Tautan-tautan Akses

Letusan Freatik Merapi, 160 Pendaki Dijemput


Visual Puncak Merapi dari Kawasan Pasar Bubar (Courtesy: BPPTKG)

Setelah tidak beraktivitas sekitar 8 tahun, Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta tiba-tiba mengalami letusan freatik Jumat pagi.

Jumat pagi pukul 07.40, Gunung Merapi di Yogyakarta mengeluarkan asap tebal. Kejadian ini menimbulkan kegaduhan warga setempat, karena setidaknya dalam 8 tahun terakhir Merapi relatif tenang. Hujan abu tipis mengguyur kawasan selatan gunung, dalam radius sekitar 10 kilometer dari puncak, mengikuti arah hembusan angin.

Setidaknya ada 160 pendaki sedang berada di puncak, ketika letusan itu terjadi. Para pendaki biasa menunggu matahari terbit, dan menghabiskan pagi di puncak. Menurut Lahar, petugas dari Posko Barameru di Selo, Kabupaten Boyolali, tim terpadu berangkat menjemput pendaki pukul 09.00 pagi.

“Butuh waktu sekitar 4 jam untuk proses ini. Kita belum tahu kondisinya, maka kita pastikan dengan mengirim tim ke atas. Posisinya sejauh ini kita ketahui cukup aman, karena mereka menyebar antar Pos 1 hingga puncak. Yang jelas, kami tutup pendakian Merapi mulai sekarang sampai ada keputusan lebih lanjut,” ujar Lahar.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), lembaga yang mengawasi aktivitas Merapi, dari kantornya di Yogyakarta menegaskan bahwa erupsi Merapi kali ini diikuti dengan durasi kegempaan selama 5 menit. Ketinggian kolom erupsi mencapai 5,5 km di atas puncak.

Dipastikan bahwa erupsi hanya berlangsung satu kali dan tidak diikuti erupsi susulan. Sebelum erupsi freatik ini terjadi, jaringan seismik Gunung Merapi tidak merekam adanya peningkatan kegempaan, meskipun pada pukul 06.00 WIB. sempat teramati peningkatan suhu kawah secara singkat.

Setelah erupsi BPPTKG mencatat kegempaan yang terekam tidak mengalami perubahan dan suhu kawah mengalami penurunan. Karena itulah, masyarakat dihimbau tetap tenang dan status Merapi hingga saat ini masih Normal.

Pakar gunung api, Dr Surono yang berpengalaman dengan aktivitas Merapi menyebut letusan ini jelas freatik. “Freatik adalah letusan yang dominan dengan uap air,” ujarnya dalam pesan singkat kepada VOA.

“Apakah akan berlanjut ke magmatik atau tidak, itu bergantung data yang ada saat ini, bisa saja sebagai letusan awal atau bisa juga hanya letusan freatik sekali saja kemudian berhenti. Saya percaya pengamat gunungapi kita mumpuni, jadi pasti akan ada peringatan sebelum letusan terjadi. Masyarakat sebaiknya tenang saja,” tambah pria yang akrab dipanggil warga Yogya dengan sebutan Mbah Rono.

Surono yang juga mantan Kepala Badan Geologi menambahkan, Merapi saat ini berbeda dengan Merapi sebelum tahun 2010. Badan pengawasanya tidak dapat menggunakan data-data kegunungapian sebelum tahun itu, untuk memantau perkembangan Merapi terkini. Yang pasti, tambah Surono, pengamatan harus didasari data dan analisa yang kuat, terutama terhadap tanda-tanda alam yang terjadi.

Sekitar 30 menit setelah letusan, kawasan sisi selatan Merapi mengalami hujan pasir dan abu. Material ini terbang mengikuti arah angin. “Kami semua di dalam rumah memakai masker. Anak-anak sekolah tadi juga dibubarkan karena takut dengan suara bergemuruh yang muncul ketika letusan terjadi,” kata Eni Rahayu, warga Kecamatan Turi, wilayah paling atas di Yogyakarta.

Hujan pasir dan abu juga menyebar ke kawasan wisata Kaliurang dan sebagian wilayah Kabupaten Klaten bagian utara. Abu kemudian bergerak ke selatan mendekati kota Yogyakarta.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menegaskan status Gunung Merapi saat ini tetap normal dengan radius bahaya 3 kilometer dari puncak kawah.

“Masyarakat kami himbau tetap tenang. Belum ada laporan korban jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan aparat selalu melakukan pemantauan. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan BPPTKG, PVMBG dan BPBD,” ujar Sutopo. [ns/al]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG