Tautan-tautan Akses

Korut Uji Coba Misil Balistik, Peluncuran Pertama Tahun 2022


Pejalan kaki berjalan melewati layar yang menampilkan peta Korea Utara menembakkan sesuatu seperti rudal balistik ke laut lepas pantai timurnya menurut Korea Selatan dan Jepang, 5 Januari 2022. (Foto: AFP)

Korea Utara meluncurkan apa yang diduga sebagai misil balistik pada Rabu (4/1), kata Korea Selatan dan Jepang. Ini merupakan uji coba senjata pertama Pyongyang pada tahun 2022.

Korea Utara menembakkan apa yang tampaknya sebuah misil balistik tunggal dari daerah pedalaman ke arah laut di lepas pantai timurnya, kata militer Korea Selatan. Misil itu menempuh jarak sekitar 500 kilometer, kata Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi.

Tidak ada rincian lanjutan tersedia. Korea Utara biasanya mengumumkan peluncurannya di surat kabar pemerintah keesokan harinya.

Ini merupakan peluncuran pertama oleh Korea Utara sejak Oktober, sewaktu negara itu menguji coba misil balistik yang diluncurkan dari kapal selam. Korea Utara telah sering menguji coba misil balistik jarak pendek sejak pertengahan 2019, tidak lama setelah perundingan nuklir antara pemimpinnya, Kim Jong Un, dan presiden AS ketika itu, Donald Trump, gagal.

Orang-orang menonton layar TV yang menayangkan program berita tentang peluncuran rudal Korea Utara dengan rekaman file di stasiun kereta api di Seoul, Korea Selatan, Selasa, 19 Oktober 2021. (Foto: AP)
Orang-orang menonton layar TV yang menayangkan program berita tentang peluncuran rudal Korea Utara dengan rekaman file di stasiun kereta api di Seoul, Korea Selatan, Selasa, 19 Oktober 2021. (Foto: AP)

PM Jepang Fumio Kishida mengatakan kepada wartawan pada Rabu (4/1) bahwa peluncuran itu “benar-benar disesalkan.” Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan, yang mengadakan pertemuan darurat, juga menyatakan keprihatinannya dan menekankan perlunya segera memulai kembali pembicaraan dengan Korea Utara.

Uji coba itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Kim menyampaikan pidato akhir tahun yang memberi beberapa isyarat mengenai arah kebijakan luar negeri Korea Utara tahun ini. Meskipun Kim lebih banyak berfokus pada rencana untuk meningkatkan ekonomi negaranya, ia juga berjanji akan terus memperkuat pertahanan nasional untuk menghadapi situasi internasional yang “tidak stabil.”

Pernyataan ini menunjukkan Kim memberi “sinyal untuk melanjutkan provokasi,” cuit Jean Lee dari Wilson Center, organisasi riset berbasis di Washington.

Akan tetapi tidak jelas seberapa jauh Kim bersedia melakukan provokasi. Sejak 2017, Korea Utara telah menahan diri untuk tidak meluncurkan misil jarak jauh atau melakukan uji coba nuklir, yang berisiko menghadapi tanggapan tegas dari AS.

Korea Utara dilarang melakukan aktivitas misil balistik, termasuk meluncurkan misil berdaya jelajah berapapun, oleh serangkaian resolusi Dewan Keamanan PBB. Tetapi sejak 2019, AS tidak membesar-besarkan peluncuran misil jarak pendek Korea Utara, kemungkinan untuk mempertahankan kemungkinan mengadakan pembicaraan kelak.

Korea Utara telah mengabaikan tawaran berulang kali dari AS untuk memulai kembali perundingan, dengan menyatakan Washington harus terlebih dulu meninggalkan “kebijakan bermusuhannya.”

Pada berbagai kesempatan, Korea Utara telah menuntut AS agar mengakhiri latihan militer gabungan dengan sekutunya, Korea Selatan. Korea Utara juga meminta AS agar menarik pasukan dari Semenanjung Korea. AS memiliki sekitar 28 ribu tentara di Korea Selatan – sisa-sisa Perang Korea tahun 1950-an, yang berakhir dengan gencatan senjata, bukannya perjanjian damai.

Pada hari Selasa, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengulangi tawaran AS untuk mengadakan pembicaraan dengan Korea Utara. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG