Tautan-tautan Akses

Mahasiswa AS Rancang Lengan Palsu untuk Pemain Biola Berusia 10 Tahun


Isabella Nicola Cabrera (10 tahun) bermain biola dengan lengan palsunya yang baru di jurusan teknik George Mason University di Fairfax, Va hari Kamis 20 April 2017 (foto: AP Photo/Steve Helber)

Abdul Gouda dan teman-teman sekelasnya di George Mason University berada dalam tekanan karena kelulusan mereka bergantung pada keberhasilan dari proyek, namun dikarenakan juga oleh harapan dari gadis berusia 10 tahun yang sangat menggemaskan.

Tekanan berada pada Abdul Gouda dan teman-teman sekelasnya di George Mason University: tidak hanya karena kelulusan mereka bergantung pada keberhasilan dari proyek yang mereka jalankan, namun dikarenakan juga oleh harapan dari gadis berusia 10 tahun yang sangat menggemaskan.

Isabella Nicola yang duduk di kelas 5 SD ingin bermain biola, namun ia terlahir tanpa tangan kiri dan lengan yang sangat pendek. Guru musiknya di SD Creek di Fairfax County telah berusaha untuk membuat lengan palsu untuknya yang memungkinkan gadis itu untuk menggerakkan alat gesek dengan tangan kirinya dan senar biola dengan tangan kanannya – berlawanan dengan cara permainan biola yang biasa diajarkan. Namun lengan palsunya terasa berat dan guru musiknya berpikir mungkin ada pilihan yang lebih baik. Ia menghubungi Georeg Mason University, alma maternya.

Kebetulan, Gouda dan empat teman satu timnya di jurusan bioteknik sedang melaksanakan proyek yang sama – para mahasiswa diwajibkan untuk menyelesaikan proyek akhir di tahun terakhir mereka di universitas, dan gagasan awal mereka telah menemui kegagalan.

Tetap, Gouda mengakui masih ada keraguan awalnya.

“Banyak sekali tekanan,” ujarnya. “Ada anak perempuan yang bergantung pada anda dan anda diharapkan dapat mewujudkannya.”

Tim yang terdiri dari Gouda, Mona Elkholy, Ella Novoselsky, Racha Salha dan Yasser Alhindi mengembangkan berabgai purwarupa sepanjang ahun. Ada cukup banyak literatur dari proyek-proyek serupa yang membantu mereka untuk mengawali proyek dengan baik, namun kasus Isabella bersifat unik, dan proyek melibatakan banyak kesalahan.

Isabella dapat berkomunikasi dengan kelompok tersebut dengan lancar dan memberikan masukan, khususnya tentang bobot lengan palsu tersebut. Yang pertam beratnya sekitar 13 ounce; versi akhirnya berkurang sekitar satu atau dua ounce setelah mendapat masukan dari Isabella.

Tim tersebut merangkul seorang profesor musik di Mason, Elizabeth Adams, yang memberi masukan apa yang akan dibutuhkan oleh Isabella agar dapat memainkan biola dengan mulus.

Hari Kamis, Isabella menerima versi akhir lengan palsunya, yang dibuat dengan bantuan mesin cetak 3D, dan warna merah muda menyala (sesuai dengan permintaannya) dengan tulisan “penyambung Isabella” tertulis di lengannya.

Ia memainkan beberapa nada musik sambil menyesuaikan lengan musiknya, dan bahkan beberapa rangkaian nada musik dari lagu ciptaan Beethoven, “Ode to Joy.”

“Bukan main, rasanya jauh lebih nyaman,” ujar Isabella saat ia mencoba lengan palsunya.

Dan tim itu memiliki kejutan untuknya, sambungan yang bisa langsung dipasang yang dirancang agar ia dapat menggengam leher biola dan mengendarai sepeda.

“Saya merasa mendapat berkah dengan mengenal kelompok orang yang mengagumkan ini,” ujar Isabella.

Isabella sudah menetapkan hatinya untuk bermain musik ketika sekolahnya menawarkan pelajaran musik gesek di kelas empat.

“Saya tidak pernah mengatakan tidak padanya. Saya katakan kita akan coba. Tidak ada jaminan sekolah akan melakukan adaptasi,” ujar ibunya, Andrea Cabrera. “Melalui mukjizat-mukjizat kecil ini, usaha ini terus mengalami kemajuan.”

Isabella tidak pernah merasa ragu bahwa akhirnya proyek itu akan berhasil.

“Saya langsung merasa mampu untuk memainkan alat musik itu,” ujarnya. “Saya senantiasa tidak pernah menyerah.” [ww]

XS
SM
MD
LG