Tautan-tautan Akses

Malta Izinkan 49 Migran Masuk ke Wilayah Malta


Para migran melambaikan tangan dan memberi tanda dua jari membentuk huruf v turun di Hay Wharf, Pieta, Malta, 9 Januari 2019.

Perdana Menteri Malta Joseph Muscat, Rabu (9/1), mengumumkan negaranya akan mengizinkan 49 migran yang berada di dua kapal LSM Jerman di lepas pantainya untuk mendarat di pulau itu. Kesepakatan itu tercapai setelah delapan negara Uni Eropa sepakat untuk membawa para migran itu ke negara mereka.

Sebanyak 49 migran yang diselamatkan oleh dua kapal kemanusiaan Jerman, Sea Watch dan Sea Eye, Rabu (9/1), turun ke darat menggunakan kapal-kapal patroli militer Malta karena kapal-kapal LSM itu belum diizinkan menuju pelabuhan di La Valletta.

Selama berhari-hari, para migran itu menanti apa yang akan terjadi pada mereka. Tetapi memburuknya kondisi disertai angin kencang dan laut yang ganas membantu tercapainya kesepakatan.

Tiga puluh dua migran di kapal Sea Watch diselamatkan pada 22 Desember. Sebanyak 17 migran lainnya di kapal Sea Eye diselamatkan pada 29 Desember. Kondisi mereka di kapal, sulit karena kurangnya pasokan.

Delapan negara Uni Eropa akhirnya sepakat untuk menerima para migran tersebut jika Malta mengizinkan mereka berlabuh. Negara-negara itu termasuk Jerman, Perancis, Portugal, Irlandia, Rumania, Luksemburg, Belanda, bahkan Italia yang gencar menolak lebih banyak migran ke pantainya. Pembicaraan juga sedang berlangsung dengan negara-negara lainnya.

Sampai Selasa (8/1), perdana menteri Malta menyatakan pulau itu telah mengizinkan pendaratan 249 migran pada akhir Desember dan tidak bisa membiarkan orang lain menirunya tanpa memperoleh persetujuan sebelumnya. Penjelasannya diterima.

Para migran itu juga akan didistribusikan kembali di negara-negara Uni Eropa, meski sejumlah kecil dari mereka akan tinggal di Malta. Beberapa juga akan dikembalikan ke negara asalnya, termasuk 44 imigran Bangladesh.

Perdana Menteri Joseph Muscat mengatakan setiap jam yang berlalu tanpa solusi tidak membuatnya bangga. Akhirnya, ia mengatakan, "Sebuah solusi telah didapat, namun bukan oleh Eropa, melainkan oleh beberapa negara anggota."

Kesepakatan yang dicapai itu menunjukkan perpecahan dalam pemerintah Italia di mana Perdana Menteri Giuseppe Conte mengatakan penerimaan Italia terhadap sekelompok migran anak dengan orang tua mereka, tidak akan mempengaruhi penindakan keras pemerintah dalam penerimaan migran.

Kapal penyelamat Sea-Watch menunggu di perairan Malta, 8 Januari 2018.
Kapal penyelamat Sea-Watch menunggu di perairan Malta, 8 Januari 2018.

Menteri Dalam Negeri Matteo Salvini mengecam kesepakatan itu, dan mengatakan hal itu akan semakin mendorong perdagangan manusia.

Berbicara di Polandia, Salvini mengatakan "Tujuan kita adalah melindungi perbatasan eksternal dan bukan untuk membagikan kembali di Eropa, risiko yang akan menjadi masalah besar."

Menteri dalam negeri itu menambahkan bahwa operasi polisi Italia, Rabu, menyebabkan penangkapan sejumlah warga Afrika Utara yang dituduh mendukung imigrasi ilegal, termasuk satu orang yang mendukung aksi teror Islam.

Komisaris Migrasi Uni Eropa, Dimitris Avramopoulos mengatakan membiarkan para migran itu di laut selama berhari-hari bukan sebuah contoh mengenai saat-saat terbaik Eropa.

Ia mengimbau reformasi mengenai aturan suaka Uni Eropa yang sangat dibutuhkan dan mengatakan blok itu tidak bisa mengandalkan "pada solusi ad hoc yang tidak terorganisir." Saat ini, klaim suaka migran harus diproses di negara tempat mereka pertama kali tiba. [my]

XS
SM
MD
LG