Tautan-tautan Akses

Madrasah di Bosnia Mulai Dibuka di Tengah Restriksi Covid-19


Mirza Begovic mengajar sebuah kelas di sebuah sekolah dasar di ruang kelas terbuka, sebelum dimulainya tahun ajaran di tengah wabah Covid-19, di Kacuni, Bosnia dan Herzegovina, 8 September 2020. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Madrasah di Bosnia menyambut kedatangan murid-murid untuk pertama kalinya sejak pertengahan Maret. Lembaga pendidikan Islam itu telah mengambil langkah-langkah untuk membatasi penyebaran virus corona.

Untuk membuka kembali pintu bagi murid-murid mereka, berbagai institusi pendidikan di Bosnia, termasuk enam madrasah, harus mematuhi restriksi pemerintah guna membendung pandemi.

Dalam kebanyakan kasus, ini berarti membagi kelas menjadi dua kelompok, dan kedua kelompok bergantian masuk setiap pekan. Kalau satu kelompok hadir di kelas, kelompok lainnya belajar di tempat lain.

Bagi madrasah-madrasah, sekolah yang juga berasrama, ini berarti murid-murid juga tinggal di asrama secara bergantian.

“Hanya 50 persen dari murid-murid kami yang hadir di sekolah, jadi ada dua kelompok murid yang bergantian masuk setiap pekan. Ketika satu kelompok hadir di kelas, duduk di ruang kelas, kelompok yang satunya mengikuti kelas secara virtual, terhubung secara online dari rumah mereka. Semua pelajaran berupa video yang ditayangkan secara langsung," Dzenan Handzic, Kepala Sekolah Madrasah Osman Redzovic.

Ilustrasi. Mirza Begovic mengajar sebuah kelas di sebuah sekolah dasar di ruang kelas terbuka, sebelum dimulainya tahun ajaran di tengah wabah Covid-19, di Kacuni, Bosnia dan Herzegovina, 8 September 2020. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)
Ilustrasi. Mirza Begovic mengajar sebuah kelas di sebuah sekolah dasar di ruang kelas terbuka, sebelum dimulainya tahun ajaran di tengah wabah Covid-19, di Kacuni, Bosnia dan Herzegovina, 8 September 2020. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Handzic menyatakan mereka dapat memenuhi ketentuan pemerintah itu karena mendapat kepercayaan yang besar dari orang tua murid.

“Tentu saja semua orang sedikit cemas. Namun, madrasah menikmati kepercayaan orang tua yang besar. Kami percaya murid-murid madrasah yang tinggal di asrama lebih sedikit terpapar virus daripada teman-teman mereka yang mengikuti sekolah umum yang konvensional," katanya.

Semua restriksi dan pedoman yang ditetapkan pemerintah dipatuhi dengan ketat oleh pihak sekolah dan murid-murid. Handzic menambahkan, murid-muridnya lebih sedikit terpapar virus itu karena mereka tidak menggunakan transportasi umum sewaktu mendatangi atau meninggalkan sekolah yang berlokasi di kota di Visoko, Bosnia Tengah, itu.

“Kami mengukur suhu tubuh para siswa setiap waktu, terutama sewaktu mereka kembali ke sekolah setelah sepekan belajar di rumah. Juga setiap hari sebelum mereka masuk sekolah dan pada akhir pelajaran. Pada waktu mereka pulang ke rumah atau kembali ke sekolah seminggu sekali, kami menganjurkan murid-murid agar tidak menggunakan transportasi umum, tetapi berbagi tumpangan, agar mereka bepergian dalam kelompok-kelompok kecil dengan kendaraan pribadi orang tua mereka," kata Dzenan Handzic.

Para siswa juga diwajibkan mengenakan masker di sekolah dan dilarang berkumpul dalam jarak yang berdekat-dekatan.

Di Bosnia, madrasah diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan umum, dengan kurikulum yang dirancang untuk memberikan 30 persen pelajaran agama dan 70 persen lainnya mengenai pendidikan ilmiah.

Madrasah dikelola oleh komunitas Islam yang diakui resmi negara itu dan menerima dana pemerintah.

Madrasah Osman Redzovic menerima sekitar 250 murid dari 40 kota di Bosnia. Tetapi sejak sekolah ini dibuka bagi penyelenggaraan kelas tatap muka, tidak ada satu pun laporan kasus Covid-19 dari sekolah itu.

Bosnia, negara berpenduduk 3,5 juta orang, sejauh ini mencatat lebih dari 27 ribu kasus virus corona, dengan lebih dari 800 kematian akibat virus tersebut. [ew]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG