Tautan-tautan Akses

Desak Ketegasan Kongres AS, Ribuan Siswa Turun ke Jalan


Sedikitnya tiga ribu siswa dari berbagai sekolah memadati Capitol Hill di Washington DC Rabu (14/3) menuntut tindakan lebih tegas untuk memperketat UU Kepemilikan Senjata Api. (VOA/Eva Mazrieva)
Sedikitnya tiga ribu siswa dari berbagai sekolah memadati Capitol Hill di Washington DC Rabu (14/3) menuntut tindakan lebih tegas untuk memperketat UU Kepemilikan Senjata Api. (VOA/Eva Mazrieva)

Ribuan siswa Amerika keluar dari ruang-ruang kelas mereka Rabu pagi (14/3) memprotes ketidakmampuan Kongres memerangi aksi kekerasan senjata api dengan aturan yang lebih tegas. Ini merupakan aksi terbesar pasca penembakan di sebuah SMA di Parkland, Florida, yang menewaskan 17 orang.

“What do we want? Gun control! When do we want it? Now!”

Itulah tuntutan ribuan siswa yang memadati jalan-jalan di berbagai kota di Amerika hari Rabu (14/3), termasuk di ibukota Washington DC, khususnya di depan Gedung Putih dan Capitol Hill atau gedung Kongres. Dengan membawa poster dan spanduk berukuran besar, para siswa menuntut Kongres agar berani mengambil tindakan lebih tegas dengan merevisi aturan kepemilikan senjata api, guna mencegah terulangnya insiden penembakan di sekolah dan fasilitas publik lainnya.

Dengan membawa poster dan spanduk berukuran besar, para siswa menuntut Kongres agar berani mengambil tindakan lebih tegas dengan merevisi aturan kepemilikan senjata api.
Dengan membawa poster dan spanduk berukuran besar, para siswa menuntut Kongres agar berani mengambil tindakan lebih tegas dengan merevisi aturan kepemilikan senjata api.

Eric Lowe, siswa sebuah SMA di Maryland mengatakan meskipun sekolahnya sudah melakukan hal terbaik untuk mengamankan sekolah, ia tetap gugup setiap kali berangkat ke sekolah.

“Sekolah saya melakukan upaya luar biasa (untuk mengamankan siswa) tetapi masih banyak hal yang bisa kita lakukan. Saya merasa gelisah setiap hari. Saya kira merupakan hal yang memalukan bahwa Kongres tidak melakukan apa-apa. Jujur saja, ini menyedihkan! Saya bingung mengapa mereka memperlakukan kami begini,” kata Lowe.

Hal senada disampaikan seorang siswa lain dari SMA di Virginia.

“Sejujurnya sangat mengecewakan melihat mereka (Kongres.red) gagal bertindak. Bukan pertama kali insiden penembakan terjadi. Ada penembakan di Columbine, Sandy Hook, Las Vegas dan kini di Parkland. Begitu banyak penembakan terjadi dan kami menuntut perubahan sekarang juga. Kegagalan Kongres untuk melakukan sesuatu, sangat mengecewakan,” ujar Omar Faruki.

Para siswa mengaku sangat kecewa melihat Kongres AS gagal bertindak lebih tegas. (VOA/Eva Mazrieva)
Para siswa mengaku sangat kecewa melihat Kongres AS gagal bertindak lebih tegas. (VOA/Eva Mazrieva)

Trump Surut Langkah soal Peningkatan Batas Usia Kepemilikan Senjata Api

Satu minggu pasca penembakan di SMA Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, 14 Februari lalu, yang menewaskan 17 orang; Presiden Donald Trump sempat mengatakan akan mendukung peningkatan batas usia kepemilikan senjata api dari 18 tahun menjadi 21 tahun. Tetapi sikapnya berubah setelah usulan itu ditentang Asosiasi Senjata Api Amerika NRA, yang juga merupakan salah satu kelompok lobby paling kuat di Amerika. Trump, lewat Menteri Pendidikan Betsy DeVos, bahkan menyerukan untuk mempersenjatai guru dan pegawai administrasi di sekolah.

Dalam wawancara dengan NBC, DeVos mengatakan, “Sekolah seharusnya memiliki piranti jika mereka ingin menggunakannya. Komunitas sedianya juga memiliki piranti, demikian pula pemerintah negara bagian. Tidak seorang pun diberi mandat untuk melakukannya… Saya kira sekolah seharusnya dilindungi sebagaimana tempat-tempat berkumpul berskala besar. Kita melindungi stadion, bioskop, bandara; jadi kita juga perlu memastikan bahwa sekolah terlindung dengan cara yang sama karena memiliki aset paling berharga, yaitu para siswa, anak-anak kita.”

Demonstrasi Berlangsung di Sekolah dan Jalan

Aksi demonstrasi di hampir seluruh kota di Amerika hari Rabu berlangsung dengan beragam cara. Di kebanyakan kota, para siswa keluar dari sekolah tepat jam 10 pagi, berunjukrasa di depan sekolah selama 17 menit, termasuk mengheningkan cipta bagi para korban penembakan di sekolah. Sebagian siswa lainnya turun ke jalan-jalan menuju ke badan pengambil keputusan di kota masing-masing. Sebagian sekolah mendukung aksi ini, namun tidak sedikit yang melarang dan bahkan memberlakukan sanksi bagi siswa yang keluar sekolah untuk berdemonstrasi.

Sejumlah Anggota Kongres Temui Siswa yang Unjuk Rasa di Capitol Hill

Sementara sekitar tiga ribu siswa berunjukrasa dengan berjalan kaki dari Gedung Putih menuju ke Capitol Hill. Di Kongres mereka diterima oleh sejumlah anggota Kongres, terutama yang berasal faksi Demokrat, antara lain: Nancy Pelosi, Elizabeth Warren, Bernie Sanders, Nancy Pelosi, Keith Ellison dan pemimpin minoritas Senat Chuck Schumer.

Senator Bernie Sanders dalam pidatonya mengucapkan terima kasih kepada para siswa yang sudah membawa isu itu ke Gedung Putih dan menyatakan keberanian menentang aksi kekerasan senjata api.

“Di seluruh Amerika orang sudah jemu dan muak dengan kekerasan senjata api, dan inilah waktunya bagi kita semua untuk bersama-sama bangkit dan menggunakan akal sehat kita. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas keberanian, kecerdasan, dan upaya memimpin bangsa ini ke arah yang benar,” tandas Sanders.

Senator Elizabeth Warren menemui para siswa yang melakukan unjuk rasa di Capitol Hill, Rabu 14/3. (Foto: VOA/ Eva Mazrieva)
Senator Elizabeth Warren menemui para siswa yang melakukan unjuk rasa di Capitol Hill, Rabu 14/3. (Foto: VOA/ Eva Mazrieva)

Sementara Senator Elizabeth Warren, dalam wawancara dengan VOA, menyalahkan National Riffle Association – organisasi senjata api – yang juga kelompok lobby paling kuat di Kongres, atas kegagalan Kongres meloloskan aturan hukum yang lebih tegas.

"NRA telah menyandera Kongres selama bertahun-tahun. Anak-anak muda ini telah membebaskan kita untuk mengatakan ‘kamu tidak berada disini (di Kongres.red) untuk kepentingan kelompok lobby senjata api, kamu berada disini untuk bekerja demi rakyat Amerika. Dan saya yakin mereka akan memimpin kita. Mereka membuat perubahan luar biasa dalam demokrasi kita. Mereka memastikan bahwa demokrasi adalah tentang bagaimana mendengar suara rakyat. Bukan juga mendengar suara kelompok lobby. (Apa yang membuat demonstrasi kali ini berbeda dengan sebelumnya?) Kali ini anak-anak muda yang melakukannya, mereka yang nyawa dan masa depannya menjadi taruhan. Itulah alasan mereka berada disini. Teman-teman mereka, dan bahkan mereka sendiri yang menghadapi risiko. Dan… mereka bersuara sangat lantang tidak seperti yang lain,” tegas Warren.

Desak Ketegasan Kongres, Ribuan Siswa Turun ke Jalan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:06:48 0:00

Florida Ubah Aturan Kepemilikan Senjata Api, NRA Blokir Perubahan Aturan

Anggota-anggota Kongres di negara bagian Florida pekan lalu telah mengeluarkan aturan yang meningkatkan batasan usia untuk memiliki senjata api dari 18 menjadi 21 tahun. Namun NRA dengan cepat mengajukan gugatan hukum untuk memblokir perubahan aturan itu.

Siswa Siap Berdemonstrasi Lagi 24 Maret Nanti

Aksi unjuk rasa yang disebut “National Walkout” dan berlangsung dari Michigan hingga ke Maryland, dari Colorado hingga ke California, dari negara bagian Washington ke ibukota Washington DC ini merupakan “pemanasan” sebelum aksi unjukrasa besar-besaran “March for Our Lives” 24 Maret nanti. [em/jm]

XS
SM
MD
LG