Tautan-tautan Akses

Lagi, Pelajar China Jadi Korban Penculikan Virtual di Australia


Pintu gerbang konsulat China di Sydney, Australia, 23 Juli 2015. (Foto: dok).

Polisi Australia mengungkapkan, sejumlah pelajar China di Sydney telah menjadi korban kejahatan penculikan virtual. Mereka diperdaya sedemikian rupa sehingga terpaksa mengirim foto dan video mereka dalam keadaan tubuh terikat dan mata tertutup ke keluarga mereka untuk meminta tebusan.

Delapan pelajar tahun ini menjadi korban aksi penipuan tersebut, dan sindikat kriminal yang mendalangi aksi itu berhasil mengeruk dana sebesar 2,3 juta dolar AS, kata detektif Darren Bennet dari Kepolisian Negara Bagian New South Wales, Senin (27/7).

Menurut Bennet, para korban sebelumnya ditelepon oleh seseorang yang berbahasa Mandarin, yang berpura-pura sebagai orang berkedudukan di China, seperti pejabat kedutaan, pejabat kepolisian atau pejabat pajak.

Orang tersebut mengatakan, para korban menghadapi risiko dideportasi atau ditangkap kecuali keluarga mereka membayar tebusan.

Setelah dikelabui sedemikian rupa, para pelajar itu mengirim foto atau video ke keluarga mereka di China yang menggambarkan diri mereka seolah-olah korban penculikan. Mereka diminta tinggal di hotel dan memutus semua akses komunikasi selama beberapa hari.

“Pesan saya kepada semua orang, jika Anda menerima telepon yang meminta Anda mengirim uang ke sebuah akun bank oleh orang-orang yang berpura-pura sebagai pejabat berwenang di China atau lokasi lainnya, jangan penuhi permintaan mereka. Matikan telepon, telepon polisi atau universitas untuk mendapatkan saran dan konseling,” kata Bennet.

Asisten Komisaris Polisi New South Wales Peter Thurtell mengatakan, pihak berwenang China telah memastikan, dalam situasi apapun, badan pemerintah negara itu tidak akan menghubungi pelajar di luar negeri untuk meminta uang.

Penculikan virtual semakin sering terjadi di Australia seiring memburuknya hubungan Australia-China. Hubungan antara kedua negara menegang setelah Australia menyerukan diselenggarakannya penyelidikan internasional mengenai asal muasal wabah virus corona.

China merupakan sumber terbesar pelajar internasional untuk Australia. Pihak berwenang China mengingatkan para pelajar dan warga mereka yang berkunjung di Australia akan kemungkinan menghadapi perlakuan bernuansa rasial karena wabah virus corona. [ab/uh]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG