Tautan-tautan Akses

Konflik Tigray di Ethiopia Berkecamuk, Warga Mengungsi ke Sudan 


Konflik yang meningkat di wilayah Tigray yang bergolak di Ethiopia, telah menewaskan ratusan orang, kata sumber di pihak pemerintah. Gejolak di wilayah utara yang berbatasan dengan Eritrea dan Sudan mengancam kestabilan negara terpadat kedua di Afrika ini.
Konflik yang meningkat di wilayah Tigray yang bergolak di Ethiopia, telah menewaskan ratusan orang, kata sumber di pihak pemerintah. Gejolak di wilayah utara yang berbatasan dengan Eritrea dan Sudan mengancam kestabilan negara terpadat kedua di Afrika ini.

Uni Afrika (AU) menyerukan gencatan senjata di Ethiopia utara di mana pasukan federal yang memerangi penguasa setempat di Tigrayan, Selasa (10/11) dilaporkan telah merebut bandara sementara pasukan regional mengendalikan pangkalan militer pemerintah.

Sekitar 2.500 warga Ethiopia telah melarikan diri dari pertempuran itu ke negara tetangganya Sudan, dan eksodus pengungsi diperkirakan akan membengkak, kata seorang pejabat di sana.

Ratusan orang tewas akibat serangan udara dan pertempuran dalam konflik yang meningkat, yang dikhawatirkan sebagian pihak bisa menjerumuskan negara itu ke dalam perang saudara, mengingat permusuhan yang mendalam antara warga Tigrayan dan Perdana Menteri Abiy Ahmed, yang berasal dari kelompok etnis Oromo yang terbesar di negara itu.

Berbagai pasukan Tigrayan menyerah selama bandara Humera direbut, dekat perbatasan dengan Sudan dan Eritrea, sementara militer juga merebut jalan yang mengarah dari kota ke perbatasan Sudan, demikian dilaporkan kantor penyiaran Fana yang berafiliasi dengan pemerintah.

Kantor Berita Ethiopia memposting foto yang dikatakan, menunjukkan tentara federal, didukung oleh pasukan dari wilayah tetangga Amhara, di bandara.

Namun, kantor komunikasi pemerintah setempat mengatakan warga Humera menjalani kehidupannya dengan normal, tanpa mengomentari status bandara tersebut.

Media asing, Selasa tidak mendapat akses menuju Tigray dan kantor berita Reuters tidak bisa mengonfirmasi laporan tersebut dengan ditutupnya layanan telepon dan internet. Belum ada tanggapan dari Tigray People's Liberation Front (TPLF), yang mengatur negara bagian berpenduduk lebih dari 5 juta orang itu.

Abiy, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 2019, memerintahkan serangan udara dan mengirim pasukan ke Tigray pekan lalu setelah menuduh TPLF menyerang pangkalan militer. Warga Tigray mengatakan pemerintah Abiy menindas dan mendiskriminasi mereka dan berperilaku otoriter dalam menunda pemilihan nasional. [my/lt]

XS
SM
MD
LG