Tautan-tautan Akses

Lelah Perang, Warga Libya Ingin Pemerintah Setop Giliran Pemadaman Listrik


Anak-anak belajar di malam hari, diterangi lilin akibat pemadaman listrik di sebuah hunian di ibu kota Libya, Tripoli, 26 Agustus 2021.

Berjalan menyusuri jalan komersial di ibu kota Libya, Tripoli, maka orang akan menyaksikan generator berjajar di sepanjang trotoar dan siap menyala jika listrik padam, demikian dilaporkan kantor berita AFP.

Sepuluh tahun sejak penggulingan yang di dukung NATO terhadap diktator Moamer Gaddafi, pertempuran yang berulang kali terjadi telah menyebabkan kerusakan parah pada jaringan distribusi listrik, sementara hampir tidak ada investasi baru untuk kapasitas pembangkit listrik.

Hampir setiap hari, penduduk Tripoli mengalami beberapa kali pemangkasan pasokan listrik hingga total 12 jam sehari.

Dengung generator, asap tajam dan bau bahan bakar solar sudah menjadi salah satu aspek kehidupan sehari-hari yang paling dibenci di kota yang dulunya makmur itu.

Seorang teknisi tengah memperbaiki genset di luar sebuah toko di Tripoli, Libya, 26 Agustus 2021.
Seorang teknisi tengah memperbaiki genset di luar sebuah toko di Tripoli, Libya, 26 Agustus 2021.

"Kami sudah didera kekacauan ini selama 10 tahun terakhir. Ini besar dampaknya pada kehidupan kami sehari-hari," kata Sufian Zerkani, apoteker berusia 23 tahun. "Ini adalah hak mendasar yang harus dijamin negara," ujarnya.

Menjaga agar generator tetap menyala sudah menjadi tugas sehari-hari bagi banyak warga.

Di SPBU, pejalan kaki yang dilengkapi corong dan jerigen untuk genset, mengantri di samping pengendara motor.

Kehancuran dan keterpurukan ekonomi ini mengejutkan di negara yang memiliki cadangan minyak dan gas terbesar di Afrika, dan berpenduduk hanya tujuh juta jiwa. [my/jm]

Lihat komentar (1)

XS
SM
MD
LG