Tautan-tautan Akses

Legenda Formula 1 dan Pengusaha Penerbangan Niki Lauda Tutup Usia


ARSIP – Mantan Juara Dunia Formula One, Niki Lauda, dari Austria berjalan di area tertutup sebelum latihan bebas ketiga di sirkuit Silverstone, 7 Juli 2018 (foto: AP Photo/Luca Brono, arsip)

Legenda Formula Satu, Niki Lauda, yang menjuarai dua dari beberapa juara dunia yang diraihnya setelah terjadinya kecelakaan mengerikan yang membuat ia menderita luka bakar dan kemudian menjadi figur terkenal dalam industri penerbangan, wafat dalam usia 70 tahun.

Keluarga Lauda mengeluarkan pernyataan dengan mengatakan juara dunia tiga kali tersebut “meninggal dunia dengan damai” hari senin, demikian laporan dari Austria Press Agency.

Walter Klepetko, seorang dokter yang melakukan transplantasi paru-paru pada Lauda tahun lalu, mengatakan hari Selasa: “Niki Lauda telah meninggal dunia. Kami memastikan hal itu.”

“Kesuksesan yang unik sebagai atlit olahraga dan pengusaha tetap tidak terlupakan,” ujar pernyataan yang dikeluarkan keluarga. “Semangatnya yang tanpa lelah, kejujurannya dan keberaniannya tetap menjadi teladan dan standar untuk kami semua. Dalam kehidupan pribadinya, ia adalah suami, ayah, dan kakek yang penuh kasih dan kepedulian. Kami akan sangat kehilangan.”

Lauda merebut juara F1 di tahun 1975 dan 1977 bersama tim Ferrari dan kembali di tahun 1984 bersma tim McLaren.

Di tahun 1976, ia mengalami luka bakar parah saat bertabrakan dalam Grand Prix Jerman, namun mengagumkannya ia dapat kembali berlomba hanya dalam waktu enam minggu kemudian.

Lauda tetap terlibat erat dengan sirkuit F1 setelah mengundurkan diri sebagai pembalap di tahun 1985, dan pada tahun-tahun belakangan ini bertindak sebagai ketua non-eksekutif untuk tim Mercedes.

Formula One memposting pesan lewat akun Twitter resminya untuk mengakui kontribusi Lauda di dunia olahraga.

“Beristirahatlah dalam damai Niki Lauda. Anda akan selalu berada di hati kami, senantiasa abadi dalam catatan sejarah,” demikian postingan tersebut. “Komunitas olahraga bermotor hari ini berduka dengan kabar kepergian sang legenda sejati.”

Lahir tanggal 22 Februari 1949 dari keluarga kaya di Wina, Nikolaus Andreas Lauda diharapkan untuk mengikut jejak ayahnya dalam industri manufaktur kertas, namun sebaliknya ia mengkonsentrasikan bakatnya di bidang bisnis dan tekad impiannya untuk menjadi seorang pembalap.”

Kanselir Austria Sebastian Kurz mengatakan “Niki, kami akan kehilangan engkau.”

“Seluruh negeri dan dunia olahraga bermotor merasa berduka atas kepergian seorang warga Austria yang hebat,” ujar Kurz lewat Twitter.

Presiden Austria, Alexander van der Bellen memberi penghormatan kepada Lauda dan menyebutkannya sebagai “sosok yang dikagumi dan pejuang ambisius yang tidak pernah menyerah.”

Lauda mendanai awal kariernya dengan bantuan sejumlah pinjaman, dan meniti jalannya mulai dari Formula 3 dan Formula 2. Debutnya di Formula 1 untuk tim March dimulai pada tahun 1971 di Grand Prix Austria dan ia mendapatkan poin pertamanya di tahun 1973 dengan menyelesaikan perlombaan di tempat kelima untuk tim BRM di Belgia.

Niki Lauda, sebagai pembalap dalam tim Ferrari
Niki Lauda, sebagai pembalap dalam tim Ferrari

Lauda bergabung dengan tim Ferrari di tahun 1974, dengan menjuarai Grand Prix untuk pertama kalinya tahun itu di Spanyol. Ia memenangkan gelar pertamanya dengan lima kemenangan di musim berikut.

Ia menghadapi persaingan yang berat dari pembalap tim McLaren, James Hunt – rivalitas mereka ditampilkan dalam film yang disutradarai oleh Ron Howard yang berjudul Rush – Lauda tampil di gelanggang balap untuk mempertahankan gelarnya di tahun 1976 saat ia mengalami kecelakaan di Nuerburgring dalam Grand Prix Jerman. Beberapa pembalap menghentikan kendaraannya untuk menolongnya dengan menarik tubuhnya dari mobil yang terbakar, namun kecelakaan itu akan meninggalkan bekas seumur hidup baginya. Topi baseball yang hampir selalu dikenakannya saat Lauda tampil di publik menjadi ciri khas pribadinya.

“Cedera utama yang terjadi, pada tubuhku, adalah cedera paru-paru akibat menghisap api dan uap saat saya masih terperangkap di mobil selama kurang lebih 50 detik,” kenangnya hampir sepuluh tahun kemudian. “Suhunya terasa hingga 800 derajat.”

Lauda mengalami koma sesaat. Ia mengatakan “selama tiga atau empat hari saya antara sadar dan tidak.”

“Kemudian paru-paru saya pulih dan saya mendapat transplantasi kulit, saat itu pada intinya tidak ada yang tersisa,” tambahnya. “Saya merasa sangat beruntung dalam artian tidak kerusakan organ lain di tubuh saya. Jadi pertanyaan sesungguhnya adalah apakah saya akan mampu berlomba lagi, karena sudah pasti tidak mudah bagi saya untuk kembali setelah kejadian dalam balapan seperti itu.”

Lauda kembali berlomba enam minggu setelah kecelakaan yang dialaminya, dan menduduki posisi ke empat di sirkuit Monza setelah berhasil mengatasi kekhawatiran awalnya.

Ia mengenang “perasaan terguncang dengan rasa takut” saat ia memindahkan gigi dua pada hari pertama latihan dan berpikir, “Saya tidak akan mampu berlomba.”

Hari berikutnya, Lauda mengatakan ia “dengan perlahan-lahan mencoba untuk mendapatkan sentuhan kembali, khususnya kepercayaan diri bahwa saya mampu untuk mengendarai mobil-mobil ini kembali. “Hasilnya, tuturnya, mendorong rasa percaya dirinya dan setelah empat atau lima perlombaan “pada dasarnya saya berhasil mengatasi masalah pernah mengalami kecelakaan dan semuanya kembali normal.”

Ia memenangkan gelar juaranya yang kedua di tahun 1977 sebelum pindah ke tim Brabham dan kemudian mengundurkan diri tahun 1979 untuk berkonsentrasi membangun maskapai penerbangan miliknya, Lauda Air, dengan menyatakan ia “tidak ingin berputar-putar dengan mobil di sirkuit balapan lagi.”

Lauda kembali bertanding di tahun 1982 setelah sebuah tawaran uang dalam jumlah besar dari McLaren, yang ditengarai mencapai sekitar $3 juta per tahun.

Ia menempati posisi kelima di tahun pertamanya setelah kembali bertanding dan tempat ke-10 di 1983, namun kembali untuk memenangkan lima pertandingan dan mendekati rekan satu timnya Alain Prost untuk gelarnya yang ketiga tahun 1984. Ia benar-benar pensiun tahun berikutnya, dengan mengatakan ia butuh lebih banyak waktu untuk mendedikasikan dirinya pada bisnis maskapai penerbangannya.

Awalnya maskapai penerbangan itu beroperasi sebagai maskapai carter, Lauda Air kemudian memperluas rutenya di tahun 1980-an untuk tujuan-tujuan di Asia dan Australia. Bulan Mei 1991, maskapai Lauda Air mengalami kecelakaan di Thailand setelah salah satu thrust reverser mesinnya secara tidak sengaja aktif saat menanjak, yang menewaskan seluruh 213 penumpang dan 10 awaknya.

Di tahun 1997, pesaingnya sejak lama, Austrian Airlines, menguasai saham minoritas dan di tahun 2000, saat perusahaan mencetak kerugian, Lauda mundur dari ketua dewan direksi setelah audit eksternal mengkritik minimnya kontrol keuangan internal terkait bisnis yang dilakukan dengan menggunakan mata uang asing. Austrial Airlines kemudian menguasai penuh maskapai itu.

Lauda mendirikan maskapai penerbangan baru, Niki, di tahun 2003. Maskapai Jerman, Air Berlin menguasai saham minoritas dan kemudian mengambil kendali penuh terhadap maskapai itu, yang dibeli kembali oleh Lauda di awal 2018.

Ia bermitra dengan maskapai berbiaya murah, Ryanair dalam maskapai pengganti Niki, LaudaMotion.

Di tahun-tahun belakangan ia kemudian menjalin hubungan dekat dengan pembalap Mercedes, Lewis Hamilton, yang bergabung dengan tim itu di tahun 2013. Ia acap kali mendukung Hamilton di publik dan meberikan nasihat dan bimbingan pada pembalap asal Inggris itu.

Lauda juga turun tangan sebagai penengah dari tim Mercedes saat Hamilton dan mantan rekan satu timnya di Mercedes, Nico Rosberg, berseteru, berargumen, dan saling menghina saat mereka berebut untuk merebut gelar antara tahun 2014-2016.

Lauda dua kali menjalani transplantasi ginjal, menerima organ yang disumbangkan saudara lelakinya tahun 1997, dan saat organ itu tidak berfungsi lagi, ia menerima sumbangan ginjal dari kekasihnya di tahun 2005.

Bulan Agustus 2018, ia menjalani transplantasi paru-paru yang menurut RSU Wina sangat dibutuhkan karena adanya “penyakit serius di paru-paru.” Rumah sakit itu tidak merinci penyakit yang diderita Lauda.

Lauda meninggalkan istrinya yang kedua, Birgit, dan dua anak kembar mereka Max dan Mia. Ia juga memiliki dua anak lelaki yang sudah dewasa, Lukas dan Mathias, hasil dari pernikahan pertamanya. [ww]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG