi musuh-musuh kita seharusnya berdoa untuk keberhasilan prajurit kami. Mereka memastikan agar perang nuklir global tidak terjadi," katanya.

Medvedev, yang menggambarkan dirinya sebagai salah satu pejabat yang bersuara paling vokal di Moskow, merujuk pada bagian dari doktrin nuklir Rusia. Doktrin itu menyatakan bahwa senjata nuklir boleh digunakan sebagai tanggapan terhadap agresi terhadap Rusia yang dilakukan dengan menggunakan senjata konvensional yang mengancam eksistensi negara Rusia.

Ukraina mencoba merebut kembali wilayah yang telah dianeksasi secara sepihak oleh Rusia dan dinyatakan sebagai bagian dari wilayahnya sendiri. Langkah Moskow tersebut dikutuk oleh Kyiv dan sebagian besar negara Barat.
Putin mengatakan pada Sabtu bahwa tidak ada perubahan serius di medan perang dalam beberapa hari terakhir yang penting untuk dilaporkan. Namun ia menyebutkan Ukraina telah kehilangan banyak peralatan militer sejak 4 Juni. Sementara Kyiv mengatakan pasukannya membuat beberapa kemajuan dalam upaya merebut kembali wilayah mereka, meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat dari yang diinginkan.
Kritikus Kremlin di masa lalu menuduh Medvedev membuat pernyataan ekstrem sebagai upaya menghalangi negara-negara Barat untuk terus memasok senjata ke Ukraina. [ah/rs]

Forum

XS
SM
MD
LG