Tautan-tautan Akses

AS

Kota New York akan Batasi Layanan Taksi Online


Jumlah taksi "konvensional" di kota New York kini hanya separuhnya dari taksi berbasis aplikasi (foto: ilustrasi).

Kota New York mungkin akan menjadi kota besar Amerika pertama yang membatasi jumlah layanan pemesanan mobil berbasis aplikasi seperti Uber dan mempertahankan taksi-taksi konvensional yang jumlahnya semakin berkurang.

Dewan Kota New York sedang mempelajari lima rancangan Undang-Undang untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan menaikkan gaji sopir yang mengemudikan taksi-taksi berwarna kuning dan hijau di kota itu.

Meningkatnya jumlah mobil pribadi yang bisa dipesan lewat layanan aplikasi online seperti Uber, Lyft dan Via telah menekan penghasilan sopir-sopir taksi resmi seperti Yellow Cab itu. Setidaknya enam orang sopir taksi profesional telah melakukan bunuh diri dalam beberapa bulan terakhir karena kesulitan keuangan.

Sebuah mobil dengan sticker "Uber" terlihat di kota New York, NY, AS.
Sebuah mobil dengan sticker "Uber" terlihat di kota New York, NY, AS.

Sejak Uber muncul dengan mobil-mobil pribadi yang bisa dipanggil dengan cepat menggunakan telpon pintar lima tahun yang lalu, jumlah taksi jenis itu telah melonjak menjadi 100.000 buah. Jumlah taksi resmi yang berwarna kuning dan hijau itu hanya sekitar separuhnya.

Aliansi Sopir Taksi New York menyambut usaha Dewan Kota untuk membantu kelangsungan hidup mereka, tapi Uber, Lyft dan Via melancarkan kampanye balasan untuk melawan usaha tadi.

Uber hari Jumat (27/7) mengirim email kepada hampir lima juta penduduk kota New York yang pernah menggunakan layanan mobil mereka dan mengatakan, yang akan dirugikan oleh peraturan kota itu adalah para penumpang, khususnya yang tinggal di pinggiran dan luar kota.

Para penumpang itu, kata Uber, harus menunggu lebih lama, dan membayar lebih banyak ongkos taksi.

Sopir taksi resmi lebih suka beroperasi di jalan-jalan dalam kota yang macet karena akan mendapat uang lebih banyak, dan ini mengurangi jumlah taksi yang tersedia di pinggiran dan luar kota, kata Uber.

Seorang pengguna layanan taksi online itu menulis lewat Twitter: “Saya penduduk New York dan menggunakan Uber untuk bepergian di dalam kota, dimana tidak ada angkutan umum.”

Ribuan penduduk New York lainnya menulis “jangan tinggalkan kami terdampar di pinggir jalan.”

Para pengguna taksi panggilan itu sebagian menggunakan link atau tautan yang dipasang Uber dalam emailnya kepada para pengguna, untuk menyampaikan protes mereka.

Industri taksi resmi di New York yang menggunakan taksi berwarna kuning dan hijau, yang dulu digunakan banyak pengemudi sebagai cara untuk meningkatkan standar penghidupan mereka, kini sedang kepayahan menghadapi saingan dari layanan taksi-taksi berbasis aplikasi itu. [ii]

XS
SM
MD
LG