Laporan baru mengatakan kota perbatasan Dandong di China terus memberikan jalur kehidupan vital bagi ekonomi Korea Utara, meskipun sanksi PBB telah diberlakukan sejak Pyongyang melakukan uji coba rudal nuklir tiga tahun lalu. Insiden itu sebelumnya diperkirakan bisa mengarah pada perang di semenanjung Korea.
Peneliti dari Royal United Services Institute di Inggris mengatakan bisnis yang berbasis di Dandong mengimpor batu bara dan mineral dari Korea Utara untuk dijual di pasar global. Pada saat yang sama, bisnis itu juga menyediakan barang untuk dikirim kembali ke Korea Utara yang bisa digunakan negara itu untuk program nuklir dan rudalnya.
Dandong terletak di seberang Sungai Yalu dari kota Sinuiju di Korea Utara dan telah lama menjadi pusat perjalanan lintas batas yang penting.
Infrastruktur keuangan Dandong berperan penting dalam menopang perdagangan Korea Utara. Penelitian Royal United Services Institute menunjukkan antara 2014 dan 2017, hampir seperempat dari total perdagangan Korea Utara bergerak melalui 150 perusahaan yang berbasis di Dandong, dengan nilai $2,9 miliar.
Salah seorang dari penulis laporan itu, Joe Byrne, Senin kepada VOA mengatakan banyak perdagangan yang dilakukan, sedianya sekarang akan dilarang oleh sanksi PBB.
"Misalnya, Departemen Keuangan AS tahun-tahun sebelumnya sudah menetapkan banyak entitas, yang berbasis di Dandong, aktif dalam perdagangan gelap," kata Byrne.
Hanya 10 dari 150 perusahaan itu menghasilkan hampir dua pertiga dari total perdagangan yang dilaporkan dalam periode itu. Dari jumlah tersebut, lima telah diberi sanksi oleh Departemen Keuangan AS karena kaitannya dengan pemerintah Korea Utara serta program nuklir dan misilnya. Semua perusahaan itu masih aktif, kata laporan itu.
Pada September 2017, setelah Pyongyang melakukan uji coba nuklir keenam dan terbesarnya, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjatuhkan sanksi luas terhadap ekonomi Korea Utara, termasuk ekspor batu bara dan mineral. Sanksi tersebut didukung oleh China.
Namun penulis laporan tersebut mengatakan ada bukti kuat bahwa perusahaan yang berbasis di Dandong terus mengimpor bahan-bahan itu dari Korea Utara. [my/ka]