Tautan-tautan Akses

LSM Virginia Berikan Kursus Komputer Gratis untuk Imigran Berpenghasilan Rendah


Ilustrasi, seseorang tengah mengetik di laptopnya. (Foto: AP)

Sebuah organisasi LSM di Virginia bernama CORE membantu para imigran yang berpenghasilan rendah mengunakan komputer agar mampu memperoleh lapangan pekerjaan. Namun pandemi corona menyebabkan organisasi ini menghadapi rintangan karena tidak banyak pelajarnya yang memiliki komputer ataupun sambungan internet di rumah.

Selama lebih dari dua dasawarsa, LSM Computer Core telah membantu para imigran yang berpenghasilan rendah untuk belajar mendalami keetrampilan komputer dan memanfaatkan internet. Menurut data dari PEW Research Center tahun 2019, empat dari 10 keluarga berpenghasilan kurang dari $30 ribu setahun tidak mampu membeli dan punya komputer di rumah mereka.

Siswa Community College di Baltimore, Maryland, tengah berhadapan dengan komputer, sebagai ilustrasi. (Foto: AP / Patrick Semansky)
Siswa Community College di Baltimore, Maryland, tengah berhadapan dengan komputer, sebagai ilustrasi. (Foto: AP / Patrick Semansky)

"Kami punya misi untuk membantu orang-orang berpenghasilan rendah meningkatkan keterampilan dasar komputer mereka sehingga mereka bisa mencari pekerjaan yang layak," kata Donna Walker James, Direktur Computer Core, ketika dihubungi lewat applikasi Zoom.

Para instruktur dari organisasi ini membantu lebih dari 3.000 siswa untuk belajar mengunakan komputer. Siswa dari Computer Core ini berasal dari lebih dari 60 negara dan berbicara dalam lebih dari 100 bahasa.

"Rata-rata usia siswa kami antara 45 dan 50 tahun. Jadi kami kebanyakan mengajar murid dewasa -ada yang sudah tinggal di Amerika lebih dari 20 tahun dan sudah jadi warga negara, dan ada juga yang baru saja datang.. selain itu ada diantara mereka yang baru saja mengenal dunia komputer," kata Donna.

Selama karantina, para instruktur ini kesulitan untuk memberikan pelajaran komputer karena sebagian besar siswa tidak memiliki komputer di rumah. Dan organisasi ini mulai membagikan komputer untuk siswa-siswa tersebut.

"Kami mulai membagikan komputer dimana kami membelinya lewat dana sumbangan dan kemudian para instruktur bertemu langsung secara individu dengan peralatan lengkap sambil mengenakan masker dan sarung tangan ketika menyerahkan komputer tersebut. Kemudian kami menghubungi mereka lewat telepon untuk memberikan pengarahan bagaimana memasang dan menggunakan komputer tersebut," kata Donna.

Akhirnya, para siswa ini mampu melanjutkan kelas secara online. Dan 70 persen dari para siswa adalah perempuan.

"Saya tahu dan menyadari sulitnya mencari pekerjaan dan pentingnya penguasaan keterampilan menggunakan komputer. Tidak mudah saat ini mencari pekerjaan jika Anda tidak memahami dasar-dasar dari komputer," kata Nagia Kurabi salah satu instruktur dari Computer Core.

Anna Louisa, 18, menerima laptop dari sekolahnya untuk belajar di rumah di Lower East Side Preparatory School, 19 Maret 2020, di New York, ketika pemerintah menutup seluruh kota akibat corona, sebagai ilustrasi. (Foto: AP)
Anna Louisa, 18, menerima laptop dari sekolahnya untuk belajar di rumah di Lower East Side Preparatory School, 19 Maret 2020, di New York, ketika pemerintah menutup seluruh kota akibat corona, sebagai ilustrasi. (Foto: AP)

"Kami juga mengajar siswa dan berusaha menghubungi orang-orang yang tengah berjuang memperoleh mata pencaharian, apalagi sekarang ini, pandemi corona menyebabkan banyak kesulitan dalam kehidupan banyak orang, bahkan banyak alumni kami kehilangan pekerjaan," lanjutnya lewat applikasi Zoom

Kharirih El Gouch, adalah seorang perempuan Lebanon dan dia datang ke AS pada tahun 1994. Dia telah menghabiskan 25 tahun terakhir bekerja di tempat-tempat dimana keterampilan komputer tidak di perlukan, namun beberapa tahun terakhir ini, dia bekerja di tempat penitipan anak dimana dia harus ikut membantu para guru. Anak perempuannya mendorongnya untuk belajar mengunakan komputer.

"Saya merasa nyaman bisa belajar komputer, mengenali struktur komputer itu, Anda juga pasti tahu, memprogram atau menyimpan dokumen atau mengunakan Excel ataupun Power Point- saya tadinya tidak paham dengan semua ini, tidak mudah memahaminya. Saya dulu mengetik dengan satu tangan, namun skarang saya mampu menggunakan ke sepuluh jari saya," kata Khairih El Gouch.

Juga Getnet Tadesse yang berasal dari Ethiopia yang tadinya bekerja sebagai pengemudi Uber. Dia mengatakan selama pandemi ini dan penerapan langkah-langkah karantina yang ketat, jumlah penumpang turun secara signifikan. Ini menyebabkan Tadesse memiliki waktu luang untuk belajar.

"Saya ingin belajar komputer untuk karir saya. Ini merupakan permulaan yang bagus bagi saya. Sekerang saya sangat puas, semua karyawan di kursus komputer sangat baik, mereka banyak membantu, jadi saya sangat senang," Getnet Tadesse menjelaskan lebih lanjut.

Banyak pakar mengatakan kebanyakan orang, terutama yang sudah lanjut usia mengalami kesulitan untuk belajar komputer. Namun para instruktur dari Computer Core juga pernah meraih ketrampilan komputer dari LSM ini, dan ini merupakah contoh nyata dimana kalau Anda mampu menyisihkan rasa takut, semua yang Anda cita-citakan pasti bisa tercapai.

XS
SM
MD
LG