Tautan-tautan Akses

Lalu Lintas Pelayaran Arktika Ancam Paus ‘Unicorn’ Narwahl


Seorang awak kapal di anjungan kapal pemecah es Finlandia, MSV Nordica, saat tiba di Nuuk, Greenland setelah melintasi Northwest Passage melalui Kepulauan Arktika Kanada, 29 Juli 2017.

Beruang kutub bukan hanya satu-satunya hewan yang terancam oleh pemanasan global di Arktika. Karena kawasan itu memanas dua sampai tiga kali lebih cepat dibandingkan kawasan lain di dunia, lautan es yang mencair membuka jalur perkapalan baru.

Riset baru menunjukkan semakin sibuknya lalu lintas kapal di perairan Arktika mengancam paus narwhal dan jenis-jenis paus lainnya.

Paus narwhal dijuluki ‘kuda unicorn arktika’ karena memiliki tanduk seperti kuda mitologis yang memiliki satu tanduk di dahi.

Surutnya lautan es telah menyebabkan jalur-jalur pelayaran di Samudera Arktika, seperti Passage Northwest dan Northern Sea Route di sepanjang pantai utara Rusia, yang dulunya terkenal berbahaya, menjadi mudah untuk dilewati.

Dampaknya terhadap ekosistem yang rentan mengundang perhatian Donna Hauser dari Universitas Alaska Fairbanks.

"Kita berada di tepi jurang. Akan ada banyak sekali kapal melintasi Arktika. Salah satu yang memotivasi studi ini adalah untuk memahami kondisi kita sekarang dan apa tindakan yang harus diambil," kata Hauser.

Hauser dan para penulis studi itu mempelajari tujuh spesies Arktik, termasuk singa laut, paus, dan beruang kutub. Mereka menentukan tingkat kerentanan berdasarkan kombinasi antara paparan hewan itu terhadap lalu lintas perkapalan dan sensitivitasnya secara umum. Mereka membatasi penilaiannya hanya pada September, ketika lautan es berada pada tingkat terendah dan paling banyak kapal melintasi perairan Arktika.

Paus Narwhal berenang di antara bongkahan es di Kepualuan Arktika Kanada, 22 Juli 2017.
Paus Narwhal berenang di antara bongkahan es di Kepualuan Arktika Kanada, 22 Juli 2017.

Riset mereka mendapati bahwa narwhal dan spesies paus lainnya paling rentan terpapar lalu lintas kapal pada akhir musim panas. Beruang kutub adalah yang paling tidak rentan, sementara walrus dan singa laut diantara kedua spesies terdahulu itu.

Salah seorang penulis studi Kristin Laidre dari Polar Ice Center menjelaskan mengapa narwhal dan hewan-hewan cetacea lainnya paling terkena dampaknya.

"Kapal-kapal pada umumnya menimbulkan suara di bawah laut, dan suara itu mengganggu mamalia laut, terutama spesies-spesies paus berbeda yang bergantung pada suara untuk apa saja," papar Kristin.

Narwhal terutama sangat berisiko karena sangat terpapar dan sangat sensitif. Ini membuat hewan laut tersebut paling rentan diantara semua mamalia laut Arktika, sementara paus-paus lainnya menghadapi hal yang sama tapi tidak terlalu ekstrem.

Di lain sisi, beruang kutub, sepertinya paling kuat menghadapi lalu lintas akhir musim panas itu.

"Pada musim itu, beruang kutub cenderung sedang berada di darat atau bergerak ke utara," ujar Kristin.

Hauser menyebut alasan kedua mengapa beruang kutub tidak begitu terkena dampaknya, yaitu karena mereka tidak menggunakan suara seperti mamalia laut lainnya, “sehingga tidak terlalu sensitif dengan kapal."

Ini adalah studi pertama yang membandingkan dampak peningkatan lalu lintas kapal diantara spesies mamalia laut Arktika utama dan menentukan hewan mana yang paling memerlukan upaya konservasi.

Dengan memahami mamalia laut mana yang paling berisiko, para periset bisa membantu menyusun rencana untuk mengantisipasi masa depan yang dipenuhi ketidak-pastian. [vm/jm]

XS
SM
MD
LG