Tautan-tautan Akses

Korban Pemerkosaan di India Meninggal di RS Singapura


Rumah Sakit Mount Elizabeth tempat korban pemerkosaan beramai-ramai di India dirawat (27/12). (Reuters/Edgar Su)
Rumah Sakit Mount Elizabeth tempat korban pemerkosaan beramai-ramai di India dirawat (27/12). (Reuters/Edgar Su)

Korban pemerkosaan di New Delhi, yang memicu demonstrasi anti pemerkosaan di seluruh India, meninggal dunia akibat luka parah yang dideritanya.

Perempuan India berusia 23 tahun yang diperkosa beramai-ramai dan dipukuli dengan brutal dalam bus yang bergerak di New Delhi meninggal dunia Sabtu (29/12) di sebuah rumah sakit Singapura.

Ia “meninggal dengan damai” didampingi keluarga dan para pejabat kedutaan besar India,” ujar Dr. Kevin Loh, eksekutif kepala Rumah Sakit Mount Elizabeth, tempat ia dirawat sejak Kamis.

“Tim dokter, perawat dan staf Rumah Sakit Mount Elizabeth berduka cita atas kehilangan keluarganya,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Loh mengatakan perempuan tersebut berada dalam kondisi sangat kritis sejak Kamis, ketika ia diterbangkan ke Singapura dari India.

“Meski tim beranggotakan delapan spesialis di rumah sakit ini telah berupaya membuatnya stabil, kondisinya terus memburuk selama dua hari terakhir. Ia menderita gagal organ parah menyusul luka-luka serius di tubuh dan otaknya. Ia sungguh berani memperjuangkan nyawanya sekian lama namun trauma di tubuhnya terlalu berat untuk diatasi.”

Perempuan dan kawan laki-lakinya itu, yang tidak pernah diidentifikasi, naik bus umum setelah menonton film pada 16 Desember malam, ketika mereka diserang oleh enam pria yang memperkosa perempuan itu bergantian. Mereka juga memukuli pasangan tersebut dan memasukkan batang besi ke tubuh perempuan itu sehingga menyebabkan kerusakan organ yang parah. Pakaian keduanya kemudian dilucuti dan dilemparkan dari bus, menurut laporan polisi.

Polisi India telah menahan enam orang penyerang, yang telah menyebabkan korban luka dalam parah, infeksi paru-paru dan kerusakan otak. Ia juga mengalami serangan jantung ketika dirawat di rumah sakit di India.

Komisioner Tinggi India, atau duta besar, T.C.A. Raghanvan memberitahu wartawan bahwa skala luka yang diderita korban “sangat parah” dan pada akhirnya “terlalu membebani.”

Ia mengatakan bahwa pemerintah sedang mengurus pengiriman jenazahnya kembali ke India.

Beberapa ahli medis India mempertanyakan keputusan untuk membawa perempuan tersebut ke Singapura, dengan menyebutnya manuver yang berisiko mengingat keseriusan lukanya. Mereka mengatakan ia telah menerima perawatan terbaik di India.

Tingkat kekejian kejahatan tersebut telah mengejutkan warga India. Ribuan warga telah berdemonstrasi setiap hari, menuntut perlindungan lebih besar untuk perempuan dan hukuman mati bagi pemerkosaan, yang sekarang memiliki hukuman maksimum penjara seumur hidup. Perempuan menghadapi pelecehan setiap hari di seluruh negeri, mulai dari digoda dengan kata-kata, digerayangi dan dipegang di kendaraan umum sampai diperkosa.

Banyak warga yang merasa frustrasi karena lemahnya pemerintahan dan buruknya kepemimpinan dalam menngatasi masalah sosial dan ekonomi. Banyak demonstran yang mengeluh pemerintahan Perdana Menteri Manmohan Singh kurang bergerak untuk mengatasi penyiksaan terhadap perempuan di negara berpenduduk 1,2 miliar tersebut.

Sebuah jajak pendapat global oleh Thomson Reuters Foundation Juni lalu menemukan bahwa India merupakan tempat terburuk untuk perempuan karena tingginya pembunuhan bayi, pernikahan anak-anak dan perbudakan.

New Delhi memiliki tingkat kejahatan seksual tertinggi di antara kota-kota besar di India, dengan pemerkosaan dilaporkan setiap 18 jam, menurut data polisi. Data pemerintah menunjukkan bahwa kasus pemerkosaan yang dilaporkan di negara tersebut naik hampir 17 persen antara 2007 dan 2011.

Sayangnya, perempuan yang menghadapi kejahatan seksual seringkali disalahkan, yang memaksa mereka untuk tetap diam dan tidak melaporkannya pada pihak berwenang karena takut mempermalukan keluarga. Selain itu, polisi juga seringkali menolak menerima pengaduan dari mereka yang cukup berani melaporkan pemerkosaan dan proses pengadilan juga jarang terjadi serta bisa berlangsung bertahun-tahun.

Politisi dan pembuat opini seringkali menyarankan perempuan tidak keluar malam atau memakai baju yang provokatif. Beberapa politisi dikecam karena berkomentar menghina para demonstran dan meremehkan kejahatan tersebut.

Sementara itu, pihak berwenang di Punjab mengambil tindakan Kamis ketika seorang perempuan berusia 18 tahun bunuh diri sebulan setelah ia memberitahu polisi bahwa ia diperkosa beramai-ramai. Pemerintah setempat menskors satu orang polisi dan memecat dua lainnya karena dugaan menunda investigasi dan tindakan untuk kasus tersebut.

Press Trust of India melaporkan bahwa peremuan tersebut diperkosa pada 13 November dan melaporkan pada polisi 27 November, namun polisi melecehkan gadis muda tersebut, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang memalukan dan tidak bertindak terhadap penyerang. (AP/Reuters)
XS
SM
MD
LG