Tautan-tautan Akses

AS

Korupsi di Kepolisian New York

  • Isa Ismail

para petugas dari unit NYPD anti-teror sedang melakukan patroli di Time Square, New York, 4 November 2016. (Foto: dok).

Kota New York adalah kota terbesar di Amerika dengan penduduk 8, 5 juta orang dan punya kekuatan polisi paling besar di seluruh negara itu, yang disebut New York Police Department (NYPD).

Karena besarnya kekuatan polisi di kota itu dan banyaknya kejahatan yang terjadi, NYPD punya badan khusus untuk menyelidiki dan mengusut perkara-perkara yang menyangkut korupsi dan kejahatan yang dilakukan oleh polisi.

Charles Campisi adalah mantan kepala Internal Affairs Bureau yang mengawasi kegiatan polisi di kota itu. Campisi memegang jabatan itu dari tahun 1996 sampai tahun 2014. Ia punya reputasi sebagai seorang pejabat polisi yang keras, tegas dan tidak pernah korupsi.

Kata sebuah laporan, dalam masa jabatan Campisi itu jumlah warga kota New York yang ditembak atau tertembak, luka atau dibunuh oleh polisi anjlok sebanyak 90 persen, dan jumlah anggota polisi yang gagal dalam tes integritas juga turun ke tingkat paling rendah. Tapi, kata Campisi dalam wawancara dengan stasiun televisi C-Span:

“Selalu saja ada sejumlah kecil polisi yang membuat pusing kepala. Ketika saya menjadi kepala bagian penyidik internal NYPD, saya mengikutsertakan komandan-komandan polisi, dan kami mengadakan pertemuan secara teratur," jelasnya.

"Saya akan bertanya, siapa di antara anak buahmu yang menimbulkan kekhawatiran atau keprihatinan dan tidak bisa membuat kalian tidur nyenyak? Kami akan mengadakan penyelidikan tentang orang-orang itu,” imbuhnya.

Kata Campisi, ia dan timnya mengadakan penyelidikan tentang perilaku polisi yang dicurigai melakukan berbagai pelanggaran peraturan ataupun etika. Sebagian komandan khawatir apabila terlalu banyak bawahannya yang diselidiki, karena hal itu bisa berarti mereka bukan pemimpin yang baik.

“Tapi kami selalu katakan pada mereka, apabila kalian mau bekerjasama dengan Internal Affairs Bureau, kalian justru akan tampak bagus dan tidak akan dikecam,” lanjut Campisi.

Campisi mengatakan ketika dinas penyidik internal itu baru dibentuk pada tahun 1993, kebanyakan Dinas serupa dalam kepolisian di banyak negara hanya bersifat reaktif. Kalau ada keluhan dari masyarakat barulah diadakan penyelidikan.

“Cara itu tidak banyak hasilnya dalam menumpas korupsi dan berbagai pelanggaran yang dikeluhkan masyarakat. Kami memutuskan, supaya ada hasilnya, kami harus lebih pro-aktif. Cara itulah yang membedakan kinerja kami dengan apa yang dilakukan oleh banyak biro-biro penyidik internal polisi lainnya," kata Campisi.

Charles Campisi (Foto: dok).
Charles Campisi (Foto: dok).

Charles Campisi mengatakan, cara orang melakukan korupsi juga berubah. Ketika ia masih menjabat, ia melihat korupsi sistemik berubah menjadi korupsi oportunistik.

“Korupsi sistemik, artinya korupsi yang terjadi di seluruh jajaran kepolisian, baik vertikal maupun horisontal, pada dasarnya telah berhasil ditumpas. Saya bisa mengatakan bahwa ketika saya menjabat, saya tidak lagi melihat adanya korupsi yang sistemik,” lanjutnya.

Tapi, tambah Campisi, kini ada pertumbuhan korupsi yang oportunistik, yaitu orang-orang terlibat korupsi karena adanya kesempatan untuk melakukan hal itu. Korupsi jenis ini sangat sulit diberantas, kata Campisi lagi. (ii)

Sumber: c-span, Wikipedia​

XS
SM
MD
LG